
"Hemmh, pagi yang luar biasa." Ziya merentangkan kedua tangannya. Menghirup udara sebanyak-banyaknya. Dia kini berada di balkon kamar. Dia membayangkan, betapa enaknya nangkring di atas kuda dengan cuaca yang cerah namun sejuk seperti ini.
"Pagi Nona!" seorang pelayan masuk ke kamarnya setelah mengetuk pintu tiga kali.
"Pagi Nany!" pelayan itupun tersenyum bahagia. Dia tidak menyangka, jika majikan mudanya begitu ramah terhadap para pelayan.
"Nona, silahkan, ini susu Nona." Zea mengambil susu yang dibawakan oleh pelayan itu, dan meminumnya setengah. Entah sejak kapan Zea lebih menyukai minum susu ketika baru saja bangun tidur. Kadang dia merasa heran dengan dirinya sendiri.
"Airnya sudah siap Nona."
"Aku mau mandi sendiri," ucap Zea sambil berjalan ke dalam kamar mandi. Pelayan itupun menanti majikannya dengan membereskan ranjang.
"Nany ... kamu boleh keluar!" teriak Zea dari dalam kamar mandi. Tanpa perintah kedua, pelayan itupun keluar dengan membawa susu yang tinggal separuh.
"Zea dimana?" Mike yang nampak sudah rapi berada di depan kamar Zea.
"Nona sedang mandi, Tuan."
"Oke, katakan kepadanya, acara berkuda hari ini dibatalkan." Pelayan itu hanya mengangguk. Mike sudah berjalan cepat menuju lift.
Di dalam kamar, Zea sudah selesai dengan ritual paginya. Gadis itu nampak bahagia sebab akan menagih janji kepada Mike. Kemarin saat Zea menyerahkan bukti kepada Marcell tentang perselingkuhan tunangan Mike dan kekasihnya, dan sesuai perjanjian, Mike harus menemani Zea berkuda.
"Aku akan segera menemui Brother dan mengajaknya berkuda." Zea segera keluar kamarnya dengan berpakaian rapi. Dia mengetuk pintu kamar Mike.
"Mike, bangun! Kau sudah berjanji kepadaku untuk berkuda bersama pagi ini," teriak Zea. Beberapa tidak ada sahutan, Zea membuka pintu kamar kakaknya.
"Kemana dia?"
"Nona Zea, Tuan Mike ke Airport untuk menjemput kekasihnya." seorang pelayan berdiri di depan pintu kamar Mike. Tadi setelah membawa gelas kotor ke dapur, pelayan itu kembali lagi, untuk membuang sisa bekas mandi Zea dan membersihkan kamar.
"Owh, terima kasih Nany!" Dengan muka kusut Zea menuruni tangga dan berjalan menuju meja makan.
"Pagi, Dady! Pagi Momy," Zea mendatangi mereka berdua dan mencium pipi kedua orang tuanya.
"Pagi, Sayang!" jawab mereka bersamaan.
"Momy jadi ke Indonesia?" Zea melihat penampilan Jenna yang sudah rapi.
"Ya! Memang kenapa Sayang?"
__ADS_1
"Tanpa Zea?"
"Sayang, Momy hanya sebentar di Indonesia. Kau baik-baik di rumah saja ya, dengan Mike dan Dady."
"Mike, tidak jadi pergi?" antusias Zea.
Jenna menggidikkan bahunya, "Kekasihnya datang kemari untuk berlibur di musim gugur," mata Zea membulat sempurna.
"Rindi kemari?" Zea begitu bahagia mengetahui akan ada temannya di rumah.
"Rindi akan datang hari ini, tapi Mony meninggalkan dia dan Momy memilih pergi ke Indonesia? Oh tidak," Zea memastikan dengan gaya lebay. Biasanya jika ada Rindi, Jenna akan betah di rumah atau jalan-jalan bersama calon menantu kesayangannya itu.
"Sayang, ada hal penting yang harus Momy urus di Indonesia. Tidak lama kok! Cuma seminggu. Grandma Maria sedang sakit keras. Momy harus datang kesana untuk menjenguk. Selain itu, ada hal penting yang harus Momy selesaikan sebelum semuanya terlambat. Oke?"
"Oke!" lirih Zea.
"Semangat Sayang, ada Dady di sini. Kita akan pergi berkuda setelah mengantar kepergian Momy, Oke!"
"Kenapa tidak sekalian bareng Brother tadi sih Mom?" ketus Zea, acara berkuda harus diundur lagi beberapa menit lagi karna mengantar momynya.
"Kenapa? Nggak boleh Dady mengantarkan Momy?" seperti tahu apa yang ada di pikiran anaknya.
"Ya ... tidak!"
"Bukan itu maksudku Dad! Pergilah mengantarkan Momy, pekan depan saja kita pergi berkuda," akhirnya kata-kata itu yang meluncur dari bibir Zea. Zea tidak mau egois dengan mementingkan dirinya sendiri.
"Kau akan ikut mengantarku kan, Sayang?" Zea sebenarnya terkejut dengan keberadaan Jenna yang tiba-tiba memeluknya.
"Momy! Tentu saja!"
"Sayang, apakah ada sesuatu yang kau pikirkan?" Zea menggeleng cepat.
Zea aku tidak akan pernah lagi membiarkanmu pergi jauh dariku lagi, Nak! Cukup sudah rasa benci yang telah membutakan mata hatiku selama ini sebab kesalahpahaman. Dan membuatmu semakin jauh dariku. Anakku, aku sangat menyanyangi dirimu. Tapi mulai dari sekarang, aku akan melakukan apapun agar kau tetap berada bersama kami. batin Zea
"Momy, jangan memulukku seperti ini, atau aku tidak akan membiarkan Momy pergi saat ini," Zea mengeratkan pelukannya. "Pelukan Momy sangat nyaman, aku seperti lama tidak merasakan pelukan yang seperti ini," Zea menduselkan kepalanya di dada sang mama. Posisi Zea masih dengan duduk, dan Jenna membungkuk memeluk Zea.
Maafkan Momy, Sayang. Karna keegoisan Momy, kau tidak merasakan kasih dari ibumu sejak kecil. batin Jenna. Jenna mengusap air matanya yang menetes.
"Bukankah Momy setiap hari memelukmu hemmh, selama dua tahun terakhir kau selalu mengatakan hal itu." Jenna menepuk pipi anknya lembut.
"Hai, Nona nona, bisakah kita tunda sebentar acara pelukannya, kita harus segera ke Airport sekarang. Atau pesawatnya akan merasa patah hati dan meninggalkan dirimu."
__ADS_1
"Dady, bercandanya garing!" mereka bertiga pun tertawa bersama.
✓✓✓
Toronto adalah kota metropolitan terbesar di Kanada dan paling aman sedunia. Meskipun masyarakat yang tinggal disini adalah pendatang dari seluruh penjuru dunia yang merantau di kota ini. Walaupun masyarakat yang tinggal disini majemuk alias banyak pendatang dari seluruh dunia merantau di kota ini, tapi kota ini aman dan damai lho.
Aditya telah sampai di Bandar Udara Pearson Toronto. Aditya menarik kopernya pelan, diikuti oleh Rizal di belakangnya.
"Rizal, pastikan kau mendapat penginapan yang lebih dekat dengan kediaman Steven."
"Beres Tuan!"
"Aku percaya kepadamu." Menepuk bahu Rizal.
"Dimana kendaraan kita?" Aditya sudah tidak sabar untuk sampai di hotel.
"Disana, Tuan!" Menunjuk ke arah mobil berwarna hitam gelap namun mengkilap.
"Kita taklukan kota ini, dan pulang bersama sang pangeran." Aditya begitu bersemangat, seolah mendapat energi baru.
Aku berharap setelah ini anda kembali seperti dulu, Tuan.
"Tidak sekalian bersama ratunya Tuan?" gurau Rizal. Aditya berhenti dan memutar kepalanya, tatapan tajam dia tujukan untuk Rizal. Rizal hanya mengangkat dua jarinya.
"Maaf Tuan!" Aditya menghembuskan nafasnya berat. Kini dia berhadapan dengan Rizal, dadanya terasa sesak saat mengingat rasa kehilangan yang tidak kunjung menghilang dari hatinya.
"Semua orang memang menganggap Ziya telah tiada, tapi kenapa hatiku sulit untuk menerima kenyataan itu," lirih Aditya. "Ayo jalan, mau cari mati kamu, ya Zal!"
"Maaf Tuan, aku hanya bercanda." Rizal tidak berani menatap Tuannya. Untuk beberapa lama mereka berdiam diri dengan pemikiran masing-masing.
"Dahlah Forgeted!" Aditya memutar badannya.
Bughhh
"Auwwhh!"
"Sayang!"
"Tuan!"
Deg deg deg
__ADS_1
Bersambung ...