Dua Cinta Untuk Abian

Dua Cinta Untuk Abian
Bab. 47


__ADS_3

"Hufghhh...dasar pak Dewa," cibir Mala pada Dewa yang sudah berlalu pergi dari hadapan nya itu.


Mala menggerakkan bibirnya ke kanan dan ke kiri sambil memicingkan netranya seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Mmm ... bagaimana kalau aku kabari Reyna ya, terus dia kan akan telpon Abian terus kan Reyna pasti tanya rumah sakitnya, ah Mala memang cerdas," ujar Mala yang kemudian berjalan menuju ke ruangan Reyna.


"Rey! Reyna.!" panggil Mala sambil mengetuk daun pintu ruang kantor Reyna.


Reyna yang sedang mengerjakan pekerjaan nya agak kaget mendengar panggilan Mala yang terkesan buru-buru.


Kemudian Reyna menghentikan tangannya yang sedang mengetik di keyboard komputer nya, lalu dia menyuruh Mala masuk.


"Masuk Mala," ucap Reyna dari dalam ruang kantornya.


Lalu Mala segera membuka pintu ruang kantor Reyna dan bergegas masuk ke dalam.


"Rey," Mala berjalan mendekat ke arah Reyna yang masih belum beranjak dari kursi kerjanya.


"Ada apa Mala?" tanya Reyna menatap dengan heran pada Mala.


"Papanya Abi."

__ADS_1


"Kenapa dengan papanya Abi!?" pekik Mala.


"Kecelakaan."


"Apa!! kecelakaan? dimana?" tanya Reyna mulai panik.


"Aku gak tahu pasti kecelakaan nya dimana, cuma tadi aku dengar Abian pas ngobrol sama pak Dewa, Abi bilang ke pak Dewa kalau papanya kecelakaan dan sekarang lagi di rawat di rumah sakit," ujar Mala.


"Rumah sakit!? rumah sakit mana?" tanya Reyna lagi.


"Nah itu Rey, aku juga gak tahu di rumah sakit mana papanya Abi di rawat."


"Aduh....gimana ini....," Reyna makin panik sambil menatap Mala.


"Mmm ... gitu ya," Reyna meragu.


"Iya Rey, kan teman-teman pada mau jenguk ini," Mala berbohong dengan meyakinkan Reyna.


"Mmm ... sebenarnya kalau telpon sekarang sepertinya gak mungkin ya soalnya kan Abian masih sibuk ngurusin papanya," ujar Reyna.


"Atau....kamu WhatsApp aja Abi, kan gak menganggu kayaknya," Mala sedikit memaksa pada Reyna.

__ADS_1


"Iya ya aku WhatsApp aja kali ya biar gak mengganggu Abian," ucap Reyna.


Lalu Reyna mengambil gawai pipih persegi panjang miliknya itu dan mulai WhatsApp ke Abian.


Sementara Abian yang sedang dalam perjalanan menuju ke rumahnya dengan sedikit panik tapi dia berusaha untuk tetap tenang supaya keadaan tidak menjadi lebih buruk, Abian melaju dengan kencang melesat melewati keramaian jalan raya dan tentu saja tak berapa lama kemudian dia pun sudah sampai di rumahnya.


Abian langsung memarkir mobilnya di halaman rumah dan dengan bergegas dia keluar dari mobilnya berlari masuk ke dalam rumahnya mencari mamanya.


"Ma, mama....!"panggil Abian memanggil Bu Dewi.


Bu Dewi yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan Abian langsung beranjak dari tempat duduknya ketika mendengar suara Abian memanggil-manggil.


"Ma," Abian mendekati Bu Dewi.


"Bi, papa.....," ujar Bu Dewi menghambur ke dalam pelukan Abian dan menangis dengan keras dalam pelukan putra sulungnya itu.


"Ma, mama yang tenang ya mudah-mudahan papa tidak apa-apa, mama jangan nangis lagi ya, kalau begitu kita segera berangkat ke rumah sakit ya ma," ajak Abian masih memeluk mamanya.


Bu Dewi menganggukkan kepalanya, kemudian Abian membimbing mamanya berjalan menuju ke arah mobil yang di parkir di halaman depan rumah.


"Bik, saya dan mama ke rumah sakit dulu ya Bik," pamit Abian pada bibik yang mengikuti dirinya dan mamanya dari belakang.

__ADS_1


"Iya den, hati-hati di jalan dan mudah-mudahan bapak baik-baik saja ya den," ucap bibik ikut prihatin kelihatan dari raut wajahnya yang sedih.


"Iya Bik, amin."


__ADS_2