Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Masa lalu


__ADS_3

Maya sudah beberapa hari berada di rumah. Ziya mengurusnya dengan telaten meski tidak jarang lagi mendapat cemoohan dan perlakuan tidak baik dari Maya. Seperti pagi ini, Ziya membawakan makanan untuk mertuanya. Jika di tanya apakah Ziya merasa sakit hati dan ingin membalas perlakuan buruk mertuanya. Maka, jawabannya adalah tentu saja.


Setiap perbuatan buruk tidak harus di balas dengan keburukan. Ziya sebisa mungkin mencegah hati dan pikirannya untuk membalas dendam kepada Maya.


"Kau ingin balas dendam kepadaku kan?" Maya mengipas mulutnya dengan tangan. Bubur panas itu telah membakar mulutnya.


"Jika memang aku ingin, mudah sekali membinasakan anda. Tapi aku masih cukup waras untuk tidak menghilangkan nyawa manusia seperti yang anda lakukan."


"Berani kau melawanku sekarang, hahhh!" Maya cukup terkejut dengan jawaban Ziya, pasalnya selama beberapa hari Ziya hanya diam saat Maya mengejeknya.


"Jika cacing saja bisa menggeliat ketika diinjak, dan semut bisa menggigit ketika di ganggu, aku manusia biasa yang bisa khilaf, karna selalu mendapat hinaan dan cacian." Ziya meletakkan nampan di meja dengan kasar. Dia berlari meninggalkan Maya sambil mengusap air mata menetes.


"Apa kesalanku, apa salahku!" memukul dadanya sendiri. Ziya merosotkan tubuhnya ke lantai. Hingga sebuah tangan kekar memegang pundaknya.


"Papa!" Ziya mengusap air matanya kasar dia berusaha menyembunyikan kesedihan yang dia rasakan.


"Kemarilah, Nak! papa ingin menyampaikan sesuatu kepadamu," Denny memegang bahu menantunya dan mengajaknya duduk berhadapan tak jauh dari tempat Ziya menangis.


"Papa minta maaf atas semua yang di lakukan oleh istri papa terhadapmu!" Denny menatap wajah menantunya yang di penuhi air mata. Denny mengusapnya pelan lalu kembali menggenggam tangan menantunya.


"Ziya ngerti, Pa! Ziya tahu mama hanya depresi, karna tidak bisa berjalan untuk sementara. Pasti rasanya tidak nyaman ya, Pa!" Ziya mencoba tegar dengan hiburan konyol yang dia cipatakan sendiri.


Padahal dia cukup mampu mengerti semuanya. Kadang dia merasa bahwa mertuanya tidak akan mau menerima dirinya. Jika seperti itu, dia ingin sekali menyerah dan pergi dari kehidupan Aditya. Tapi apa salah Aditya dalam hal ini. Aditya begitu mencintainya, bahkan rela berbuat apa saja demi dirinya.

__ADS_1


"Kamu jangan membodohi diri kamu sendiri Ziya! Papa bahkan sudah lebih banyak makan asam garam dari pada dirimu," Denny menyindir menantunya yang kelihatan sok tegar di hadapannya.


"Maafkan Ziya, Pa!" lirihnya.


"Bukan kamu yang salah, tapi papa! Papa telah salah dengan menutup kejahatan Maya atas kasus pembunuhan ibumu," mata Denny berkaca-kaca dia menatap sendu wajah menantunya yang mirip sekali dengan Mila, seorang sahabat yang selalu ada untuknya. Tapi harus mati di tangan istrinya sendiri akibat cemburu.


"Papa tidak tahu, kalau dampaknya akan seperti ini, Maya bahkan tidak merasa bersalah kepadamu dan terus saja menghina dirimu. Papa mengerti, tentu kau sangat bersedih akan hal ini. Kau pasti juga mengutuk kejahatan Maya dan membencinya."


"Papa!" Ziya mencoba menenangkan Denny yang sudah nampak bersedih. Denny bersedih, karna dibutakan oleh rasa cintanya terhadap sang istri dan demi menjunjung tinggi kehormatan keluarga. Dia memusnahkan bukti tentang kejahatan Maya.


"Papa menyesal, Nak! papa benar benar menyesal. Papa minta maaf kepadamu," ucap Denny semakin mengeratkan genggamannya.


"Andai papa tidak terlalu mencintai, dan berani menegakkan kebenaran, tentu kamu tidak selalu di hina oleh Maya, tentu ibumu sudah tenang di sana, karna mendapatkan keadilan." Denny mengeluarkan cairan bening di kedua matanya. Dia langsung mengusapnya dengan lengan.


"Ziya, anakku! kamu begitu baik, aku sudah mengangapmu sebagai putriku sejak kita bertemu pertama kali. Apa kau ingat saat itu aku bertemu denganmu saat kau dan Raka bermain petak umpet," Denny tersenyum mengingat kejadian itu.


Dia yang kebetulan meninjau proyek tidak jauh dari tempat tinggal Ziya di masa kecilnya. Ziya kecil menyuruh Denny diam dengan meletakkan jari di telunjuknya. Saat itu, Denny menuruti permintaan Ziya, hingga Raka yang mencarinya kemana-mana. Padahal Ziya bersembunyi di belakang Denny duduk.


"Iya, mas Raka mencariku sampai menangis." Ziya melupakan sejenak permasalahannya dengan mama mertua. Mereka tertawa mengingat kejadian itu.


"Lalu kita pergi dari sana dan makan gulali. Kau begitu cerewet saat itu," Denny mengingat kenangannya bersama Ziya kecil. Ziya yang ceria dan lucu membuat siapa saja yang mengenalnya merasa terhibur. Dan sejak itulah, Denny ingin memiliki seorang putri.


Tapi sayangnya, dia harus pergi keluar Negeri untuk perjalanan bisnisnya dia pun menunda impiannya untuk memiliki anak kembali. Dan setelah kembali dari luar Negeri, Denny mengalami kecelakaan, karna orang suruhannya mengatakan jika Maya telah berselingkuh selama dirinya pergi. Denny yang begitu frustasi menyetir dalam keadaan mabuk. Dia yang menginginkan anak perempuan dan mulai mempersiapkan segalanya mulai dari pemeriksaan kesehatan dan lain sebagainya. Semua sia sia, karna penghiatan sang istri.

__ADS_1


Di saat seperti itulah, dia menemui Ziya kecil yang di anggapnya bisa melupakan sejenak kesedihan di hatinya. Dari seringnya bertemu dengan Ziya, Denny juga bertemu dengan orang tua Ziya. Denny tidak menyangka, jika orang tua Ziya adalah Ardi, orang yang banyak membantunya semasa kuliah.


Akhirnya keduanya menjalin hubungan kerja sama. Selain itu, Denny juga mempunyai tujuan lain, yaitu ingin mengusut tentang identitas Raka, yang menurut Denny wajah Raka begitu mirip dengan iparnya yaitu William.


Dari hari ke hari, Denny sering berkunjung ke tempat keluarga Ziya. Keharmonisan keluarga itu, membuat hati Denny iri, terlebih sikap Mila yang begitu bijak dalam menghadapi segala permasalahan. Denny sering bertukar pikiran dengan Mila dan Ardi, baik mengenai keluarga ataupun bisnis, karna Mila lah usaha material keluarga Ziya berkembang pesat.


Mila juga menjadi tempat curhatnya ketika Denny bertengkar dengan Maya. Hubungan itu semakin erat, saat Raka memang terbukti anak William dai Raya, yaitu orang yang ditemukan oleh Ardi dan Mila sebelum meninggal.


Ardi menganggap hubungan Mila dan Denny wajar saja, hanya sebatas rekan kerja dan pertemanan, tapi tidak dengan Maya yang memang ketahuan selingkuh. Apalagi Maya terancam akan di coret dari nama keluarga karna keburukannya.


Maya yang memiliki akal licik, menuduh Denny selingkuh juga, agar tidak di salahkan secara sepihak. Alhasil Denny yang lemah, karna terlalu mencintai, menerima Maya dan anaknya dari hasil selingkuhan itu.


"Iya, tapi setelah itu paman selalu lebih perhatian kepada mas Rafa," ucap Ziya pura pura ngambek. Suara Ziya membuyarkan lamunan Denny.


"Apa yang kamu bilang Ziya!" Denny tergagap.


"Papa mikirin apa, seh. Kok seperti orang kebingungan?" tanya Ziya.


"Tidak! papa hanya merasa lelah. Papa istirahat dulu ya, Nak!"


Bersambung....


Mampir juga yuk ke karya baru aku

__ADS_1



__ADS_2