Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Season 2 Chapter 15


__ADS_3

Aditya memejamkan matanya, merasai betapa sejuknya udara pagi ini. Sungguh tidak bisa dia pungkiri, rasa itu masih membelenggu batinnya.


Flashback


"Hai, Sayang! Kamu ngapain di sini hemmh," Aditya melingkarkan tangan kekarnya ke tubuh Ziya. Istrinya itu senang sekali merentangkan kedua tangannya, kepalanya sedikit mendongak, menghirup udara sebanyak-banyaknya. Mereka berada di taman pekarangan rumah.


"Aku sedang merebut udara dari alam!" Aditya mengernyit heran akan kata ajaib yang keluar dari bibir mungil istrinya.


"Sejak kapan udara jadi rebutan? Kalau seperti ini ya ... !" Aditya mencium dan ******* bibir Ziya dengan rakus, bahkan Aditya segera mengabsen setiap rongga mulut Ziya, begitu ada celah, membelikan lidahnya dan berbagi air liur dalam durasi waktu yang cukup membuat Ziya kekurangan pasokan pernapasan. "Sudah tahukan bagaimana caranya merebut udara?"


"Kau ...!" Nafasnya tersengal sebab ulah Aditya. Sedangkan Aditya yang puas akan aksinya terkekeh bahagia.


"Mau lagi, hemm?" Wajah semu merah Ziya semakin membuat Aditya bergairah.


"Tidak!" Ziya menggelengkan kepalanya cepat. Dia ingin kabur dari sana, tapi dengan segera Aditya menarik pinggangnya dan membawa Ziya ke dalam pelukan.


"Eits, mau kemana hemmh!" Mengeratkan pelukan dan menghujani puncak kepala Ziya dengan banyak ciuman.


"Aaa ... aku hanya ingin pindah tempat," teriak Ziya dengan tawa renyahnya. Badannya sedikit bergerak seolah memberontak, padahal dia geli akan ulah Aditya menggelitik pinggangnya.


"Kau mau kabur hemm? Aku tidak akan melepaskan dirimu sampai kapanpun."


"Sayang, sudah cukup, aku tak kuat lagi, oke ampun! Aku tidak akan kabur!" Ziya ngos-ngosan. Aditya menghujani Ziya dengan banyak ciuman lagi, seiring dengan kelihaian tangan Aditya yang mampu memutar tubuh Ziya hingga menghadap dirinya.


"Aku mencintaimu Ziya, sangat mencintaimu. Jangan pernah tinggalkan aku," Aditya menekan pinggang Ziya, sehingga tubuh mereka menempel, Aditya pun tidak henti-hentinya menghujani wajah Ziya dengan banyak ciuman, kemudian menyatukan keningnya dengan milik Ziya, meski dengan sedikit membungkuk.


"Sayang, aku sangat mencintaimu. Aku seperti mati saat kejadian yang menimpa dirimu waktu itu. Ziya, berjanjilah, kau tidak akan lagi membuatku khawatir. Kau akan selalu menjaga dirimu dan anak kita. Sayang, berjanjilah kau akan selalu pergi kemanapun bersama Lisa dan para pengawal agar aku tenang sebab kau ada yang melindungi. Serta maafkanlah aku, yang tidak bisa menjagamu dua puluh empat jam penuh," ucap Aditya penuh dengan penekanan.


"Sayang, kau jangan khawatirkan aku seperti itu, semua adalah kehendak Yang Maha Kuasa, siapakah kita yang hanya seorang hamba."


"Tapi Sayang, aku benar-benar tidak mau kehilanganmu."


"Aku mengerti, dan disaat itu terjadi, percayalah bahwa Tuhan sebenarnya hanya menguji kedalaman cinta kita. Semakin besar ujian itu, semakin kuatlah ikatan cinta kita."

__ADS_1


"Sayang, mengertilah! Aku bahkan ingin mati saja saat Devan dan Nabila ingin mengambilmu dariku. Bahkan aku hampir saja membunuh mama, sebab dia telah melukai dirimu," Aditya menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Ziya.


"Sayangku, Hai! Kenapa kau serapuh ini, hemmh!" Ziya membelai rahang tegas suaminya.


"Dengarkan aku, Sayang!" Kini Ziya yang menangkup kedua pipi suaminya. Ziya bagaikan seorang ibu yang berusaha menghibur anaknya.


"Ziya, mengertilah, dan berjanjilah, kau tidak akan lagi pergi dariku," Aditya menyentuh tangan Ziya dan membawanya untuk dicium. Ziya sungguh begitu terharu, pagi yang sejuk telah menghangat seiring kemesraan mereka berdua.


"Sayang, Aku berjanji!"


"Yakin!


"Sangat! Tapi,Jika suatu saat nanti, kita terpisah kembali, maka kamu cukup mengenang kebersamaan kita dan sebut namaku dengan sepenuh hatimu," Ziya menyentuh dada bidang milik suaminya. "Maaka aku akan hadir disini, dan juga di hadapanmu!"


"Benarkah itu?"


"Tentu, ucapkan namaku sepenuh hatimu, libatkan perasaanmu disana. Aku akan datang, dan disaat itulah kau pasti akan menyadari betapa bertambah besarnya rasa cinta yang kita miliki." Lalu keduanya berpelukan dengan begitu erat, mengalirkan segala rasa kasih dan cinta untuk satu sama lain.


Flashback off


"Ziya, Ziya, Ziya I love you," ucap Aditya dalam hati, lalu Aditya membuka matanya. Terlihat samar seorang gadis tengah tersenyum menatap dirinya. Aditya mengerjapkan matanya, kini terlihat jelas wajah itu, tersenyum ke arahnya, jarak mereka cukup dekat, mungkin hanya satu meter saja. Senyuman yang sama dengan yang dimiliki oleh Ziya. Sejenak Aditya begitu bahagia, dunianya telah kembali, Ziya miliknya telah hidup lagi.


Aditya tersenyum manis menatap sanyu wajah yang kini juga menatap dirinya. Tapi sejenak kemudian, Aditya kembali tersadar, bahwa itu adalah orang lain.


"Hai, maaf! Apakah aku mengganggu dirimu?" tanya Zea yang kini sudah berada di hadapan Aditya, gadis cantik itu memakai dress selutut berwarna merah muda.


Tatapan mata itu, adalah tatapan yang sama dengan milik Ziya. Dan debaran ini, owh kenapa rasanya begitu sama. Tunggu, bukankah warna mata gadis itu berwarna biru, kenapa sekarang berubah coklat?. Batin Aditya.


"Hai, Tuan! Kau begitu terpesona denganku sepertinya," cibir Zea, kemudian duduk di samping Aditya tanpa permisi.


Aditya sejenak larut dalam lamunan. Namun kemudian tersadar, meski belum juga menjawab.


"Tuan, apakah sebelumnya kita pernah bertemu?" Aditya mengernyitkan dahi, akal cerdasnya pun mendadak bodoh.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" tanya Aditya, membuat kepala Zea mendadak pusing. Sebenarnya dia merasa ada sesuatu perasaan yang dia sendiri tidak mengerti. Zea merasa seperti mengenal Aditya, tapi dia juga bingung, sebab dirinya hanya bertemu dengan Aditya dua kali, saat berada di Bandara, dan insiden pengeroyokan oleh Jack tadi malam.


"Ah, mungkin aku salah terka saja," kilah Zea.


Kini mereka berdua terdiam sejenak, menyelami perasaan masing-masing. Keduanya merasa canggung dengan dada yang bergemuruh hebat.


"Tuan, bisakah saya mengenal Anda?" Zea mengulurkan tangannya. "Namaku Zea."


"Aditya!" Dengan nada dingin dan ketus, bahkan Aditya tidak mau mengulurkan tangannya.


"Hai, Tuan!" Zea menarik tangan Aditya dan menyalami tangan itu tanpa permisi. "Sepertinya kau tidak pernah belajar berkenalan dengan benar, ya!" ucap Zea menggoyangkan tangan Aditya yang masih dalam genggamannya.


Aditya hanya terpaku, merasakan jabatan tangan yang membuatnya berdesir.


"Perasaan ini" batin Aditya


"Maaf!" Zea segera melepas tangan Aditya, seperti ada sebuah sengatan yang membuat kepalanya mendadak pusing. Zea hanya menggelengkan kepalanya. Aditya sebenarnya melihat akan hal itu, tapi egonya mempengaruhi Aditya untuk bersikap cuek.


"Tuan Aditya, saya mencari Anda dari tadi, sebab ingin berterima kasih!"


"Untuk!"


"Semua yang terjadi semalam."


"Lupakanlah!" Aditya bangkit dari duduknya dan hendak melangkahkan kaki untuk pergi.


"Bolehkah aku berbalas budi dengan menawarkan jamuan makan malam?" Entah mendapat ide darimana tiba-tiba saja muncul di otak cerdas Zea, dan bodohnya lagi, mulutnya seirama dengan isi otaknya itu. Zea memukul pelan bibirnya yang tidak memiliki rem.


"Tapi, jika keberatan nggak usah datang juga tak apa kok, aku tidak memaksa." Zea menutup matanya sebab malu dengan tawarannya sendiri. Sedangkan Aditya menatap wajah itu dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Baiklah, nanti malam. Aku akan datang membawa putraku!" entah apa yang dipikirkan Aditya, dia ingat dengan putranya. Dan ingin mengajaknya keluar. Sedangkan Zea, hatinya mendadak kecewa, sebab mengetahui Aditya sudah berkeluarga.


"Restoran La Bottega jam tujuh. Ajak semua keluarga Anda, pasti akan sangat menyenangkan," Zea pergi tanpa menunggu jawaban dari Aditya.

__ADS_1


"Gadis yang aneh, dia pergi sebelum kujawab,"


Bersambung ....


__ADS_2