Dua Cinta Untuk Abian

Dua Cinta Untuk Abian
Bab. 17


__ADS_3

"Mala!?" pekik Abian keheranan.


Bu Dewi jadi tercengang lagi melihat sikap Abian yang kembali menegang setelah mendengar Mala yang datang mencarinya tadi.


"Kamu ini kenapa sih Bi, dari tadi kok terkaget-kaget seperti itu," ujar Bu Dewi penuh heran melihat sikap Abian.


"Eee .... gak apa-apa ma, cuma Abian gak nyangka aja," ujar Abian mencoba mengalihkan perhatian mamanya.


"Kelihatannya Mala baik ya Bi?" kata Bu Dewi lagi.


Abian tidak menjawab pertanyaan mamanya dia hanya mengerucutkan bibirnya sambil berjalan menuju ke arah meja makan.


"Kok kamu diam saja Bi?" kata Bu Dewi sambil mengikuti Abian dari belakang.


"Mmm ... iya ma, Mala baik," ucap abian sambil menarik kursi meja makan dan duduk di sana.


"Kalian ngomongin apa sih?" tanya pak Yuda papanya Abian yang sedari tadi duduk di meja makan dan mendengar percakapan Abian dan Bu Dewi istrinya.

__ADS_1


"Ini loh pa, tadi kan ada teman nya Abi namanya Mala dia tadi datang ke sini mencari Abian dengan membawa oleh-oleh rendang kesukaan Abian dan rendang itu ternyata masakannya sendiri loh pa," ujar Bu Dewi menjelaskan pada pak Yuda suaminya sembari mengambil tempat duduk di samping pak Yuda.


"Oh...," kata pak Yuda sambil manggut-manggut menatap Bu Dewi istrinya.


"Kok oh aja sih pa, gak ada komentar yang lain gitu?" kata Bu Dewi dengan cemberut.


Pak Yuda mengerti kalau istrinya lagi kesal, lalu dengan halus pak Yuda berkata pada Bu Dewi.


"Kalau menurut mama Mala itu baik, ya bagus kan ma itu artinya teman Abi adalah orang-orang yang baik, iya kan ma?"


"Nah gitu dong pa....," ujar Bu Dewi agak lega.


"Kalau menurut kamu, bagaimana Mala itu Bi?" tanya Bu Dewi lagi karena Abian sepertinya tidak peduli.


"Ya, baik Mala orangnya baik," kata Abian sambil terus mengunyah makanannya.


"Bi, selama ini kamu kan gak pernah memperkenalkan seorang wanita sebagai pacar kamu pada papa dan mama," kata Bu Dewi menyelidik pada Abian.

__ADS_1


"Ya terus kenapa ma?" Abi balik tanya pada mamanya.


"Menurut mama .... Mala itu pantes juga loh kalau jadi pacar kamu, ya kan pa," Bu Dewi menoleh pada pak Yuda meminta dukungan.


"Ah, mama ada-ada saja, Abi masih gak kepikiran ke sana ma," kata Abian menghentikan makannya dan melihat ke arah mamanya.


"Bi ... kamu kan udah cukup untuk memikirkan ke arah sana, lagian papa dan mama ini sudah tidak muda lagi dan kepingin melihat kamu mempunyai seseorang yang spesial dalam hidup kamu."


"Ya ma, pasti Abi akan pikirkan itu nanti."


"Nanti kapan Bi....?" tanya Bu Dewi dengan kesal.


"Ma.... sudahlah biarkan Abian menentukan pilihannya sendiri, nanti juga pasti akan di kenalkan pada kita," pak Yuda menimpali Bu Dewi dan membuat Abian bisa bernafas lega dari berondongan pertanyaan mama nya.


"Iya iya tapi sampai kapan pa...." ujar Bu Dewi masih dengan nada kesal.


"Sabar aja ma, kita doakan saja Abian mendapat seseorang yang sesuai dengan hatinya," kata pak Yuda mencoba menenangkan istrinya.

__ADS_1


Bu Dewi menghela nafas panjang sambil melihat ke arah Abian yang duduk di depannya.


__ADS_2