
"Auwhh kau, sejak kapan berada disini?"
"Dari tadi! kamu aja yang keasyikan bermesraan sampai sampai tidak lihat aku datang." Ziya cemberut saja.
"Iya ya maafin kakak ya tidak melihat kedatangan kamu."
"Apa kau mencari ku."
"Iya, mama mau mengajak kakak ipar pergi arisan tuh."
"Hah, benarkah?"
" Iya!"
"Kapan?" "
"Sekarang kakak ipar."
"Kamu ikut juga kan."
"Nggak, aku dirumah saja." Syita pun berlalu.
Ziya menaiki tangga yang menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Tapi sebelum itu, dia pergi mencari mertuanya.
"Ziya, kamu ikut mama yuk pergi arisan." Maya tiba tiba muncul dari atas.
"Tapi ma...!
Teman teman mama pasti kalangan sosialita, bagaimana nanti aku bersikap? Batin Ziya
"Kau bersiap ya, mama tunggu di bawah."
Tidak ada bantahan lagi, Ziya bergegas ganti baju dan turun kebawah.
"Bagaimana sudah siap?"
"Sudah ma."
Merekapun jalan beriringan menuju mobil. Seorang supir mengemudi mobilnya hingga sampai ke sebuah kafe.
Wahhh orang kaya ternyata arisannya unik ya, di cafe. Kalau tetangga paling cuman di rumah pak RT. batin Ziya
Disana ada sekitar 50 an perempuan, mereka terdiri dari beberapa wanita paruh baya, beberapa ibu muda dan sisanya perempuan seumuran Ziya yang juga sudah menikah. Anak anak kecil tampak heboh sehingga suasana kafe sangatlah ramai.
"Ayo masuk, mereka semua asyik kok." Maya mengajak menantunya.
Mereka semua antusias menyapa Maya dan berkenalan dengan Ziya. Ziya diam saja karna tak mengenal siapapun disana. Sesekali ada saja yang mengajaknya bicara dia menanggapi seperlunya.
"Halo, boleh saya duduk disini?'
Seorang wanita menunjuk kursi kosong disamping Ziya.
"Silahkan nyonya."
Wanita itu langsung mendudukkan tubuh bontotnya di kursi sebelah Ziya. Pergelangan tangannya seperti artis India saja penuh dengan gelang di kanan kiri. Masih lagi cincin yang bukan hanya satu di jarinya. Ibaratnya ya toko berjalanlah.
__ADS_1
Tangan kirinya melebarkan kipas, gesekan gelangnya gemerincing saat kipas itu digerakkan. Ziya hanya senyum sekilas lalu mencari dimana ibu mertuanya berada.
Maya sibuk dengan teman temannya yang memamerkan berlian, menawar beberapa perhiasan lain yang terjajar di meja.
"Maya, siapa gadis yang kamu bawa bersamamu tadi."
"Menantuku, istri Aditya."
"Kapan mantunya, kenapa nggak mengundang kita." Satu lagi menimpali.
"Aditya yang buru buru ingin menikah, jadinya ya belum ada resepsi pernikahan."
"Lha kenapa memangnya, bobol duluan ya." Si mak mak mulut pedas mulai curiga.
"Hussh kamu kalau bicara di saring dulu kenapa!" Mak berbadan gemuk menyenggol lengannya.
"Bukan, tapi Aditya memang banyak pekerjaan, jadi dia memutuskan untuk menikah dulu, biar terhindar dari fitnah."
"Iya itu benar Bu Maya, daripada nanti terjadi apa apa kita sendiri yang repot." Ibu bijak
"Iya, si Tun tuh malah kemarin anaknya baru nikah dua bulan ehh udah brojol aja mantunya." Biang ghibah.
"Bu Maya, emang dapet mantu cantik gitu dari mana sholehah lagi." Si kepo tingkat RT.
"Iya, pembawaannya santun gitu." Ibu berhati baik.
"Owh itu, dibawa Aditya kerumah enam bulan lalu." Gengsi dong Maya masak bilang kalau Ziya pembantunya.
"Kok betah ya satu rumah menahan diri 6 bulan." Si nyinyir mulai komen.
Karna pamer akhirnya lupa rahasia pembantu dibongkar.
"Aduh ya bu Maya, memang cantik sih tapi kalau cuman pembantu mah tidak selevel sama kita kita." Si nyinyir malah menghasut.
"Jangan begitu Bu Mira, dihadapan Allah derajat kita sama hanya amal dan ibadah yang membedakan." ibu bijak menasehati.
"Heleh sama aja paling juga karna tergoda sama harta tok. Kan si nyinyir kebangetan pedes tuh mulut. Maya yang memiliki sifat plin plan sepertinya mulai terprovokasi.
Tak berapa lama terdengar suara ibu yang terkejut karna anaknya berbintik bintik merah. Anak perempuan yang kira kira berusia tiga tahun itu nampak kesulitan bernafas. Wajah anak itu memerah dan ibunya menjerit histeris dengan keadaan sang anak. Dalam sekejap ibu ibu sosialita itupun berkerumun.
Ziya menelusup membelah ibu ibu untuk mengetahui apa yang terjadi. Diapun mengambil tindakan.
"Jangan di peluk seperti itu bu anaknya, biarkan dia mengatur pernafasan nya. Tolong beri ruang ya ibu ibu agar udaranya tidak pengap. Oh ya, minta jus jeruk lemon ya."
Setelah berkata, Ziya menelantangkan anak kecil itu di sofa, Ziya lalu mengambil sebuah obat dari tasnya dan di berikan pada sang anak. Tak berapa lama si anak berangsur tenang.
"Anak ibu sepertinya alergi makanan. Ini aku kasih obat, tapi sebaiknya ibu bawa kerumah sakit untuk tindakan lebih lanjut." Ziya menerangkan.
"Terima kasih ya mbak, kamu sudah menolong anak aku."
"Sudah menjadi kewajiban kita untuk saling membantu."
Maya yang mendengar ucapan Ziya seketika kecurigaannya menguap.
"Hai adik kecil, kau sudah tidak sesak lagi bukan." Beberapa saat setelah anak itu membuka matanya.
__ADS_1
"Sebaiknya aku pulang dulu ya." Si ibu anak meminta izin.
"Minumkan ini dulu bu, biar cepat hilang pengaruh sakitnya."
Ziya menyodorkan jus lemon yang baru datang."
"Sekali lagi terimakasih ya."
"Sama sama ibu."
Ziya sopan.
Setelah itu acara arisan dilanjutkan lagi, mulai saatnya mengocok arisan. Dia yang dapat bulan depan akan membooking kafe atau restoran yang sama untuk berkumpul kembali. Mak mak gaul ya sukanya makan makan mulu.
Di perjalanan pulang, Ziya berusaha untuk tidak tidur, tetap saja rasa lelah mendera membuatnya memejamkan mata.
"Tidurlah Ziya, aku tahu pengantin baru memang sering begadang, makanya cepat lelah."
Ucapan Maya membuat Ziya salah tingkah.
"Mama tahu, mama juga pernah merasakannya."
"Tidak kok ma, Ziya tidak mengantuk." Setelah diajak mengobrol Ziya sudah hilang rasa kantuknya.
"Ziya, bagaimana kalau kau dan Aditya pergi bulan madu. Mama ingin segera menimang cucu."
Ziya bingung harus jawab apa.
"Tapi Ziya takutnya nanti mengganggu pekerjaan mas Aditya ma."
"Itu bisa diatur sayang, yang terpenting adalah kamu mau apa nggak." Tersenyum.
"Aku terserah sama mas Aditya saja ma."
"Baiklah kalau gitu nanti akan mama sampaikan pada Aditya saja." Tersenyum hangat.
Sepertinya Ziya memang orang yang tulus, kalau tidak, bagaimana mungkin dia mau membantu orang yang tak dikenali seperti tadi.
Saat asyiknya mengobrol, tiba tiba mobil dihadang oleh seseorang. Maya dan Ziya terbentur kursi depan karna mobil berhenti tiba tiba. Keadaan sekitar sepi.
"Keluar kau." Gedoran diluar membuat nyali Ziya dan Maya menciut. Si penghadang menodongkan sebuah pistol. Kaca mobil tempat Ziya duduk di ketuk beberapa kali.
"Keluar atau aku pecahkan kaca mobilnya." Semakin garang orang orang itu berteriak.
"Keluar kau, cepat!"
"Dooor."
Letusan terdengar jelas ditelinga. Maya dan Ziya menjerit karenanya.
"Keluar hai."
Bersambung....
mohon dukungannya berupa like, komen, vote dan rate 5 terima kasih 😊 love you all
__ADS_1