
Seorang pria masih tetap pada posisinya dari tiga jam yang lalu, matanya merah menahan amarah. Marah akan kisah hidupnya yang selalu tidak adil. Dia seakan terombang ambing oleh badai takdir yang selalu mempermainkan hidupnya.
"Aku pikir kau adalah Singa. Setiap lawanmu bahkan berpikir dua kali untuk bisa mengusik kehidupanmu, kau yang terkenal begitu kejam dalam tiga tahun belakangan ini, dingin dan tidak tersentuh. Tapi lihatlah kenyataannya," Mike menunjuk Aditya yang terlihat buruk di mata semua orang.
Setelah pulangnya Devan dan Rafa, Aditya terlihat lebih murung. Bahkan setelah dokter memberitahu bahwa Zea mengalami koma. Aditya semakin murka dan beberapa kali meninju dinding rumah sakit. Beberapa orang bergidik ngeri. Bahkan beberapa perawat pria tidak mampu menghalau amarah pria itu.
Dan Mike, mengucapakan sebuah kata ajaib untuk menenangkan Aditya "Aditya, kendalikan emosimu, atau aku akan membawa Zea pergi lagi." Setelah mendengar kata-kata itu, kemarahan Aditya mereda. "Jangan bawa Ziyaku, aku mohon!" bagaikan anak kecil yang meminta mainan. Memegang tangan Mike dengan hati yang hancur.
Beberapa waktu Aditya kembali pada pikiran jernihnya. "Cih, kau mempermalukan aku!" Aditya gengsi akan tindakan spontan yang dilakukannya.
"Duduklah, Zea akan baik-baik saja. Dia kerap mengalami hal seperti ini. Benar apa kata Rafa, Marina pasti menaruh racun dalam diri Zea."
Aditya menatap kakak kandung istrinya itu. Seakan meminta penjelasan lebih. "Zea saat itu, kami bawa dalam keadaan tidak sadar. Kami secara brutal langsung menghabisi para penjahat itu, tanpa mencari tahu siapa dalang dibalik semua ini. Marina datang kepada kami dengan sebuah penawaran. Dan kami pikir, dia wanita yang baik."
"Lalu!"
"Karena terlalu bahagia, kami dengan senang hati membuat kesepakatan. Marina juga memberikan obat untuk Zea. Kami juga mendatangi dokter untuk melakukan pemeriksaan. Tidak ada sesuatu apapun yang mencurigakan. Tapi, kondisi Zea yang kadang baik, dan juga kadang menyedihkan. Hal itu terjadi jika dia mengingat akan masa lalunya."
"Jadi, Zea_"
"Iya, dia akan seperti ini jika teringat sesuatu di masa lalu. Maka dari itu, kami tidak menceritakan apapun kepadanya. Bahkan tentang anak dan juga suaminya."
"Aku memang buruk. Bahkan tidak mampu menjaganya. Terlalu ceroboh." Aditya benar-benar dalam fase depresi. "Tiga tahun lamanya, aku hidup, tapi setiap waktu hatiku mati. Hanya ada Ziya di sini," menepuk dadanya dengan jantan meski wajahnya terlihat pilu.
"Apa kau begitu mencintainya?" pertanyaan bodoh Mike membuat Aditya menatapnya dengan tajam. "Hai, aku butuh jawaban yang pasti."
"Tidakkah kau melihatnya."
"Yah!" Mike memalingkan wajahnya dari Aditya. "Aku pria yang brengsek, setiap hari selalu berdoa agar tidak memiliki saudara perempuan." Kembali menatap Aditya lagi, "Kau tahu alasannya apa? Itu karena aku tidak mau adikku merasakan patah hati, seperti yang aku lakukan kepada mereka para ****** itu. Tapi sejak Papa membuka identitas Ziya, dan mengubahnya menjadi Zea, perasaanku berubah. Zea adalah cahaya yang dikirim Tuhan untukku. Zea menjadi saudara yang begitu manis."
"Dia memang manis sejak dilahirkan." imbuh Aditya.
"Sepertinya kau begitu memuji adikku itu."
"Bahkan jika boleh, aku akan memujanya." Tatapan lurus Aditya berakhir pada seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang rawat dimana Zea berada.
"Bagaimana keadaannya?" sambar Aditya. Dua jam sekali, mereka melakukan pemeriksaan, tapi Zea tetap nyaman pada posisi tidurnya.
__ADS_1
"Semua normal, hanya saja sepertinya dia mengalami tekanan dan tidak memiliki keinginan untuk pulih."
"Apa yang kau katakan?" Aditya bangkit dan mencengkeram leher dokter itu. "Dia harus bangkit." Aditya melepas kerah dokter itu, memutar tubuhnya.
Brakkk
"Tuan Aditya!"
"Dokter, biar aku saja, kita akan bertemu nanti."
"Baik Tuan, tapi bisakah Anda membuat Tuan Aditya tidak menggangu Nona Zea?" Mike mengangguk meski ragu, kemudian pergi meninggalkan dokter itu sendiri.
"Tuan Aditya benar-benar seperti monster saat marah. Untung rumah sakit ini miliknya."
✓✓✓
Di tempat lain.
Seorang pria paruh baya baru saja turun dari mobil mewahnya, melepas kacamata hitam yang bertengger di hidung. Rahang tegas nan tampan, masih jelas terlihat meski rambutnya mengatakan bahwa usianya tidak lagi muda.
"Selamat datang Tuan. Silahkan!" seorang pelayan tergopoh-gopoh menyambut kedatangannya, menunjukkan jalan yang harus pria itu lalui.
"Baru saja lima menit yang lalu, Tuan Denny."
"Dia selalu tepat waktu." pria itu mennyincingkan sedikit ujung lengan jasnya. Dia menatap benda yang melingkar pada tangannya. Pelayan menunggu dirinya menganyunkan langkah kembali, dan seakan tahu apa yang pelayan itu tunggu, sambil terus berjalan tegak nan gagah. Netra tajamnya menelisik setiap detail bangunan. "Dia mengurung burung gelatik ku di sangkar emas rupanya."
"Selamat datang saudaraku!" sapaan hangat itu membuat kepala Denny menoleh. Uluran tangan disambutnya dengan pelukan hangat.
"Apa kau tidak akan memelukku?" suara merdu nan manja membuat Denny segera melepas pelukannya.
"Kemarilah!" merentangkan lebar-lebar kedua tangan.
"Aku merindukanmu."
"Aku juga, sangat merindukanmu." pasangan yang tidak lagi muda itu larut dalam kebahagiaan.
Ekhemm
__ADS_1
"Ah, maaf! Aku terlalu semangat."
"Baiklah, boleh dilanjutkan kok." ucap William hendak pergi.
"Ah, tidak! Kita harus segera membahas masalah ini. Aku tidak mau keterlambatan kita, membuat anak tidak punya dosa itu kehilangan ibunya."
"Maya! Apa yang kamu katakan?"
"Percayalah Mas, aku mengatakan apa yang seharusnya aku katakan! Mas William, tolong, jelaskan masalah ini."
"Sebaiknya kita duduk dulu." William mengambil inisiatif terlebih dahulu.
"Aku merindukanmu!" bisik Denny sebelum duduk. "Aku bahagia, sebab kau tidak ada sangkut pautnya dengan peristiwa yang menimpa Zea."
"Hai, dia anak juga menantuku, bagaimana bisa aku membuatnya celaka." Maya cemberut sebab masih saja dituduh.
"Duduklah, kita bicarakan dengan kepala dingin." Setelah semuanya duduk. "Aku cukup kecewa padamu Denny, kau lalai dalam menjaga keluargamu. Aku menyerahkan adikku karena aku percaya penuh kepadamu. Tapi sepertinya kau kecolongan."
Maya masih merangkul lengan Denny meski sudah duduk. Denny menepuk lengan itu lembut kemudian ikut tersenyum. William menahan rasa geram yang melanda jiwanya. Mereka tidak pernah berubah.
"Masalah terus saja muncul diantara kita. Maaf, atas keterlambatanku menangani masalah ini. Dan maafkan aku yang tidak percaya kepadamu."
"Yah, kita tertipu oleh permainan tikus kecil yang licik. Ternyata permainannya begitu lihai dan halus. Kita tidak bisa menduga arah panahnya dibidikkan."
"Aku juga menyesal telah pernah berbuat salah pada wanita itu, mungkin ada baiknya, aku akan meminta maaf. Mungkin dengan cara itu, masalah ini bisa selesai."
"Semoga masalah ini cepat selesai." ucap William.
"Nanti biar aku yang mengantarmu. Kita bicarakan baik-baik."
"Semoga dia mau berbesar hati." ketiganya hening sejenak.
tap tap tap
"Permisi, apakah kami sudah terlambat?"
"Kau! Kenapa kau bisa kemari?"
__ADS_1
Bersambung.....