
Tapi Mala berusaha untuk tetap tenang meski dia sangat ketakutan mendapat ancaman dari Beno.
"Oke!! " jawab Mala berusaha setegar mungkin.
Beno masih mencengkeram lengan Mala, lalu dengan perlahan Beno mendekatkan wajahnya ke muka Mala sambil berkata lagi padanya " Kamu tidak akan pernah lepas dari aku!!" Beno menyeringai menatap Mala.
Mala diam saja tidak menjawab ancaman dari Beno, lalu dengan kasar Beno melepaskan cengkraman tangannya pada Mala.
Lalu Beno membuka pintu mobil dan kemudian keluar dari mobil Mala dan berjalan ke belakang lalu masuk ke dalam mobilnya sendiri dan tak berapa lama mobil Beno pun melaju meninggalkan mobil Mala yang masih diam di tempat itu.
Mala menarik nafas sedalam-dalamnya ketika melihat Beno sudah pergi dari tempat itu.
"Beno tidak akan bohong dengan ancamannya, dia pasti akan melakukan apapun pada aku kalau dia tahu ternyata aku gak jadian sama Abian," Mala bermonolog.
Kemudian dengan segera Mala mengemudikan mobilnya menuju ke arah kantornya.
Setelah memarkir mobilnya di area basemen, Mala kemudian berjalan memasuki gedung kantornya dan setelah tiba di ruang kantornya Mala langsung menghempaskan tubuhnya di atas kursi kerjanya sambil memikirkan sesuatu.
"Brengsek itu si Beno, sempat-sempatnya dia memata-matai aku selama ini," gerutu Mala dengan kesal.
Mala menyandarkan kepalanya di punggung kursi kerjanya sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
"Aku harus pikirkan caranya supaya aku bisa segera menjadi pacar Abian kalau tidak... habis aku di hajar oleh Beno keparat itu," ujar Mala semakin kesal.
Lalu Mala mengambil handphonenya dan mulai memencet nomer Bu Dewi mamanya Abian.
"Halo Tante...," sapa Mala ketika Bu Dewi sudah menerima telpon darinya.
"Iya Mala, ada apa?" tanya Bu Dewi pada Mala.
"Mmm ... sebenarnya ada yang pingin Mala omongin sama Tante, Tante ada waktu?" tanya Mala pada Bu Dewi.
"Ngomong saja Mala gak apa-apa," kata Bu Dewi.
"Boleh, kapan kamu mau ke sini?" tanya Bu Dewi lagi.
"Kalau nanti siang boleh gak Tante?"
"Boleh," ujar Bu Dewi.
"Makasih ya Tante....nanti saya akan ke sana," ujar Mala sambil mengakhiri teleponnya pada Bu Dewi.
Sejenak Bu Dewi terdiam setelah Mala menutup pembicaraan mereka di telpon.
__ADS_1
"Mala ada perlu apa ya, kok sepertinya serius banget dari nada suaranya tadi," gumam Bu Dewi sambil mengerutkan kedua alisnya.
Sementara di dalam ruang kantor Mala, terlihat Mala bernafas dengan lega setelah menelpon Bu Dewi tadi.
"Semoga mamanya Abian nanti bisa aku ajak kerjasama untuk membujuk Abian supaya mau menjadikan aku pacarnya," Mala tersenyum penuh kelicikan.
Sementara di ruang kantor Reyna terlihat dia sedang berkemas untuk istirahat makan siang karena waktu sudah menunjukkan pukul satu siang ini.
Abian juga segera bergegas keluar dari ruang kantornya dan berjalan menuju ke ruang kantor Reyna untuk menjemputnya makan siang.
Dan tak berapa lama kemudian terlihat Reyna dan Abian sedang berjalan bersama menuju ke arah kantin.
"Mala, mau kemana kok seperti terburu-buru gitu?" tanya Reyna ketika melihat Mala yang sedang berpapasan dengan dirinya dan Abi.
"Eh Rey, mmm ... iya ini aku...ada kepentingan jadi harus buru-buru," ucap Mala agak kaget ketika di sapa Reyna.
"Oh iya," ucap Reyna sambil tersenyum.
"Kalau begitu aku duluan ya Rey, Bi," ujar Mala kemudian.
Lalu Mala bergegas pergi meninggalkan Reyna dan Abi.
__ADS_1