
Yah, karna aku tidak mau malam ini ada gangguan. Tapi aku sangat yakin, Dady pasti mengirim utusannya untuk mengawasi ku." Zea tersenyum kecut. "Aku bagai anak kecil yang akan selalu diawasi."
Kini mereka berdua telah sampai di depan pintu keluar. Lisa dan Zea mengambil mantel mereka dari pelayan.
"Zea, semua orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Jadi, jika selama ini Tuan dan Nyonya Anderson berbuat demikian, pasti karena rasa sayang mereka terhadapmu."
"Iya aku tahu itu."
"Kita pulang?" ucap Zea belum yakin. Sebab malam panjang ini, Zea enggan sendirian di rumahnya. Mike dan mamanya pergi, sedangkan Dadynya sudah dipastikan lembur.
"Apa kau yakin?"
Zea hanya mengangguk saja, sebenarnya dia enggan pulang.
"Kau akan menginap di rumahku kan?" tawar Zea. Sudah menjadi kebiasaan, Lisa akan menginap sesuai permintaan Zea.
"Aku menurut saja kepadamu Nona," Zea tersenyum bahagia. Zea begitu menyukai sifat Lisa yang tulus berteman dengan dirinya.
"Lisa, ayo!" Mereka berdua pun berdiri.
Tanpa mereka sadari, ada dua pemuda lagi yang menghampiri mereka.
"Hai gadis," seorang pria datang dari arah belakang Lisa, Zea segera menarik lengan sahabatnya, benar saja pria itu hendak meremas bokong Lisa.
"Dia kencan bersamaku Tuan!" ucap Zea yang membuat mata Lisa melotot sempurna. Bagaimana tidak, tadi dia dianggap seolah wanita jalang, dan sekarang, secara tidak langsung Zea mengatakan mereka lesbian.
Zea bahkan bicara sesantai itu dan terkekeh melihat ekspresi jijik Lisa.
"Hai, manis jangan membohongiku!" hardik pria mesum itu memainkan lidahnya sendiri. Jakunnya naik turun memindai tubuh Zea dan Lisa bergantian.
"Ayolah baby, kita bisa melakukan threesome," Lisa yang tidak mengerti apa artinya hanya diam.
"Tidak! Kami tidak suka ada pihak ketiga diantara kami. Cinta kita suci!" Zea mencium pipi Lisa dengan genit, seolah Lisa benar-benar kekasihnya. Lisa bahkan bergidik ngeri dibuatnya.
"Shiit!' umpat pria itu dan pergi dari sana.
"Zea, kau membuat ku jijik." Menggidikkan bahunya dan mengusap bekas sentuhan Zea, seperti hendak menghilangkan kotoran yang menempel di sana.
"Oke baby, kita lanjutkan di hotel saja!" Zea tergelak, dan bahkan dengan usil menempelkan tubuhnya ke lengan Lisa. Tentu saja membuat Lisa histeris dan kabur dari hadapan Zea.
__ADS_1
hahahaha "Hai, kau tidak akan selamat kalau aku tidak lakukan itu," teriak Zea.
"Setidaknya lakukan penyelamatan yang benar. Bukannya malah membuatku seolah berubah jadi perempuan nggak bener!" sungut Lisa.
"Yang penting kan masih bener!" elak Zea.
"Ya, terserah kau saja Nona!" ketus Lisa. Zea masih saja dengan tawanya bahkan memegang perutnya.
Beberapa menit kemudian, Zea mengendarai mobilnya dengan santai. "Zea, sepertinya ada yang mengikuti kita." cemas Lisa yang memperhatikan mobil di belakangnya. Mobil itu seolah membuntuti mobil Zea, sebab saat mobil Zea lambat, mobil itu juga lambat, dan saat Zea mengebut, hal yang sama juga dilakukan mobil itu.
"Kencangkan sabuk pengaman, Lisa."
Lisa mengangguk. Ini bukan pertama kalinya Zea dalam bahaya, dia tetap tenang dan tersenyum sinis. "Sepertinya mereka ingin bermain-main denganku!"
Zea mempercepat laju kendaraannya, dan mobil dibelakangnya tetap mengikuti. Zea semakin menambah kecepatan begitupun dengan mobil itu, melakukan hal yang sama. Tapi sepertinya mobil di belakangnya tidak sendiri. Ada mobil lain lagi yang tiba-tiba muncul dari arah depan untuk menabrak mobil milik Zea. Zea memutar mobilnya dan pindah jalur.
"Sial!" umpat Zea. Sepertinya dia menabrak sesuatu, dan mobilnya terasa oleng.
"Mereka telah mengatur siasat." ucap Zea. Dua mobil yang mengejarnya kini sudah berada di depan dan belakangnya. Satu lagi muncul dari sisi kiri dan mengepung Zea.
tok tok tok.
"Kita keluar dan hadapi mereka," tegas Zea.
"Zea, kau seharusnya tidak membantah ucapan Dadymu, lihatlah! Sepertinya mereka tahu, kau tanpa pengawalan."
"Apa kau takut?" Zea terkekeh. Satu tahun lebih Zea belajar bela diri dan memegang senjata, tentu membuatnya tidak takut menghadapi segala tantangan.
"Zea, apa kau yakin akan keluar?"
"Apa gunanya aku berlatih, jika tidak aku gunakan. Hitung-hitung olehraga malam." Zea mengambil lebih pistol yang tersimpan di dalam mobilnya, lalu dia sisipkan di paha bagian kanan. Di sana juga tersimpan senjata lain yang tidak pernah lepas dari tubuh Zea saat bepergian.
"Kau di sini saja, dan jika kau melihat ku terdesak, tekan tombol merah ini, oke!" Zea keluar dari mobilnya tanpa menunggu jawaban dari Lisa.
Zea menatap nyalang para pria bertubuh kekar yang berdiri tegak mengelilingi mobil Zea, tampang mereka nampak datar dan dingin.
"Hai, Nona Anderson! Bagaimana kabarmu," Zea mengenal betul siapa pemilik suara itu. Dialah Jack anak dari musuh bebuyutan Marcell.
"Tikus kecil, sungguh ceroboh sekali ayahmu itu," Zea tentu tahu apa maksudnya. Zea tentu sedikit menyesal, sebab dia pergi tanpa pengawalan. Bahkan Zea sempat mengancam para pengawal agar tidak mengikuti dirinya.
__ADS_1
Kenapa seh, para cecunguk ini selalu tahu saat aku sendiri. geram Zea.
"Apa maumu kucing?" hardik Zea, dengan tatapan elang, Zea berusaha setenang mungkin, dan berusaha membaca situasi yang kurang baik baginya. Terhitung ada 10 orang mengepung dirinya.
"Nyawamu, kau akan menjadi tumbal malam ini!"
"Percaya diri sekali kau, banci seperti kaulah yang cocok menjadi tumbal malam ini," ejek Zea. Anak buah Jack mulai menyerang, dengan sigap Zea menangkis dan melawannya. Pertama maju dua orang, Zea bisa menumbangkan lawannya dengan mudah. Mereka roboh, dan dua orang pria lagi menyusul, juga dapat dikalahkan oleh Zea. Empat orang mengepung lagi dan seterusnya.
"Bedebah kalian!" umpat Zea. Kali ini dia menghadapai enam orang sekaligus. Dia sudah melumpuhkan dua orang dengan menendang alat vital mereka. Empat orang masih berdiri tegak dan Jack dengan santai melihat pertarungan itu, tanpa ingin ikut campur.
"Gadis yang kuat!" sudut bibir Jack terangkat. Ada rasa yang menggelitik di hatinya saat melihat pertarungan Zea dengan anak buahnya. "Apakah salah jika aku membawanya ke mansion ya," Jack menertawakan kekonyolannya sendiri. Dia kembali menghisap rokok di mulutnya lebih dalam, lalu membuang puntung rokok itu dan menginjaknya.
"Tidak berguna!" Jack menggerutu melihat keenam anak buahnya terkapar. Dua lainnya tidak sadarkan diri. Dan tiga yang masih berdiri pun kondisinya sudah memprihatinkan.
"Cantik! Beruntung sekali Anderson memiliki singa betina sepertimu!"
"Tentu saja, tidak seperti Wilson, yang membesarkan anaknya untuk menjadi pecundang. Kepada wanita saja dia keroyokan!" ejek Zea. "Memalukan!" Imbuhnya lagi.
"Minggir kalian! Menghadapi satu gadis saja kalian tidak becus." seru Jack dengan tangan mengepal. Zea tersenyum sinis, mudah sekali memancing emosi Jack, tapi sebenarnya Zea sudah mulai kelelahan, terlebih dadanya terasa sesak akibat pukulan yang dilayangkan oleh anak buah Jack.
Zea mulai memposisikan tubuhnya, memasang kuda-kuda untuk menghadapi Jack. Jack terlihat tenang dan terus mendekati Zea. Jack mulai menyerang dengan mengarahkan pukulan ke wajah Zea, tapi belum sampai, Jack menarik lengannya dan mengarahkan kaki tepat di perut Zea. Zea mundur beberapa langkah. Benar apa kata orang, Jack terkenal akan kelihaiannya dalam memanipulasi gerakan dan permainannya juga sadis.
Zea kembali tegak dan menahan rasa sakit dengan sekuat tenaga. Lisa yang melihatnya mulai panik. Dia memencet tombol yang diberitahukan oleh Zea.
"Aku turun apa tidak ya?" Lisa menggigit kuku jarinya yang lentik.
"Ayolah Nona Anderson, menyerah saja, rasanya tidak ada salahnya kita mencoba berdamai dan menghabiskan malam bersama!" Seringai licik muncul di wajah Jack.
Cuiih
Zea meludahi wajah Jack, membuat pria itu mengeraskan rahangnya. Apalagi mengingat jika Zea adalah anak dari musuh ayahnya. Jack mengepalkan tangannya, lalu melayangkan tinju ke arah Zea. Zea yang sudah tidak lagi mampu melawan hanya pasrah, Zea memejamkan matanya.
"Hai, jangan ikut campur urusanku!"
"Pengecut, beraninya hanya sama perempuan, Banci!"
Bersambung...
Catatan: Lisa adalah gadis yang pernah ikut ke rumah Ziya saat Ayah Ziya kritis. Adapun kisahnya akan kita bahas dalam bab-bab berikutnya.
__ADS_1
Maaf, jika actionnya kurang maksimal. Dan maaf juga bila ada typo dan kesalahan lainnya. Terima kasih, Jangan lupa tinggalkan jejak ya