Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Season 2 Chapter 25 Terlanjur


__ADS_3

"Semua sudah suratan tidak ada lagi yang bisa kita lakukan selain membuatnya terus dalam berada kepalsuan yang kubuat." Devan mengusap kasar rambutnya.


"Kenapa kau tega melakukan itu, setidaknya pikirkan apa konsekuensinya. Bahkan ada seorang anak yang tidak mengenal orang tuanya karena ulahmu itu." Rafa menuding wajah Devan, telunjuk itu lalu dia tekuk hingga mengepal kuat. Devan menatap nyalang genggaman itu, meski santai tapi batinnya juga tergores.


"Aku Abang yang tidak berdaya." lirih namun terdengar memilukan. Rafa meninju udara, tangan yang diperban itu tak sebanding dengan amarah yang meledak di dada. Devan menyandarkan tubuhnya pada kursi tunggu.


Kedua pria itu setia menunggu Zea yang tengah terbaring lemah di dalam ruangan.


"Satu bulan yang lalu, aku hampir saja melenyapkan nyawa tanteku sendiri." Rafa duduk dengan kasar di samping Devan. Keduanya kini tengah berperang dengan batin masing-masing. Keinginan untuk membalas budi sebab hutang kasih sayang yang pernah mereka rasakan sudah mendarah daging.


"Hal yang sama juga pernah aku lakukan, jika saja aku tidak mengingat janji yang pernah aku berikan kepada ayahmu." Amarah yang terpendam begitu jelas terlihat pada keduanya.


"Wanita itu sangat memuakkan." umpat Rafa tertahan, wajah yang biasanya teduh dan putih kini berubah merah.


"Ya, maka dari itu aku membiarkan Nyonya Jenna yang bertindak. Setidaknya hal itu bisa dimaklumi oleh ayahmu." Rafa menoleh dan mata mereka bertemu. Lalu keduanya tertawa sinis sebelum saling membuang muka.


"Apa kau pikir ayah belum tahu akan hal itu." Seolah mengejek kemampuan Devan dalam membaca gerak lawannya.


"Sepertinya tidak!"


"Kau salah, bahkan wanita itu berada di suatu tempat yang tidak terjangkau oleh siapapun." Devan mengerutkan keningnya. Bibir Rafa semakin terangkat sempurna.


"Entah apa yang membuat papa terus saja membela wanita itu, tapi sepertinya kita harus memendam dendam yang bersemayam di dada. Lagian wanita itu sudah terlalu renta untuk kita lawan."


Rafa merasa serba salah, satu sisi dia ingin berbakti kepada orang tua angkatnya, satu sisi lain, dia juga tidak ingin menyakiti orang tua kandungnya dengan menganiaya Maya.


"Tapi perbuatannya kepada Ziya ...!"


"Dia sudah tersiksa dengan takdirnya sendiri. Keluarganya hancur dan anaknya hanya menganggap dia sebagai perempuan biasa."


"Apakah itu cukup untuk menghukumnya?" Marah tentu saja, Devan mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Kau marah seolah merasa yang paling benar. Bahkan kau juga mengambil keuntungan dari kejadian ini sama seperti kakakmu yang sudah berada di neraka." Rafa juga berubah kepanasan. Menyalahkan semua hal yang membuat Ziya dalam masa sekarang. Dahulu ada Agung yang mengambil keuntungan, sekarang ada Devan, meski tahu sebenarnya bukan kehendak Devan sendiri, melainkan Marina yang licik dan panda bersilat lidah.


"Apa maksudmu?" Mata menyala Devan seakan membakar hidup-hidup adik angkatnya itu.


"Jangan kau pikir aku tidak tahu bahwa kau menggunakan Ziya untuk kelancaran bisnismu itu. Kau anggap dia apa hahh! Gadis Pembayar Hutang? KAU TIDAK LEBIH BAIK DARI MEREKA SEMUA." Tentu saja yang dimaksud adalah Nabila dan Aditya juga Maya. Rafa menganggap semua orang jahat pada Ziya.


Rafa menarik kerah jas Devan dengan satu tangan, cukup kuat, bahkan Devan sampai condong ke depan.


"Bukan itu tujuanku Rafa! Ziya berharga bagiku." kilah Devan yang sebenarnya memang tidak seperti itu. Devan murni memiliki tujuan untuk mempertemukan Ziya dengan orang tua kandungnya, juga untuk keselamatan nyawa Ziya dari kegilaan Maya.


"Lalu apaaaa? Kau menganggap adikku berharga? Sedangkan kau perlakukan dia sama seperti sebuah benda, Yang bisa kalian jual dan tambahkan sesuka hati. Kau tahu istrimu itu menyerahkan Ziya bukan tanpa alasan. Dia menggunakan Ziya untuk membayar hutang pabrikmu yang bangkrut itu." Semakin menguatkan tarikannya, Devan bahkan sampai tersengal.


"Sungguh Rafa, aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya ingin Ziya terbebas dari mertuanya dan hidup bahagia bersama orang tua kandungnya."


Devan menepis kasar tangan Rafa.


"Kau pikir aku anak kecil yang bisa kau bodohi dengan mudah."


"Terserah!"


"Sebab itulah kami bertengkar hebat kemarin." Rafa memutar kepala, menatap Devan yang masih saja dalam posisi yang sama. Hanya kini dia memainkan kakinya.


"Bagus!" Bibir Rafa terangkat sempurna. "Kau berani juga akhirnya," ejek Rafa tanpa menoleh.


"Bukan sebab berani atau tidak," Devan menoleh ke sembarang arah. Lalu tatapannya terakhir bertemu dengan netra Rafa yang sepertinya penasaran. "Kau ingat ayah?" Rafa mengangguk perlahan. Dialah ayah yang selalu merawat dan memberi mereka banyak nasihat.


"Kau tahu Rafa, menjadi sosok yang seperti ayah sungguh tidaklah mudah." Devan menunduk tapi ingatannya jauh kembali pada kenyataan yang membuat dia mengidolakan sosok Ardi, ayah yang sukses dalam ketidakberdayaan. Beliau selalu sabar dan mengalah kepada istri terlebih anak-anaknya. Dia mengemong dan menjaga anak-anaknya hingga menjadi sosok yang berguna. Bahkan tidak marah saat istrinya membawa anak orang lain dalam kehidupan mereka.


"Aku ingin seperti itu, sabar dalam menghadapi segala bentuk kehidupan di dunia ini. Termasuk dalam membimbing istriku."


"Tapi harusnya tidak dengan mengorbankan Ziya." Rafa masih kesal akan kelakuan Devan yang tidak bisa tegas. "Ayah Ardi baik untuk ditiru, tapi tidak dengan sifat lembeknya terhadap bunda Mila."

__ADS_1


"Itulah cinta."


Rafa menoleh dan menatap tidak suka. "Kau akan tahu jika sudah merasakannya." Rafa berdecih kemudian bangkit dan pergi.


✓✓✓


Di tempat lain, Mike memberi pelajaran kepada semua anak buahnya. Amarahnya sudah tidak bisa dia kendalikan.


"Kalian semua tidak becus!" nafas memburu dan wajah memerah membuat semua orang bergidik ngeri. Otot-otot tangannya terlihat jelas membuat siapa saja bergidik ngeri. "Kalian tidak berguna!"


"Cukup Mike! Kau juga tidak berguna." hadirlah satu wanita paruh baya yang berdiri tegak di tengah pintu masuk. "Kau salahkan semua orang sedangkan kau sendiri tidak menemukan adikmu. KAU YANG BERSALAH!"


"Mom!"


"Cukup!"


"Sudah aku katakan untuk tetap tinggal dan menjaga adikmu. Tapi kau tidak peduli kan?" air mata yang mengucur deras membuat dada Mike semakin sakit. Amarah, luka dan rasa tidak berdaya membuatnya mendadak melemah. Kepalan tangannya memudar lalu jatuh di lantai.


"Berikan hukuman padaku Mom!" Mike menjatuhkan tubuhnya, berlutut sambil menunduk di hadapan Jenna. Semua yang ada disana juga melakukan hal yang sama.


"Hukum kami saja Nyonya!" Menunduk sambil menekuk lutut mereka. Jangankan hanya cambukan, nyawa pun siap mereka berikan.


Jenna mengambil pistol yang berada di saku celananya. Dengan perlahan dia menodongkan pistol itu. Semua orang nampak bergeming. Diam dan sunyi juga mencekam. Hati Jenna yang sudah begitu kalut dan gelap.


"Anakku hilang, maka kalian yang bertanggung jawab. Kalian semua tidak guna." Jenna menarik pelatuk dan mulai menodongkan pistol ke arah salah satu dari anak buahnya.


Semua orang bergetar dan mungkin saja beberapa kencing di celana.


"Kalian semua takut!" senyum devil Jenna bagaikan malaikat maut. "Kalian sudah siap?" Senjata itu ditunjukkan kepada satu persatu mereka semua yang ada di sana.


Dor

__ADS_1


"Kau!"


Bersambung.....


__ADS_2