
Suara bayi terdengar seperti lagu syukur yang membuat siapa saja pendengarnya tersenyum bahagia.
"Ini anak kita, sayang." Devan membelai rambut Marina setelah mengadzani anaknya. Marina mengangguk melemah bayi di atas dadanya masih begitu tenang. Marina semakin melemah dan rasa kantuk menyerang begitu hebat.
"Sayang, katakan pada Aditya untuk menjauhkan Maya dari Ziya. Aku belum menjelaskan semuanya." Suaranya semakin melemah.
Dia ingin mengatakan kepada Devan, bahwa dia sudah menceritakan separuh kebusukan Maya. Bahwa Syita bukan anak kandung Denny dan membunuh Mila juga Maya. Tapi tidak ada cukup bukti untuk membuat Maya mengaku. Aditya pun tentu saja tidak sepenuhnya percaya.
"Katakan untuk melindungi Ziya." Suara Marina semakin melemah. Obat bius membuatnya menutup mata untuk beberapa jam kedepan karna sesar yang di lakukannya.
Devan mengecup pipi dan kening calon istrinya berulang kali. Bahagia tentu saja usahanya dalam semalam membuahkan hasil. Dia mungkin bisa di bilang jahat karna merebut kekasih abangnya. Tapi apa boleh buat toh abangnya juga sudah mati.
"Aku sudah mengurus pernikahan, kita agar akta kelahiran anak kita menggunakan namaku sebagai wali." Devan tetap mengatakan itu meski tahu Marina sudah tidak mendengar.
"Ini, pak bayinya sudah di beri vaksin dan salep mata. Silahkan di gendong." Ya, tadi Devan memohon untuk menggendong anaknya.
"Terima kasih ya sus." Menimang anaknya dengan sayang. Bayi itu menggeliat mencari kenyamanan. Devan semakin melebarkan bibirnya.
Sekarang dia puas sebab memutuskan untuk menemani Marina menjalankan operasi, setelah berdebat dengan dokter tentunya. Baginya operasi seperti itu masih tak seberapa dengan apa yang di lihatnya saat bersama Agung menjadi mafia.
Devan sedang bahagia dengan kelahiran anaknya. Tapi Aditya sedang gelisah saat ini menunggu istrinya menjalani pemeriksaan.
"Bagaimana keadaan istri saya, dok!" cerca Aditya tak sabar lagi. Dokter itu hanya tersenyum santai melihat kekhawatiran Aditya.
"Bapak tidak usah khawatir, istri anda dalam keadaan baik baik saja. Hanya perlu banyak istirahat dan menjaga pola makan selebihnya jangan sampai membuatnya stres karna istri bapak saat ini sedang mengandung."
"Apa, dok!"
"Selamat ya, pak sebentar lagi anda akan menjadi seorang ayah!" Dokter perempuan itu semakin melebarkan senyumnya. Dia cukup tahu siapa yang berada di hadapannya saat ini.
Aditya ingin meloncat rasanya mendengar kabar bahagia yang tak di sangka nya akan datang secepat ini.
"Yes! aku akan jadi seorang ayah!" seru Aditya dengan sangat bahagia.
Dari luar datanglah dokter Marcell. "Aditya, aku dapat kabar tadi, katanya istrimu pingsan."
__ADS_1
"Iya!" Aditya langsung memeluk Marcell tanpa permisi.
"Aku akan menjadi ayah, dok!" disela pelukannya.
"Selamat ya, semoga ibunya sehat!" Menepuk bahu Aditya.
"Apa kau pikir dia sedang sakit? aku tidak akan biarkan itu!"
"Bukan begitu maksudku! Dokter jelaskan kepadanya." Dokter Marcell memerintah dokter kandungan itu.
"Maksud dokter Marcell begini, pak. Dalam trimester pertama, ibu hamil akan mengalami perubahan hormon, besar kemungkinan dia akan mengalami mual muntah atau morning sickness dan nafsu makan berkurang. Bisa juga sebaliknya, nafsu makan bertambah dan nggak mual juga tidak muntah. Dia juga akan mengalami ngidam."
"Tapi dia terlihat baik baik saja! walau memang beberapa hari ini dia terlihat lesu dan mudah tertidur."
"Itu hal yang wajar, pak. Terpenting saat ini anda harus banyak memperhatikan istri bapak. Jangan sampai banyak tekanan hingga membuatnya stres apalagi tekanan darahnya rendah." Jelas sang dokter.
"Dia juga seorang dokter apa tidak tahu itu!" celetuk Aditya.
"Kurasa bukannya tidak tahu, pak. Mungkin lebih tepatnya belum menyadari bisa saja ada faktor lain yang membuatnya seperti itu. Terlebih jika nyonya Ziya tidak menunjukkan gejala seperti yang saya sebutkan. jelas dokter.
"Baiklah, terima kasih dokter." Ucap Aditya kemudian.
"Sama sama, pak."
"Dokter Lisa, setelah ini anda keruangan saya, ada tindakan medis yang harus kita diskusikan terlebih dahulu." Dokter Marcel memberi tahu. Diangguki oleh dokter bernama Lisa.
"Tuan Aditya selamat atas kehamilan istrimu. Semoga kau akan bisa bersabar dengan banyak kejutan yang akan, kau dapatkan nanti." Marcel menepuk bahu Aditya lagi. Sambil tersenyum nyengir. Aditya menaikkan satu alisnya.
"Apa maksudmu!"
"Ah tidak, ayo dokter Lisa." Ucap Marcel lalu pergi dari sana.
"Kejutan apa memangnya dengan istri hamil." Gumam Aditya. Diapun membuka ponselnya menghubungi seseorang.
🌱🌱🌱
__ADS_1
Ruangan VIP di sebuah restoran menjadi tempat yang di pilih Maya untuk menemui Rama. Keduanya hening lagi setelah memesan beberapa menu makanan.
"To the poin saja nyonya Benetiz apa yang ingin anda inginkan!" Rama nampak jengah dengan wanita di hadapannya ini.
"Kemarin kau mengatakan kata sayang ketika bertemu dengan aku. Kenapa sekarang berubah." Sinis Maya.
Rama tersenyum mengejek "Apa kau belum juga move on nyonya."
"Jaga bicaramu, aku sudah tidak peduli lagi dengan masa lalu itu. Kita anggap semua tidak pernah terjadi." Maya sedikit gugup. Benar memang sebenarnya dia masih menyimpan rasa, tapi untuk menjaga kehormatan keluarga tidak mungkin dia melakukan hal konyol yang akan membuat reputasinya hancur.
"Aku sangat tahu nyonya, kau sangat menjunjung tinggi reputasimu itu di hadapan semua orang. Tapi ...apakah akan begitu jika kau tidak memperdulikan anakmu sendiri. Aku akan mengambilnya jika sampai dia tidak terurus."
"Jangan macam macam Rama. Atau aku akan menghancurkan dirimu." Ancam Maya.
"Kita akan sama sama hancur nyonya Benitez. Kau tidak memperhatikan anakku dengan baik. Maka jangan salahkan, aku jika aku akan mengambilnya darimu. Aku tidak peduli apa kata orang."
Rama memang mengakui kesalahan di masa lalunya yang berhubungan gelap dengan istri orang. Tapi..dia juga sangat menyayangi darah dagingnya sendiri. Maka ketika dia tahu bahwa Denny kecelakaan dan di vonis tidak bisa memiliki keturunan lagi, dia merasa yakin jika anak yang di kandung Maya adalah darah dagingnya. Dan benar saja itu terbukti setelah melakukan tes DNA.
Bersama dengan itu pula hubungan dirinya dan kedua orang tuanya membaik. Alhasil, dia mengambil Tisya dan membawanya pergi. Ternyata orang tuanya juga menerima Tisya dengan antusias. Dia cukup bilang jika menghamili anak orang dan meninggal di saat melahirkan anaknya.
"Rama...kumohon pastikan ini menjadi rahasia kita." Maya melancarkan aksi air mata buaya sambil memohon.
"Nyonya Benitez. Aku akan memastikan itu tidak terjadi jika Syita ketemu dalam keadaan baik baik saja. Aku sangat kecewa dengan hilangnya Syita. Ibu macam apa dirimu itu."
"Apakah, kau ayah yang baik. Tak sadar apa kau membiarkan dia bermain di dunia malam." serang balik Maya.
Keduanya pun hening kembali.
"Rama, Marina mengetahui semuanya. Aku takut dia akan membongkar semuanya.
**Bersambung....
Terima kasih sudah membaca.
jangan lupa tinggalkan jejak ya**.
__ADS_1