
Daun yang telah mengering, gugur ke bumi bersama sang waktu. Siapa yang kan peduli?
Hati manusia tidak pernah bersih sempurna, begitupun akan akal dan juga tabiatnya. Seseorang yang memiliki penyakit hati, akan sulit disembuhkan oleh obat apapun. Kecuali berserah diri pada yang Maha membolak-balik kan hati.
"Zea, sudah ada bersamaku. Sekarang kau nikmati saja hari-harimu dengan bahagia." pesan itu dikirimkan oleh Jack kepada Marina setelah dua jam yang lalu. Marina yang masih menginginkan kehancuran keluarga Bagaskoro, tentu sangatlah senang bukan kepalang.
Tiga tahun yang lalu, rencananya telah gagal total. Sebab Zea nyatanya bisa selamat dan jatuh ke tangan orang tua kandungnya. Marina berharap dengan begitu, Aditya akan selalu terpuruk sehingga berimbas pada kelangsungan hidup Maya.
(baca part 17 season 2)
Rencana yang sebenarnya adalah, Marina telah menjalin kerja sama dengan teman Maya, yang notabenenya adalah seorang germo kelas atas yang bernama Rima. Marina sepakat untuk menculik Zea guna menjualnya ke pasar gelap. Tentunya setelah Zea melahirkan. Tapi, hal itu tanpa sengaja diketahui oleh Devan. Devan yang menyangka jika Marina memang benar-benar berubah, menceritakan info yang dia dapatkan dari anak buahnya pada Marina, bertepatan dengan turunnya harga saham perusahaan.
Marina memutar otak guna menyelamatkan dirinya sendiri dan juga perekonomian keluarga. Marina pun menghasut Devan agar mau bekerja sama guna menyerahkan Zea kepada keluarga kandungnya tanpa sepengetahuan Aditya.
Zea akhirnya di rebut kembali oleh Devan dari tangan Rima. Dan setelah berhasil, dibawa kepada orang tua kandungnya. Hal itu terjadi setelah Zea melakukan operasi sesar. Marina membayar dokter khusus dalam operasi itu. Dokter ahli yang pernah bekerja sama di lab milik Agung dulu. Zea berhasil melahirkan seorang anak laki-laki. Dan anak itu tidak mau minum susu Formula. Oleh Devan, bayi itupun dibawa kepada Nabila dan Steven, kemudian dibawa ke Kanada karena Steven harus meneruskan usaha keluarga. Saat itu, Nabila dan Steven juga memiliki seorang bayi. Nabila memiliki produksi ASI yang sangat bagus. Sehingga dia mampu menyusui dua anak sekaligus.
Saat Devan membawa bayi mungil itu kepada Nabila, Marina kembali melancarkan niat jahatnya. Dia memasukkan sejenis virus yang bisa yang bisa menyebar dalam jangka panjang kedalam tubuh Zea.
Marina yang begitu benci akan keluarga Bagaskoro, membuat berita palsu jika Zea mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat kejadian. Aditya yang mendengarnya sangat terpukul. Saat melihat jasad Zea, hampir saja dia tidak percaya jika itu Zea. Tapi cincin pernikahan yang melingkar di jari si mayat, mengugurkan semua kebimbangan Aditya. Hingga menimbulkan luka dan air mata yang berkepanjangan. Aditya pun hidup selama tiga tahun dengan kepribadian ganda.
Zea kembali tersadar dari koma pasca operasi dalam keadaan yang sama sekali kurang baik, dia lupa ingatan, seringkali muntah darah. Kesempatan itupun digunakan oleh Marina guna menyingkirkan Zea dari Indonesia.
__ADS_1
Marcel dan Jenna selaku orang tua kandung Zea, tentu saja khawatir akan keadaan anaknya, melakukan pengobatan yang terbaik buat sang anak. Zea akhirnya dibawa berobat ke Inggris tempat dimana keluarga besar Anderson berada. Zea mendapatkan identitas baru dan melupakan identitas lamanya.
Marina tetap waspada setiap saat, dia bahkan mengirimkan Jack untuk memata-matai keluarga Anderson dengan dalih memberikan edukasi pelatihan kelompok bawah tanah. Dan semuanya telah terjadi seperti yang direncanakan oleh Marina. Kecuali bersatunya kembali Zea dan Aditya.
"Aku puas sekarang, Zea yang tidak lain adalah Ziya akan meregang nyawa. Zea hanya bisa hidup dengan bantuan obat. Tapi, itu tidak menghilangkan akar penyakitnya. Zea akan tetap kesakitan hingga waktunya tiba. Dan aku akan tersenyum senang karenanya."
"Jadi, semua ini adalah rencanamu?" Devan datang entah darimana. Kilat wajahnya menampakkan kemarahan.
"Devan, kau ...! Kau sudah pulang, Sayang?"
"Tidak usah berpura-pura lagi, Marina. Jadi mereka semua benar. Kau adalah dalang dibalik peristiwa buruk yang menimpa Zea?" Devan merasa sangat bodoh karena tertipu oleh perubahan pura-pura Marina. Devan mengacak rambutnya frustasi. Hatinya sungguh sakit. Merasa dibodohi. Beberapa saat Devan terdiam dalam pikiran yang kacau.
"Devan, ini tidak seperti yang kau bayangkan. Akan aku jelaskan semuanya. Tidak sepenuhnya mereka benar."
"Sekarang, berikan obat itu kepadaku." pinta Devan.
"Tidak akan pernah." Marina membuang muka kesal.
"Berikan penawar itu, Marina. Zea tidak pantas kau perlakukan seperti ini," teriak Devan.
Entah setan apa yang merasuki jiwa Marina hatinya semakin terluka. Orang-orang yang dia sayangi selalu saja memihak pada orang lain itulah yang dia benci.
__ADS_1
"Dia pantas mendapatkannya. Dia pantas diperlakukan seperti itu. Dia... dia adalah wanita yang telah mengambil kebahagiaanku. Dia berani mengambil Aditya dariku. Dia juga telah mengambilmu dariku. Apa kau tidak tahu itu?"
"Apa? mengambilku?" Devan begitu tercengang sambil tersenyum hambar "Apa maksudmu? apa yang kau katakan Marina?" Devan mendekat dan mengguncang bahu Marina dengan sangat keras. Marina mencampakkan tangan Devan yang menempel di bahunya dengan sangat kasar.
"Kau lebih peduli padanya daripada aku. Kau...kau juga lebih sayang padanya. Aku tidak kau pedulikan. Setiap hari, kau hanya bicara tentang Ziya, Ziya dan Ziya. Kau begitu mengagumi dirinya seolah dia adalah seorang malaikat. Apa kau tidak sadar akan hal itu?" teriak Marina penuh kemarahan.
"Aku sungguh tidak mengerti jalan pikiranmu itu. Bukankah berulang kali aku tegaskan, dia adalah adikku. Tentu saja aku peduli padanya."
"Itu bukan kepedulian, tapi kau mencintainya. Kau mengagumi dirinya melebihi kekagumanmu padaku. Apa kau tidak menyadari hal itu." Suara Marina lebih kencang daripada Devan. Devan menggelengkan kepalanya berulang kali, sungguh sulit menjelaskan yang sebenarnya pada perempuan picik semacam Marina. Hatinya yang diliputi kegelapan, sama sekali tidak mendapatkan pancaran cahaya.
"Percuma saja memberi pengertian padamu." Devan melangkah pergi menuju tempat dimana Marina biasa menyembunyikan hal rahasia.
"Mau kemana kau?" panik Marina ketika melihat Devan menuju ke arah ruangan dimana penawar itu di simpan. Devan mengacak semua barang.
"Sayang, Devan! apa yang kau cari? tidak ada apapun yang berharga di sini!" Marina tetap mengikuti Devan.
Devan berhenti sejenak, guna mengingat sesuatu. Ya! sebuah kotak kayu. Devan membongkar tempat penyimpanan rahasia di bawah meja.
"Apa yang kau lakukan, Devan!"
"Minggir kau! Jangan halangi aku!" Devan mendorong tubuh Marina hingga jatuh ke lantai. Yah, sebuah kotak kayu telah berhasil dia temukan.
__ADS_1
"Tidak!"
Bersambung.....