
Pak Yuda menoleh pada istrinya yang duduk di sebelahnya lalu pak Yuda menatap Abi lagi dan berkata padanya.
"Bi, bagaimana kalau om Hendra tahu tentang pernikahan kamu dan Reyna!?" tanya pak Yuda khawatir.
"Biar saja om Hendra tahu pa, karena memang itu yang aku inginkan supaya dia tidak memaksa aku untuk menikahi Mala lagi," ucap Abian.
"Tapi Bi...bagaimana kalau nanti om Hendra marah pada keluarga kita dan.... melakukan sesuatu yang tidak kita inginkan," Bu Dewi mulai panik.
"Ma, mama tenang saja aku akan berusaha untuk membayar semua hutang Budi papa pada om Hendra," kata Abi pada Bu Dewi.
"Tidak semudah itu Bi, meskipun kamu sudah membayar semua hutang-hutangnya papa pada om Hendra tetap saja dia tidak akan mau kalau permintaannya tidak di setujui," ucap pak Yuda sambil menghela nafas dalam-dalam.
"Papa tenang saja semua akan Abi hadapi dan selesaikan sendiri."
"Kamu jangan gegabah Abi, om Hendra itu punya kuasa dan dia bisa melakukan apapun yang dia mau," pak Yuda memperingatkan Abian.
"Ya aku tahu itu pa."
__ADS_1
"Bi, kamu harus benar-benar berhati-hati menghadapi om Hendra," pinta Bu Dewi pada Abi.
"Iya ma," jawab Abi.
"Jadi mama dan papa setuju kalau aku menikah dengan Reyna secara dadakan?" tanya Abi pada papa dan mamanya.
Bu Dewi dan pak Yuda saling pandang sesaat, lalu pak Yuda menganggukkan kepalanya perlahan pada Bu Dewi dan Bu Dewi juga.
"Baiklah Bi, kalau memang itu yang terbaik buat kamu dan Reyna, papa dan mama mendukung kalian," ujar pak Yuda menatap Abi dan Reyna bergantian.
Abi tersenyum bahagia sambil menoleh pada Reyna yang juga mengulas senyumnya meski masih tampak raut kekhawatiran di wajahnya.
"Besok pagi kalian menikah langsung di KUA saja papa akan menghubungi teman papa yang jadi penghulu di sana," lanjut pak Yuda pada Abi dan Reyna.
"Iya pa," ucap Abi.
Abi menoleh pada Reyna tersenyum lega dan begitu pun hal nya dengan Reyna dia sudah bisa mengulas senyumnya sekarang.
__ADS_1
Reyna merasa lega karena apa yang dia khawatirkan tidak terjadi karena papa dan mama Abian menyetujui pernikahan dadakan antara dirinya dan Abian.
Meski masih ada terselip sedikit perasaan khawatir jika keluarga Mala mengetahui akan pernikahan dirinya dan Abian.
Sementara malam ini Beno memaksa Mala untuk secepatnya menemukan keberadaan anak mereka.
"Masih jauh ini!?" tanya Beno pada Mala sambil tetap fokus menyetir.
"Di depan sana nanti ada perempatan dan kamu lurus saja ke sana terus belok kiri dan masuk sedikit ke dalam sebuah gang kecil," ujar Mala menunjukkan jalannya pada Beno.
Lalu dengan antusias Beno mengemudikan mobilnya menuju ke arah yang di tunjukkan Mala tadi.
Dan benar saja tak lama akhirnya Beno menghentikan mobilnya di depan sebuah gang kecil.
Kemudian mereka berdua pun menyusuri gang kecil itu dan sampailah mereka di sebuah rumah kecil sangat sederhana sekali.
Belum sempat mereka mengetuk pintu rumah itu tiba-tiba keluar seorang anak laki-laki kecil sekitar umur dua tahunan.
__ADS_1
Mala dan Beno tercengang melihat anak laki-laki kecil itu.
"Anak ini mirip sekali dengan Beno," batin Mala sambil terus menatap anak itu tanpa kedip.