
"Begini Yuda, anakku Mala saat ini sedang terancam hidupnya oleh kehadiran mantan pacarnya yang bernama Beno dan sekarang Beno itu malah bekerja di perusahan di mana Mala bekerja di sana dan dia sempat mengancam pada Mala kalau dia tidak akan percaya pada hubungan Mala dan Abian kalau mereka tidak sampai menikah, jadi.... di sini aku benar-benar meminta bantuan kamu untuk bisa menikahkan Abian dengan Mala," ujar pak Hendra menatap pak Yuda menunggu jawaban.
Pak Yuda terdiam lantas dia menoleh pada Bu Dewi istrinya dan terlihat Bu Dewi menggelengkan kepalanya dengan perlahan seperti memberi isyarat pada pak Yuda.
Pak Yuda menatap pak Hendra dan lalu dia berkata pada pak Hendra " Mmm ... Hendra aku harus bicarakan hal ini dulu dengan Abian, masalahnya aku gak bisa memberikan keputusan secara sepihak tanpa persetujuan dari dia," ucap pak Yuda.
"Tapi kan kamu orang tuanya Yuda kamu kan berhak memutuskan apapun tanpa persetujuan dari anakmu," ucap pak Hendra dengan mengerutkan alisnya.
"Masalahnya Abi itu sudah punya pacar Ndra, jadi kan aku gak bisa seenaknya mengambil keputusan apalagi ini menyangkut hal yang sakral," ujar pak Yuda kekeh.
"Kamu harus bisa bantu aku Yuda itung-itung sebagai ganti sewaktu aku dulu pernah bantu kamu ketika usahamu mengalami kebangkrutan," pak Hendra masih memaksa.
"Iya aku memang punya hutang budi sama kamu dan Mala tapi...untuk yang satu ini aku harus pikirkan dengan sungguh-sungguh Hendra."
"Baiklah aku kasih kamu waktu tiga hari dan aku gak mau tahu, aku harus bisa mendapatkan jawabannya dengan segera kalau tidak nanti kamu akan tahu sendiri akibatnya," pak Hendra mulai naik pitam dan mengancam pada pak Yuda.
__ADS_1
"Tenang Hendra, aku akan cari cara dulu kamu yang sabar dulu," kata pak Yuda.
"Ya, pokoknya aku kasih waktu tiga hari itu dan aku harus sudah menerima. keputusan dari kamu titik!"
Pak Hendra bangkit dari tempat duduknya dan begitu juga dengan istrinya Bu Vita.
"Aku pulang Yuda," ucap pak Hendra sambil melangkah bersama istrinya.
"iya," jawab pak Yuda yang mengikuti pak Hendra dan istrinya dari belakang begitu juga dengan Bu Dewi ikut juga mengantar ke depan.
"Pa, sepertinya Hendra tadi agak marah karena kita gak langsung ngasih keputusan soal permintaannya itu," ucap Bu Dewi pada pak Yuda.
"Iya ma, sepertinya begitu," ujar pak Yuda.
"Terus bagaimana ini pa?" tanya Bu Dewi agak panik.
__ADS_1
"Mama tenang dulu nanti kita bicarakan pelan-pelan soal ini pada Abian."
"Papa yakin Abi mau?" tanya Bu Dewi sambil menaikkan kedua alisnya menatap pak Yuda.
"Aku juga gak tahu ma, tapi kalau misalkan kita ngomong soal balas budi mungkin Abian bisa mengerti ma."
"Aku gak yakin pa," ucap Bu Dewi sambil mengerutkan kedua alisnya.
"Kita tunggu saja nanti ma setelah Abian pulang kerja."
"Iya pa," kemudian mereka berdua pun masuk ke dalam rumah.
Di dalam ruangan Reyna terlihat Beno sedang duduk-duduk di kursi sofa yang ada di dalam ruang kantor Reyna.
"Oh ya Rey, kamu.....teman dekatnya Mala ya?" tanya Beno pada Reyna.
__ADS_1