Dua Cinta Untuk Abian

Dua Cinta Untuk Abian
Bab. 104


__ADS_3

"A- anak itu aku serahkan pada keluarga orang yang ada di kampung sana," ujar Mala terbata karena takut amarah Beno akan semakin meledak.


Dan benar saja setelah mendengar penuturan dari Mala, darah Beno mulai naik sampai ke ubun-ubun, matanya membola dengan sangat sempurna seakan keluar dari cangkangnya dan kedua tangannya mengepal menahan amarah yang memuncak.


"Kamu!!! Kamu benar-benar keterlaluan Mala!! dia itu anak kandung mu sendiri darah daging mu kenapa kamu membuangnya hah!!?" Beno meraih leher Mala dan hampir mencekiknya.


"A- aku terpaksa melakukan itu karena mama dan papa tidak setuju kalau aku punya anak dari kamu," ucap Mala sambil menangis.


"Kamu dan keluargamu memang sama-sama tidak punya hati!!! Ibu macam apa kamu Mala yang tega membuang anaknya sendiri hah!!!!"


"Semua juga karena salah kamu Beno!!! Kamu terlalu temperamen sama aku, aku benci kamu!!! aku benci....!!!"


Beno menatap Mala masih dengan wajah penuh amarah "Aku temperamen karena banyak alasannya," ucap Beno sambil mengangkat dagu Mala dengan tangan kanannya.


"Alasan apa!!?" Mala melepaskan tangan Beno yang mengangkat dagunya tadi.


"Alasannya,karena papa dan mama mu selalu bersikap merendahkan aku karena mereka menganggap aku tidak sederajat dengan kamu!!" ujar Beno.

__ADS_1


Mala terdiam sesaat dia sadar memang selama ini orang tua Mala selalu menghina Beno karena kasta mereka sangat berbeda.


Tapi Beno berusaha bersabar sampai akhirnya kesabaran itu sudah tidak dapat di bendungnya lagi dan pelampiasannya adalah perubahan sikap temperamen yang menjangkiti Beno saat ini.


"Besok kamu harus tunjukkan padaku di mana anak kita itu!!"ujar Beno sambil melangkah pergi meninggalkan Mala sendiri di dalam ruang kantornya.


Sementara di dalam ruangan Reyna terlihat Reyna sedang melamun memikirkan apa yang di katakan Abi tadi soal pernikahan dadakan dirinya dan Abi.


"Bagaimana ini....aku gak mau kalau nanti terjadi apa-apa sama keluarga Abi kalau rencana pernikahan ini benar-benar terjadi," Reyna bergumam sendiri.


Dan kemudian dia mencari-cari nama Abian di daftar kontaknya lalu dengan ragu ia menyentuh nama Abi yang tertera di layar gawai pipih nya itu.


Reyna memberanikan diri untuk menelpon Abian dan sesaat dia menunggu Abi menerima panggilan telepon darinya.


"Halo Rey, ada apa?" tanya Abi setelah menerima telepon dari Reyna.


"Bi....," Reyna tidak meneruskan kata-katanya.

__ADS_1


Abian menunggu Reyna tapi Reyna masih belum melanjutkan perkataannya sampai akhirnya Abian bertanya lagi pada Reyna.


"Rey, ada apa? kamu mau bicara apa Rey?" tanya Abi penasaran.


Reyna menghela nafas perlahan lalu ia berkata lagi pada Abi " Mmm ... begini Bi, aku minta waktu sehari saja untuk memikirkan permintaan mu soal pernikahan kita itu," ujar Reyna dengan hati-hati sekali.


"Gak bisa Rey, kita tidak punya waktu banyak dan kita harus segera bertindak cepat," kata Abian pada Reyna.


"Tapi Bi....,"


"Rey, demi aku demi cinta kita dan masa depan kita, kamu rela kalau aku harus menikah dengan Mala?" kata Abi dengan sedikit emosi.


Reyna diam tidak menjawab pertanyaan Abi, wajah Abi terlihat sangat marah dan kesal lalu ia menutup teleponnya.


Abi melemparkan ponselnya ke atas meja kerjanya lalu dengan segera ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari ruang kantornya.


Abian berjalan dengan tergesa menuju ke arah ruang kantor Reyna.

__ADS_1


__ADS_2