Dua Cinta Untuk Abian

Dua Cinta Untuk Abian
Bab. 109


__ADS_3

Pagi ini Abian, pak Yuda dan Bu Dewi sudah bersiap hendak menjemput Reyna untuk berangkat ke KUA melangsungkan pernikahan Abian dan Reyna.


Abian mengenakan kemeja warna putih dengan celana berwarna hitam di padu dengan sepatunya yang berwarna hitam juga.


Sementara Reyna mengenakan dress brukat warna putih juga di padu dengan sendal selopnya yang berwarna senada dengan dress yang di kenakan nya dan dengan rambut hitamnya yang ia biarkan tergerai begitu saja.


Abian terpana melihat Reyna yang tampak anggun sekali dengan balutan dress putihnya.


Sesaat Abian memandangi wanita yang sudah menjadi pujaan hatinya tempat cintanya berlabuh itu.


"Kamu tampak anggun dan cantik sekali hari ini Rey ...Maafkan aku Rey, kalau harus menikahi kamu dengan cara yang seperti ini, tapi aku janji akan selalu membahagiakan kamu selamanya sesuai pesan kedua orang tua kamu yang pernah di sampaikan oleh mereka padaku dulu sebelum mereka meninggal dunia," batin Abi terbersit sedikit kesedihan di hatinya karena kondisi ini.


"Sudah siap Bi, ayo segera berangkat," ujar papanya Abi mengejutkan Abian dari lamunannya.


"Mmm ... Iya pa," jawabnya.


Kemudian Abian mengemudikan mobilnya menuju ke kantor KUA setempat.

__ADS_1


Dan setelah beberapa jam dalam perjalanan akhirnya mereka sampai juga di kantor KUA tersebut.


"Ayo Rey turun," ajak Bu Dewi pada Reyna sambil menggamit lengan calon menantunya itu.


"Iya Tante," Reyna bersiap turun dari mobil.


Abian dan pak Yuda sudah turun terlebih dahulu dan mereka menunggu Reyna dan Bu Dewi turun dari mobil.


Kemudian mereka berempat pun berjalan bersama menuju ke ruangan pak Simon, penghulu teman pak Yuda.


Abian dan papanya berjalan beriringan di depan Reyna dan Bu Dewi.


Dada Reyna semakin berdegup kencang ketika mereka sudah berada di depan ruangan pak penghulu.


"Rey, kamu gak apa-apa?" tanya Bu Dewi seperti tahu apa yang sedang Reyna rasakan saat ini.


"Mmm ... gak apa-apa Tante," ujar Reyna sambil tersenyum pada Bu dewi calon mama mertuanya itu.

__ADS_1


"Kamu harus tenang Rey...dulu Tante juga seperti kamu, jantung Tante berdegup dengan sangat kencang sekali saat hari H pernikahan Tante dan om Yuda," cerita Bu Dewi pada Reyna.


"Iya Tante, jantung saya berdetak kencang terus sedari tadi, perasaan sa-ya campur aduk antara bahagia dan was-was," kata Reyna.


"Loh was-was kenapa Rey...?" tanya Bu Dewi sambil memegang lengan Reyna.


"Sa-ya takut kalau keluarga Mala mengetahui akan pernikahan saya dan Abi Tante."


"Kamu....gak usah mikirin soal itu ya, yang penting sekarang acara pernikahan kamu dan Abi berjalan dengan lancar, urusan keluarga Mala biar kita hadapi bersama nanti ya....," Bu Dewi mencoba menenangkan calon menantunya tersebut sambil mengusap-usap tangan Reyna yang di genggam nya.


Hati Reyna sedikit lega mendengar penuturan Bu Dewi, dan dengan perlahan Reyna sudah bisa menguasai dirinya.


Rasa khawatir yang menggelayuti pikiran Reyna perlahan-lahan mulai menghilang dan jantungnya sudah bisa berdegup dengan teratur lagi.


Setelah beberapa menit mereka menunggu akhirnya datang juga seorang laki-laki seumuran pak Yuda menghampiri tempat mereka duduk.


"Yuda...!!" sapa laki-laki itu sambil mendekat ke arah pak Yuda.

__ADS_1


"Simon...., apa kabar kamu!!?" pekik pak Yuda pada orang itu sambil tersenyum bahagia.


Lalu kedua orang itupun berpelukan sambil saling menepuk punggung mereka satu sama lain.


__ADS_2