
"Ma, apa yang terjadi ma? kenapa Aditya begitu marahnya sama mama." Maya duduk di tepi ranjang sambil terus menangis sesenggukan. Rencananya hancur berantakan saat ini, dia pun bingung harus bagaimana, semua telah terjadi.
"Ma, jawab. Apa ini semua ada kaitannya dengan penculikan Ziya?" Maya hanya semakin menangis.
"Aku tidak bermaksud untuk melakukan itu, pa! mama hanya ingin memberinya peringatan."
"Apa maksud mama." Denny mengguncang bahu istrinya. "Kau keterlaluan ma. Kau ingin mencelakai menantumu sendiri."
"Karna aku tidak suka dengan Ziya pa, dia sangat jauh dari menantu idaman mama."
"Ma, kenapa pikiran mama begitu sempit. Mama hidup di zaman modern, tetapi pikiran mama masih kolot. Kita bersyukur mendapatkan menantu yang sederhana, yang tidak memprioritaskan harta kita. Berarti, dia tulus mencintai anak kita ma."
"Tapi, pa mama sudah janji sama temen mama, untuk menjodohkan Aditya dengan anaknya."
"Terus, mama ingin Aditya berpisah dengan Ziya. Mama keterlaluan." Tidak mengerti dengan jalan pemikiran istrinya. Maya memang orang yang ceroboh dan plin plan tetapi Denny tidak menyangka istrinya bertindak sejauh ini. Denny hanya berpikir saat Maya menyita kunci kamar Ziya, Maya ingin menjauhkan Ziya dan Aditya dari fitnah. Namun kebenarannya bukanlah itu, melainkan Maya mempunyai rencana lain.
"Lalu, untuk apa mama mempersiapkan resepsi pernikahan mereka berdua."
"I..tu mama."
Tidak mungkin, dia bilang kalau itu adalah bagian dari rencananya saat ini. Ketika Ziya sudah mulai bimbang dengan Aditya, Maya akan menyuruh Ziya pergi di hari resepsi pernikahan mereka. Dan akhirnya anak teman sahabatnya yang menggantikan posisi Ziya. Itulah rencana Maya.
"Ayo katakan kenapa?"
Denny mulai geram.
"Apa seh pa! mama...!"
"Ma, jangan membodohi aku lagi ma, aku tahu, mama memang sengaja membunuh Mila waktu itu kan. Namun mama menyangkalnya, dengan dalih mengajak mbak Mila berbisnis. Aku dan mas William tahu semuanya ma, makannya kami berikan uang itu sebagai penebus dosa mama. Tapi apa sekarang, mama juga mengulangi hal yang sama."
"Pa, mama tidak bermaksud...!"
"Tidak bermaksud apa ha...! sudah ada buktinya, mama mau mengelak, mama ingin menyingkirkan Ziya seperti menyingkirkan ibunya. Saat itu, aku percaya, mama tidak mungkin melakukan hal itu, tetapi sekarang, jangan harap papa akan mempercayainya lagi."
"Pa..!" Maya semakin menangis terisak.
"Pa, jangan benci mama pa!" Denny mengerutkan kedua alisnya.
"Papa tidak pernah bisa membenci mama, tapi papa membenci kelakuan mama. Mama tidak pernah berubah, kenapa mama tidak pernah memikirkan perasaan orang lain, dan mama gampang sekali terpengaruh omongan orang. Dulu saat akan menikah, papa pikir, mama kabur bersamaku karna mama cinta sama papa, ternyata tidakkan, mama terpengaruh ucapan orang, yang mengatakan calon suami mama itu miskin."
__ADS_1
"Tapi itu kan masa lalu pa! kenapa diungkit lagi." Maya frustasi karena sedari tadi, dia mendapatkan ceramah dari suami yang menurutnya unfaidah.
"Karna sifat mama itu masih terbawa sampai sekarang. Sebaiknya mama merenung dan mengoreksi diri mama." Denny pun keluar kamar dengan membanting pintu.
🌷🌷🌷
Pagi hari.
Di sisi lain, seorang gadis duduk di kursi dengan tangan terikat kebelakang. Kepalanya masih terasa pening. Dia ingat, saat orang orang yang menghadangnya di jalan, membawanya masuk ke dalam gedung tua. Tapi setelah itu, dia melihat ada dua orang masuk dan menutup matanya. Saat berusaha berontak, dia merasakan sakit di bagian kepala dan tak sadarkan diri. Tapi sekarang, kain itu hanya ada di mulutnya saja.
Upayanya melepas ikatan di tangannya sia sia. Dia hanya bisa berharap akan ada malaikat yang menyelamatkan dirinya. Dua orang menjaganya di depan pintu. Gudang yang penuh dengan barang barang yang sudah tidak terpakai lagi itupun semakin membuatnya sesak bernafas. Apalagi, kain yang menutup mulutnya saat ini.
Jam berapa ini ya Allah, aku belum menjalankan kewajibanku.
Ziya masih berusaha sekuat tenaga melepas ikatan di tangannya, tapi hanya rasa perih yang di dapat. Terdengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya. Diapun berusaha tenang kembali agar penculik tidak mengetahui rencananya untuk kabur.
"Apakah, dia sudah sadarkan diri." Suara seorang perempuan menggema di luar.
"Sejak tadi belum sadar nona." Jawab pria penjaga di sana.
"Aku ingin melihatnya."
Suara sepatu Marina makin terdengar jelas, dia menatap lekat lekat wajah Ziya. Senyum sinis terbit di wajah cantiknya.
Semoga, dia tidak tahu kalau, aku sudah sadar.
Ziya merasakan tangan lembut mengusap dagunya dan menolehkannya ke kanan juga ke kiri.
"Kau memang cantik, gadis kampung. Pantas saja Aditya tergila gila padamu. Tapi sayang, mertua bodohmu itu malah berusaha melukai dirimu. Tapi bagus juga, dengan begini, aku bisa menghancurkan keluarga itu."
Marina, ya bukankah itu Marina.
"Hai, kau bangunlah Ziya, aku tahu kau sudah sadarkan diri." menunjuk pipi Ziya dengan jari telunjuk.
Bagaimana, dia bisa tahu. batin Ziya.
Ziya akhirnya mengerjap setelah mendengar Marina mengatakan itu. Senyum sinis Marina sangat jelas terlihat.
"Kenapa, kau menculikku, Marina?"
__ADS_1
"Siapa? aku!" menunjuk dirinya sendiri. Lalu dia berjalan anggun sambil memainkan kuku kuku cantiknya.
"Aku hanya meneruskan apa yang di perbuat mertuamu, Pembantu." Masih sambil memainkan kuku cantiknya.
"Apa maksudmu Marina. Kau jangan membuat fitnah." Ziya tidak terima.
"Ohooo...kau begitu membela mertuamu itu. Andai saja, kau tahu." Marina melenggang pergi meninggalkan ruangan itu sambil mengibaskan rambutnya.
"Marina, jangan pergi kau, lepaskan aku. Marina..!" Mencoba berontak.
Apa benar yang di katakan Marina, atau, dia hanya ingin membalas perbuatan Aditya yang menolaknya. batin Ziya.
Saat Ziya kalut dalam pikirannya sendiri, perutnya pun berbunyi, dia merasa lapar sekali. Suara sepatu itu kembali mendekat. Marina datang dengan satu pengawalnya membawa nampan berisi makanan.
"Kau makanlah dulu. Pasti, kau sangat kelaparan bukan!"
Marina berucap dengan angkuhnya.
"Marina, kenapa kau lakukan ini padaku. Apakah karna Aditya menolakmu waktu itu." Marina hanya tersenyum sinis menanggapi.
"Makanlah dulu, agar kau kuat menghadapi pernyataan yang akan, aku berikan."
menyodorkan piring pada Ziya. "Buka ikatannya." Marina memberikan perintah, pria itu pun dengan sigap berusaha membuka ikatan tangan Ziya.
"Terima kasih, Marina."
Marina menautkan kedua alisnya.
Dia polos apa bodoh, aku menyekapnya, tapi, dia mengucapkan terima kasih, hanya aku lepaskan ikatannya.
"Cepat makanlah. Dan jangan berusaha untuk kabur dariku." Dengan lahap Ziya memakan makanannya. Dia merasa sangat lapar, karna dari kemarin belum makan.
"Ziya, aku ingin memberikan sebuah tawaran kepadamu. Jika, kau menerima tawaran ini, aku akan membebaskan dirimu, tapi, jika kau menolaknya, aku terpaksa mengurungmu di sini."
"Itu namanya bukan tawaran, tapi paksaan." Ziya menyolot.
Hahahaha...
"Kau pintar sekali, gadis kampung."
__ADS_1
Bersambung.....