
Seorang wanita paruh baya duduk melamun sambil menopang dagunya. Kejadian di lift kala itu masih membuat pikirannya tak tenang. Dia terburu buru memasuki lift dan tanpa sadar, ternyata bukan hanya dia seorang di sana. Ada seorang pria lagi. Maya acuh saja seakan tidak ada orang di sampingnya. Tapi saat lift terbuka dan hendak melangkahkan kaki keluar, pria itu mencekal lengan Maya. Sontak saja Maya menoleh.
"Kauuuuu!" Seringai muncul di sudut bibir pria itu.
"Ya, aku. Ternyata Tuhan begitu baik ya, sayang. Setelah sekian lama, kita dipertemukan kembali." Mengusap rambut Maya, tapi langsung di tepis oleh Maya.
"Kau, berani sekali, kau menampakkan diri di hadapanku." Maya menuding pria itu. Bertahun tahun Maya berusaha menyingkirkan orang ini, tapi masih saja, orang itu muncul di hadapannya.
"Karna, aku merindukanmu, sayang!" mengikis jarak antara dirinya dan Maya. Pria itupun hendak mencium bibir Maya, tapi Maya menoleh, sehingga mengenai pipi. Pria itu tersenyum kecut, tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. Merutuk dalam hati, namun bersikap biasa saja. Melanjutkan ciumannya meski bukan di bibir.
"Harummu masih sama, aroma yang menjadi candu bagiku." nafas pria itu menerpa telinga dan leher Maya. Kesalahan yang terjadi beberapa tahun silam pun teringat kembali.
"Hentikan Rama! kau pria brengsek." Mendorong dengan sekuat tenaga. Pria itu hanya bergeser satu langkah saja.
Ting
Pintu lift terbuka, beberapa orang di luar telah bersiap masuk kedalam lift. Kesempatan itupun di gunakan Maya untuk menghindari laki laki itu. Maya sesegera mungkin mencapai tempat parkiran dan melajukan mobilnya.
Maya bingung saat ini, apa yang harus, dia perbuat untuk menyelesaikan masalah ini.
Tanpa, dia sadari ada seseorang yang memperlihatkan dirinya beberapa menit lalu.
"Ma...mama...mama!" mengibaskan tangannya di depan muka sang istri, tapi tak di respon.
"Mama mikirin apa sampai sampai tidak melihat kedatangan, papa?" Sambil menepuk bahu istrinya.
"Eh...papa! kapan datang, pa!" Maya tersenyum canggung pada suaminya.
"Beberapa menit lalu, tapi mama malah sibuk melamun. Lagi mikirin apa seh, cerita dong sama papa. Papa lihat akhir akhir ini mama sering bengong sendiri." Denny duduk di samping istrinya sambil melonggarkan dasi. Maya pun kemudian membantu melepaskan jas yang membalut tubuh suaminya.
"Tidak ada, pa? mama hanya kurang enak badan saja." Maya menggelengkan kepalanya ke kanan dan kiri.
"Apakah pusing kepalanya!" Diangguki oleh Maya yang dengan manja bersandar pada dada bidang sang suami. Denny pun mengelus elus rambut Maya dengan sayang.
"Pa...!"
"Hemmh. iya!"
"Kalau misal, mama punya kesalahan yang sangat besar di masa lalu, apakah papa akan memaafkan kesalahan mama!"
"Tergantung!"
"Kok tergantung seh pa...!"
"Ya tentu dong, kalau kesalahan itu di sengaja, pasti papa tidak akan pernah maafin mama. Apalagi itu perselingkuhan. Papa tidak akan segan menceraikan mama." Denny mencubit hidung Maya.
Jantung Maya terasa copot dari tempatnya. Dia merasa kehancuran berada di depan matanya saat ini. Maya mencari kehangatan untuk menghilangkan rasa yang berkecamuk di dadanya. Pelukan suaminya menjadi obat dari segala yang dirasakannya.
__ADS_1
"Ma...papa belum mandi lho. Kenceng banget peluknya. Kalau pengen, kita ke kamar aja yuk."
"Ih, papa mesum!" Memukul dada bidang suaminya dengan manja.
"Abisnya, mama aneh banget, tadi aja melamun dan cuekin papa, sekarang malah manja nggak jelas."
"Ya udah deh, papa bersih bersih sana. Mama akan siapin makan malam buat kita." Denny pun berdiri setelah mencium kening dan bibir istrinya sekilas.
🌸🌸🌸
Tiga perempuan beda usia masih asyik menikmati kebebasan mereka. Syita yang tadinya ogah ogahan kini sudah merasa bugar kembali. Mereka bertiga menghabiskan waktu di salon. Setelah melakukan serangkaian perawatan mulai dari ujung rambut sampai ujung kuku kaki. Ketiganya merasa fresh kembali.
"Ah..tau gini, aku akan sering sering aja datang kemari." Ziya menggerakkan kepalanya yang terasa lebih ringan.
"Iya, pinggangku rasanya udah enakan. Ah enaknya tidur cantik abis ini." Syita senyum sumringah.
"Heleh, dari awal sampai selesai lu molor terus." Winda mengomeli Syita. Bagaimana tidak, Syita terus saja tertidur saat perawatan berlangsung. Apalagi saat di pijat. Syita bahkan nyenyak banget sampai dua jam mereka menunggu Syita bangun.
"Aku tuh dua hari jalan mulu, kak. Capek banget, eh pas banget ada yang mijitin." Nyengir kuda.
"Sekarang, kemana lagi nih kita." Syita mengalihkan pembicaraan.
"Kita ngopi dulu yuk."
"Wah, god idea Ziya! yuk capcus." Winda menarik Keduanya, mencari kafe di dalam mall. Ketiganya masuk ke dalam kafe dan mencari tempat duduk.
"Dimana mereka Zal!"
"Tadi seh, mereka bilang kemari, tuan. Ah itu disana, tuan." Dilihatnya ada tiga wanita yang di kenal sedang duduk sambil bersenda gurau.
Tadinya Aditya mengirim pesan pada istrinya. Menanyakan dimana keberadaannya. Ziya pun membalas dan meminta izin. Dan kini, Aditya berinisiatif untuk ikut bergabung.
"Ayo cepat kesana." melangkah dahulu meninggalkan Rizal.
"Hai, tunggu tuan." mengikuti langkah kaki bosnya.
"Hai nona nona cantik bolehkah, kami ikut bergabung." Rizal berbasa basi. Sedangkan Aditya langsung duduk setelah mencium dan ******* bibir istrinya tanpa permisi.
"Ah nyamuknya gede gede ya." Syita menepuk nepuk udara.
"Anggap saja tak ada orang. Kita mah patung pajangan." Winda berkomentar.
"Derita jomblo." Rizal menarik kursi kosong di sebelah dan mendudukinya.
"Katanya sibuk tadi." Ziya masih sedikit gugup dan malu karna perbuatan suaminya.
"Siapa bilang. Tidak ada kata sibuk untuk sang kekasih." Ziya memelototkan mata curiga.
__ADS_1
"Kau punya kekasih?"
"Iya, kekasih halalku." menunjuk Ziya dengan dagu. Ziya makin tersipu malu dan menunduk menyembunyikan wajahnya.
"Drama korea sedang live streaming nih."
"Nyamuknya makin berseliweran." Syita menepuk kedua tangannya semakin sering dan keras.
"Pameeer!" Rizal dan Winda bersamaan.
"Makannya nikah sono." Aditya berucap di tunjukkan pada dua sahabatnya.
"Gih nikah Wind! bakal gua kasih kado spesial buat kalian berdua." Rizal
"Diki masih sibuk sama proyeknya di Bali. Gara gara lu tuh." Ditujukan pada Aditya.
"Demi masa depan kalian, kalau itu mah." Rizal membela sang bos.
Sedangkan Syita cuek sambil ngemil cantik. Rizal ikut nyomot tanpa permisi.
"Pesen sendiri ih. Jangan ambil punya gua." menarik piringnya.
"Pelit banget seh." Gerutu Rizal sambil melambaikan tangannya. Datanglah waiters memberikan daftar menu.
"Kita pesen yang kayak biasanya aja." Rizal berkata lebih dulu. Sedangkan Ziya dibuat heran.
"Kamu sering kesini ya, yang!"
Aditya tersenyum manis.
"Ini kafe milik, kak Rizal." Syita yang menjawab. Ziya mengedip beberapa kali.
Sesukses itukah Rizal.
"Hadiah dari tuan Aditya, nona hehehe!" Ziya makin melongo saja. Menatap Aditya meminta kejelasan.
"Ini mall milik keluarga kita!" Aditya berbisik sambil mencuri ciuman di pipi.
"Whattt?" pekik Ziya. Semua yang disana memandang kepadanya.
"Upsss sorry."
🌸🌸🌸🌸
Yah begitulah kalau punya suami kaya mungkin ya.
jangan lupa like, komen, vote dan rate ya ....happy reading.
__ADS_1