
Halo semuanya, apa kabar? Para readers yang aku sayangi dan aku cintai. Maaf, sebab update nya tidak menentu, karena sebuah urusan yang tidak bisa author tinggalkan. Mohon pengertiannya ya.
Terima kasih selalu untuk dukungan kalian, semoga tidak bosan dengan cerita receh saya ini yang mungkin tinggal beberapa bab lagi. Selamat membaca, dan selalu dukung Author ya...emmuach
"Terima kasih sebelumnya, Tuan. Sebab Anda bersedia untuk mengantarkan saya pulang." Aditya hanya tersenyum tipis, hatinya puas, tentu saja. Rizal hanya geleng kepala dan diam seperti patung hidup.
Flashback.
"Sebaiknya, jika kau masih menginginkan dirinya, kau mulai lagi dari awal. Sebab dia tidak mengenali dirimu. Bahkan mungkin melupakan cinta yang pernah ada di antara kalian. Dan aku sarankan agar kau berhati-hati." menepuk pundak Aditya dan kemudian pergi menyusul Ziya.
"Berhati-hati!" lirih Aditya tidak mengerti.
"Ya, sebab kau tahu sendiri bukan? Bagaimana perangai kakaknya itu." Aditya nampak tenang, meski Rafa mencoba menakuti. Rafa yang penasaran akan reaksi Aditya, membalikkan badannya dan melanjutkan obrolan.
"Mike adalah sepupu Tuan Vino. Putra dari Jenna, putri ketiga dari Nyonya Flora," jawab Aditya
"Sepertinya kau begitu mengenal mereka?" Aditya hanya diam dan terus menatap ke arah Zea.
"Berikan aku waktu untuk bersamanya. Aku akan membawa dia kembali."
"Jangan bodoh." Rafa ingat akan dirinya saat di taman dan rumah sakit. Zea sampai mengeluarkan darah "Dia tidak bisa diganggu, biarkan waktu yang mengantarkan dia kembali pada ingatannya. Atau mungkin memang sebaiknya dia melupakan itu semua. Kecuali kau memang termasuk orang yang bodoh." Berharap Aditya mendengar peringatan darinya.
Rafa yang sebenarnya begitu peduli itu mendengus kessl
"Cinta memang bodoh. Dan harus bodoh agar bisa belajar lebih baik lagi." Baru kali ini Aditya bicara banyak kepada Rafa.
"Jangan gegabah."
"Tidak, sebab aku pun akan mati jika sampai dia pergi lagi."
"Omong kosong!"
Keduanya hening sejenak, Rafa tahu benar bagaimana hancurnya orang di hadapannya itu melewati hari-hari yang buruk sebab kepergian Ziya. Dan Aditya mulai menyusun akal liciknya agar Ziya kembali kepadanya.
"Kau kemarin pergi menemui Nabila, apakah kau sudah bertemu dengan dirinya?" Yang dimaksud tentu saja Zafran.
"Dia sangat mirip denganku. Hanya saja ..." Nampak kesedihan yang dalam. Semua yang terjadi bagaikan belati yang menusuk sanubari. Aditya bahkan tidak menyangka jika semua itu karena ulah ibu kandungnya sendiri.
__ADS_1
"Dia hidup dengan baik di sana. Bahkan aku berpikir, jika dia tidak tahu dirimu, ternyata dia lebih pintar dari itu." Aditya menegakkan badan kemudian menatap Rafa dengan sejuta tanda tanya.
"Benarkah?" pada akhirnya, dia membongkar isi kepalanya. Rafa tersenyum mengejek.
"Kau tidak tahu itu?" Aditya berdecih.
"Aku sangat bersyukur, Tuhan begitu penyanyang, hingga keluargaku masih utuh meski ... Ah sudahlah." tidak seharusnya dia bertingkah seperti gadis yang tengah patah hati. pikir Aditya.
"Dia keponakanku yang luar biasa. Akalnya lebih dewasa daripada umurnya. Bahkan aku sudah berjanji kepadanya untuk mengajarkan banyak hal." senyum di bibirnya menunjukkan sebuah rencana yang sulit untuk dibaca, tapi Aditya tahu benar apa maksudnya.
"Jangan ajari yang tidak-tidak ...!" Aditya sangat tahu perangai Rafa. Pria itu lebih menyeramkan daripada harimau liar. Bisa saja putranya akan menjadi lebih buas.
"Kami sudah membuat perjanjian." Rafa tersenyum penuh kemenangan. Dia lebih unggul satu langkah dari Aditya, tentu suatu anugrah yang luar biasa. "Bahkan dia dengan antusias ingin sekali naik kuda sambil memanah."
"Tidakkah kau biarkan aku hidup dengan tenang." kesal Aditya, merasa sebal sebab anaknya lebih dekat dengan orang lain.
"Sepertinya mustahil. Sebab aku akan selalu menjadi bagian dari kehidupanmu mulai kau jadi adik iparku." Rafa menunjukkan statusnya.
"Kita sepupu."
"Tapi aku tetap yang lebih tua. Panggil aku Mas, dan hormati layaknya saudara yang dituakan."
"Biarkan aku lebih dekat dengan dirinya." Berharap agar dengan ini dia bisa merajut cinta yang lama terpisah. Aditya bersumpah akan merebut cintanya dari siapapun, termasuk Rafa.
"Wani Piro?" Dengan pongahnya Rafa menyebalkan.
"Hai,
"Aku tahu, tapi bisakah kau sedikit bermurah hati?"
"Baiklah, aku biarkan kau berusaha, ini kesempatan terakhir bagimu. Tidak ada lain kali lagi." wajah tampan Rafa berubah dingin dan netranya setajam mata elang.
Setelah itu mereka kembali, Rafa berpura-pura memiliki janji dengan klien. Aditya pun melakukan perannya untuk membujuk Zea agar mau diantar olehnya.
Sekarang
"Nona Zea!" suara Aditya tercekat di kerongkongan dalam beberapa detik kemudian. Wajah Zea terlalu indah untuk dilewatkan. Lengkungan indah di bibir Zea menjadi pusat perhatiannya, bolehkah dia merasakannya sedikit saja? Menyalurkan rindu yang lama tak terobati, menyembuhkan luka yang tergores akibat kesalahan orang lain.
__ADS_1
"Tuan!"
"Hai." menjentikkan jarinya tepat di wajah Aditya. "Jangan melihatku seperti itu, atau Anda tidak akan bisa tidur semalaman." entah keberanian darimana, Zea mengatakan kata konyol itu.
"Kau yang akan datang untuk menidurkanku." mengedipkan sebelah matanya dengan genit. Zea sampai melongo dibuatnya, matanya berkedip-kedip agar pikiran kotor diotaknya segera pergi. Terlintas di benaknya bagaimana perangai Mike selama ini.
"Hai, kok melamun. Jangan katakan kalau kau sedang membayangkannya." goda Aditya. Seketika wajah itu memerah, bibirnya berkedut, bola matanya membulat dan kemudian pupilnya mengedip indah, ternyata respon yang sama saat mereka masih bersama. Tidak kuasa Aditya menahan gejolak di dada.
Cup
"Emmmphh." hingga nafasnya tersengal.
"Kau begitu manis!" Zea terbengong tidak berdaya, tubuhnya lemas seketika dan bayangan itu datang seperti hantu yang membuat tubuhnya melemah. Sekelebat ada kenangan manis yang lewat, namun kemudian berganti dengan bayangan hitam yang menakutkan.
"Zea ... kau baik-baik saja?" keringat dingin mulai keluar. "Zea! Maafkan aku!" Aditya menarik Zea ke dalam pelukannya.
Nyaman! Batin Zea dibalik tubuh yang semakin melemah dan detak jantung yang terpacu lebih cepat. Perlahan bayangan hitam itu mulai menipis.
"Apa perlu kita ke rumah sakit Tuan?" Rizal yang sedari tadi pura-pura buta dan tuli akhirnya angkat bicara.
"Ah, iya...!"
"Tidak, aku tidak mau, biarkan aku istirahat sejenak." Pinta Zea yang masih mendengar walau dengan mata terpejam.
"Istirahatlah dengan tenang, Sayang. Aku akan menemanimu di sini." Mengusap lembut kening Zea, dan sesekali mendaratkan ciumannya.
"Zea!" Setelah beberapa lama Zea terdiam, Aditya menebak pasti gadis itu sudah tidur "Kau masih sama seperti dulu, lebih senang tidur dalam pelukanku." mencium lagi dan lagi. "Bagaimana kamu bisa hidup selama ini? Sedangkan aku saja tidak tenang hidup tanpa dirimu, hatiku hancur dan duniaku berantakan. Musnah bersama kabar kepergian dirimu. Tapi sekarang kau kembali aku tidak akan mengizinkan dirimu pergi walau sedetik saja. Zea, aku mencintaimu. Cinta yang sama yang dimiliki oleh Ziya."
Rizal sesekali melirik pada kaca spion, melihat bagaimana bosnya seperti orang gila.
"Jangan mengejekku, Zal. Makannya jatuh cinta, biar kau tahu rasanya." Terkadang Bosnya itu bagai cenayang, yang bisa menebak isi hati orang lain.
"Tidak Tuan!"
Brakkk
"Apa yang kau lakukan Zal?"
__ADS_1
"Maaf Tuan, Sepertinya ....
Bersambung...