
Beberapa hari terakhir, Aditya meninggalkan istrinya, karna urusan bisnis. "Kenapa aku tidak tenang meninggalkan Ziya di rumah, ya," Aditya bergumam sambil berulang kali memeriksa ponselnya. Perjalanan bisnis yang tiga hari lalu dia jalani, karna kliennya komplain akan proyek besar yang di garapnya.
Ada banyak korupsi yang terjadi, sehingga pembangunannya tersendat. Aditya menyandarkan kepalanya pada kursi, dia merasa letih, pekerjaannya belum juga selesai dan signal di sana sedikit susah.
"Apa kabarmu Ziya!" Aditya mengusap layar ponselnya, dia menyimpan banyak foto Ziya di sana. Rindu yang menggebu membuatnya frustasi, dia menyugar rambutnya kasar. Dia benar benar merindukan istri tercintanya.
~
~
Di kediaman Bagaskoro, Syita baru saja mengemasi barang-barangnya. Malam ini dia ingin menginap di rumah Rama.
"Syita, kamu jadi menginap di rumah Tisya?" Ziya menatap Syita dengan sendu.
"Iya, Ayah akan menikah tiga hari lagi, jadi aku akan ada di sana. Aku sudah minta izin sama papa, kok!" Syita tidak tahu saja, jika Ziya merasa kesepian di rumah sebesar ini, apalagi Aditya tidak berada di rumah.
"Jangan bersedih dong kakak ipar! papa sudah menyusul bang Aditya agar pekerjaan di sana cepat selesai," hibur Syita sebelum pergi.
"Hati-hati di jalan!" Ziya cipika cipiki.
"Jangan lupa datang bersama bang Aditya, ya!" Syita memperingati agar Ziya hadis ke pernikahan papa kandungnya.
Syita telah menerima kehadiran Rama sebagai ayah kandungnya dengan bujukan dan edukasi dari Denny tentunya. Dia menyebut Rama dengan sebutan ayah, biar bagaimanapun papanya tetap satu, yaitu papa Denny.
"Nona, semuanya sudah siap!" Cak Ali langsung mengangkat koper anak majikannya.
"Terimakasih, Cak. Tolong jaga kak Ziya, ya. Awasi mama jangan sampai berbuat kasar sama kakak," Cak Ali hanya mengangguk.
Tanpa mereka sadari, seorang yang berada di atas kursi roda begitu geram melihat interaksi ketiganya. Dia kesal, karna semua orang menyanyangi Ziya.
"Dari mana saja kalian," ucap orang itu saat melihat Ziya dan Cak Ali masuk ke dalam rumah.
"Mama, kami mengantar Syita tadi," Cak Ali memegang tangan Ziya yang ingin mendekati Maya, Cak Ali begitu waspada sekarang, apalagi Denny menyuruhnya agar menjauhkan Ziya dari Maya.
"Aku tidak peduli," ucap Maya sambil menggerakkan kursinya untuk pergi dari sana. Ziya hanya melempar senyum kepada Cak Ali.
"Nona, saya permisi, masih ada yang harus saya urus," Ziya mengangguk saja diiringi kepergian Cak Ali.
__ADS_1
Tak berapa lama terdengar suara jeritan Maya. Ziya berlari ke arah sumber suara. Di sana Maya sudah jatuh tertimpa kursi roda. Dia tadi ingin ke ranjangnya sendiri tanpa bantuan orang lain.
"Mama, kenapa bisa begini?" dengan cekatan membantu Maya kembali ke kursinya, lupa sudah jika sedang hamil tidak boleh mengangkat yang berat berat. "Kalau ada perlu mama bisa panggil saya, kan," ucap Ziya dengan lembut.
"Ini semua salah kamu," teriak Maya padahal Ziya berusaha berbuat baik terus terhadapnya.
"Aku tahu, Ma! maaf anggap saja aku orang asing yang sedang menolong orang lain di saat membutuhkan," ucap Ziya. Selesai dengan tugasnya membantu Maya. Ada rasa nyeri di perutnya, mungkin karna tadi berusaha membopong tubuh mertuanya.
Jangan kenapa napa ya, Nak! Ziya menyentuh perutnya yang sudah mulai mengencang.
"Kau sekarang menghinaku ha! kau menghinaku, aku tidak butuh bantuan siapapun," ucap Maya ketus. Ziya tidak menggubrisnya, dia memutar tubuhnya dan hampir keluar dari kamar Maya.
Tapi, belum sepenuhnya Ziya keluar, dia merasa sesuatu telah menghantam kepalanya.
pranggggg! pecahan vas bunga berserakan di lantai. Ziya spontan menoleh ke arah Maya tapi belum sempat mengatakan apapun, tiba tiba pandangannya memudar. Tubuh Ziya jatuh ke lantai menghantam pecahan kaca yang berserakan. Maya hanya tersenyum sinis melihatnya.
Cak Ali yang sedang menerima tamu, bergegas ke arah sumber suara saat mendengar benda jatuh.
"Nyonya!" suara Cak Ali tercekat melihat Ziya sudah tergeletak di lantai dengan noda merah di beberapa bagian.
"Pengawal," teriak Cak Ali berharap minta bantuan. Sebab dia tidak kuat membopong tubuh majikannya sendiri. Maklumlah, faktor umur.
Tamu yang datang pun ikut datang untuk melihat apa yang terjadi.
"Ziya! kau kenapa Ziya?" tamu yang tak lain adalah Revan itu langsung meletakkan kepala Ziya di pangkuannya. Ada pecahan kaca yang menempel di bagian kepala Ziya.
"Astaghfirullah!" Cak Ali mengurut dadanya melihat cairan merah kental membanjiri wajah putih Ziya.
"Kau keterlaluan, Nyonya!" Cak Ali menatap tajam majikannya dengan penuh kebencian.
Revan dengan cepat mampu memahami situasi ini. "Apa yang kau lakukan kepada adikku," ujar Revan.
"Aku hanya melempar vas bunga," Maya sama sekali tidak merasa bersalah. Bahkan wajahnya terlihat begitu sinis.
"Kita bawa kerumah sakit," dengan sigap Devan membopong tubuh Ziya. Tapi hatinya begitu marah menghadapi kenyataan jika Ziya di perlakukan tidak baik di rumah Bagaskoro.
"Tidak akan lagi aku membiarkanmu kembali kepada keluarga itu." Revan menggenggam tangan Ziya dengan lembut. "Semakin cepat pak! kita harus menyelamatkan Ziya," teriak Revan kepada pak supirnya.
__ADS_1
"Ziya, kamu harus bertahan," gumamnya lirih. Air matanya sudah tidak terbendung lagi. Tadinya dia ingin mengunjungi Ziya sekaligus memberikan kartu undangan resepsi pernikahan dirinya dan Marina. Tapi kini malah mendapati adiknya dalam keadaan meregang nyawa.
Cak Ali yang berada duduk di kursi depan begitu sibuk menghubungi para majikannya. Tapi nihil tidak ada satupun yang menjawab panggilan darinya. Dia begitu resah dengan keadaan ini.
"Cak Ali, apakah Ziya kerap mendapatkan perlakuan buruk dari keluarga Bagaskoro?" tanya Revan.
"Tidak! eh, iya!" ucap Cak Ali dengan gugup. Sebenarnya dia tidak fokus dengan pertanyaan Revan, karna sibuk mengabari majikannya.
"Ceritakan semuanya kepadaku apa yang terjadi," ucap Revan. Cak Ali nampak bingung.
"Aku akan membalas semua perlakuan mereka," Revan mengepalkan tangannya. Cak Ali terkesiap akan apa yang di lontarkan oleh Revan.
"Sebenarnya hanya nyonya Maya yang berbuat demikian tuan. Sedangkan anggota keluarga lainnya sangat menyayangi nona Ziya," ralat Cak Ali meluruskan kesalahpahaman.
"Ceritakan semua yang di lakukan Maya," ucap Revan lagi. "Cepat katakan," karna tak kunjung Cak Ali membuka suara.
"Katakan!" bentak Revan. Cak Ali pun menceritakan semuanya, padahal situasinya begitu genting. Ziya masih mengeluarkan darah. Dengan singkat Cak Ali menceritakan secara garis besar apa yang dialami Ziya.
"Jangan hubungi siapapun di keluarga Bagaskoro, aku tidak akan mengembalikan Ziya kepada mereka," tegas Revan.
Cak Ali tiba-tiba menjatuhkan handphonenya, sebab mendengar perkataan Revan.
"Tapi, tuan!"
"Sopir, berhenti!" mobil pun berhenti. Cak Ali dan sopirnya nampak kebingungan.
"Kenapa, tuan!"
"Cak Ali kau turun," dia hanya menurut saja meski tidak paham apa maksudnya. Padahal dia ingin menemani majikannya tapi kenapa harus turun di tengah jalan.
"Jalankan mobilnya, cepat!" hardik Revan kepada sang supir.
"Baik tuan."
"Ikuti petunjuk dariku," Revan memberikan titah kembali. Dan supirnya hanya menurut saja. Tujuan Revan hanya satu. Dia tidak mau lagi Ziya menderita di rumah suaminya.
Bersambung....
__ADS_1