
Kemudian Reyna melangkah pergi keluar dari ruang meeting dan hanya tinggal Dewa sendiri yang ada di ruang meeting tersebut.
Dewa menopangkan kedua tangan nya pada dagunya sambil memperhatikan Reyna yang terus menghilang dari pandangan matanya.
"Sulit sekali untuk mendekati kamu Reyna, tapi semakin kamu sulit untuk di dekati semakin penasaran aku untuk terus bisa mendapatkan kamu," gumam Dewa.
Reyna sudah sampai di ruang kantornya, lalu Reyna duduk di kursi kerjanya sambil meletakkan berkas-berkas yang di bawanya tadi pas meeting.
"Kenapa pak Dewa terus saja mendekati aku, pantesan saja kalau Abi mengkhawatirkan aku kalau pas bersama pak Dewa, aku harus bisa jaga diri kalau lagi bersama pak Dewa," Reyna bermonolog.
Sementara di ruangan Abian, Abian sedang memainkan jari jemarinya di atas tuts keyboard komputer nya.
Sejenak Abian melirik pada jam tangan nya yang sudah menunjukkan angka sepuluh lewat tiga puluh menit siang ini.
"Meeting nya apa sudah selesai ya?" Abian bertanya-tanya sendiri.
Lalu Abian menyambar gawai pipih miliknya itu dan mulai mencari nama Reyna di daftar kontaknya dan setelah menemukan nama Reyna kemudian Abian langsung menelpon pacarnya itu.
Reyna kaget mendengar gawai berbentuk persegi panjang miliknya itu sedang berdering, lalu Reyna mengambil gawai itu dan melihat siapa yang menelepon nya dan ternyata yang menelpon dirinya adalah Abian dan dengan segera Reyna menerima panggilan telepon itu.
"Halo Bi, ada apa?" tanya Reyna dengan suara lembutnya yang membuat Abian candu.
"Sudah selesai meeting nya?" Abian balik tanya pada Reyna.
__ADS_1
"Sudah, ini baru aja kelar dan aku baru aja masuk ke ruangan aku," ujar Reyna.
"Membahas soal apa tadi meeting nya?" lanjut Abian.
"Oh itu membahas soal keuangan perusahaan," ujar Reyna.
"Bagaimana dengan keuangannya, aman kan?" lanjut Abian penasaran.
"Aman kok, semuanya masih bisa di kendalikan," tutur Reyna masih di telpon.
"Syukurlah kalau masih aman, aku kira ada sesuatu hal yang sangat genting sampai-sampai kamu harus berangkat pagi sekali tadi."
"Iya, semoga untuk ke depannya akan baik-baik selalu," ujar Reyna.
"Mmm ... terserah kamu aja Bi, aku ngikut," ujar Reyna.
"Mmm ... jangan terserah aku terus dong sayang, untuk kali ini aku minta kamu aja yang nentuin kita lunch di mana," ucap Abian agak memaksa.
"Oh gitu ya, mmm ... di mana ya?" Reyna masih berpikir.
"Aku tahu, makanan favorit kamu sayang," timpal Abian.
"Oh ya, di mana itu Bi?" Reyna jadi tersipu meski tak terlihat tapi terdengar dari suara Reyna.
__ADS_1
"Ayam geprek Bu Siti kan!"pekik Abian antusias.
Terdengar suara Reyna yang tertawa geli di telpon karena tebakan Abian benar tentang makanan kesukaan nya itu.
"Loh kok tertawa, kan benar sayang kamu sukanya ayam geprek Bu Siti kantin belakang kan?" seloroh Abian pada Reyna.
"Iya iya aku memang favorit banget ayam geprek nya bu Siti soalnya pedasnya banget itu," ujar Reyna.
"Ya udah nanti kita makan siang di kantin aja ya," ucap Abian.
"Iya Bi."
"Aku yang nyamperin kamu, atau ...." belum sempat Abian melanjutkan kata-katanya tiba-tiba Reyna sudah menimpalinya.
"Aku saja yang ke tempat mu Bi," ujar Reyna.
"Beneran nih?!" seloroh Abian lagi menggoda Reyna.
"Iyyya.....," jawab Reyna kesal-kesal gemas.
"Oke, aku tunggu ya cantik."
"Iya," jawab Reyna dengan sumringah mendengar pujian dari sang kekasih.
__ADS_1