
"Dahlah Forgeted!" Aditya memutar badannya.
Bughhh
"Auwwhh!"
"Sayang!"
"Tuan!"
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Jenna segera membantu anaknya berdiri. Sedangkan Aditya masih tegak berdiri di tempatnya. Bahkan tubuh kekarnya sama sekali tidak bergeser. Zea yang malah terpental hingga lengannya tergores dan berdarah.
"It's okay, Mom! Hanya sedikit goresan," tapi bibirnya meringis.
"Yang ini lecet, Sayang! Lihatlah bahkan ada darahnya," meniup lengan Zea yang nampak lecet. Lebay sekali si Jenna. Maklumlah lama menginginkan seorang anak perempuan, dan saat dia memilikinya, dia malah tidak menyadari akan hal itu, sehingga yang tersisa hanyalah sebuah penyesalan dan ingin menebus semua kesalahannya kepada sang anak.
"Tuan, anda baik-baik saja?" Rizal juga mendekati Tuannya, Aditya diam saja tapi matanya tidak lepas dari wajah cantik Zea. Aditya seperti begitu familiar dengan wajah yang berada di hadapannya ini. Hanya saja, warna mata dan warna rambutnya yang berbeda, cara pakaiannya juga berbeda. Lalu, tahi lalat yang berada di pelipis bagian atas juga tidak ada di sana.
"Nyonya Anderson," ucap Rizal yang mengenali sosok wanita di hadapannya ini. Tentu saja, mereka adalah termasuk orang berpengaruh di dunia bisnis di berbagai benua.
"Tuan Rizal dan Tuan Muda Bagaskoro, anda di sini?" Rizal menepuk bahu Bosnya dengan lembut. Rizal tentu paham sekali, apa yang terjadi dengan bosnya saat ini.
"Ah, iya Nyonya kami sedang dalam perjalanan bisnis," mata Jenna menelisik mereka berdua dari atas sampai bawah. Jenna bahkan mengernyitkan dahi.
*Bisnis, tapi kenapa pakaian mereka begitu santai. Dan tanpa pengawalan, mungkinkah ada sesuatu yang lakukan di sini? batin Jenna.
"Apa* ada yang salah dengan kami, Nyonya!"
"Ah, tidak! Maafkan anak saya karna telah menabrak anda Tuan!"
"Mom kenapa minta maaf, dia yang seharusnya minta maaf. Lihatlah, dia baik-baik saja dan kokoh berdiri tegak, sedangkan aku, sampai terpental dan jatuh," omel Zea memegang lengannya yang tergores.
Andai saja tidak ada Jenna, mungkin Zea akan berteriak dan memberi pelajaran kepada pria dingin yang ada di hadapannya ini. Tapi Dadynya selalu berpesan, agar Zea bersikap lemah lembut dan manja saat bersama dengan Jenna. Sebab sampai saat ini, Jenna belum tahu siapa sebenarnya pekerjaan suaminya selain menjadi pemimpin perusahaan.
Sedangkan Aditya hanya diam dan matanya menelisik setiap inci dari wajah Zea. Hatinya bertanya-tanya, siapakah gerangan gadis yang kini berada di hadapannya. Sebab, yang dia tahu, keluarga Anderson tidak memiliki anak perempuan. Dan kini, ada anak perempuan yang bentuk wajahnya hampir mirip dengan Jenna, tapi cara gadis itu memandang, mengingatkan Aditya kepada seorang yang selalu mengisi hatinya. Serta debaran yang dia rasakan ini, adalah debaran yang sama saat dia bertemu dengan istrinya dulu.
"Tidak apa Nyonya, kami juga meminta maaf, sebab terburu-buru, kami tidak menyadari keberadaan Nona Zea." jawab Rizal
"Baiklah, Tuan, sepertinya kita impas. Kami permisi!" Zea menangkupkan kedua tangannya di dada lalu menarik lengan Jenna.
__ADS_1
Jenna mengangguk sejenak sebelum benar-benar pergi, begitupun Rizal membalasnya dengan sopan. Berbeda dengan Aditya yang masih mencoba memahami detak jantungnya sendiri. Dia memegang dadanya sebelah kiri, meski matanya tetap memandang kemana arah langkah kaki Zea pergi.
"Tuan! Apakah anda baik-baik saja?"
"Tidak ada yang baik Rizal, dada inipun terasa sakit."
"Tuan, sebaiknya kita segera pergi!" Rizal menepuk bahu Aditya. Aditya segera mengusap pelupuk matanya.
Aku tidak mengerti Tuan, apa yang telah terjadi kepadamu. Tapi pandangan matamu sama seperti cara kau memandang Nona Ziya. Mungkin bukan kau saja Tuan, akupun sebenarnya masih ragu, jika yang meninggal saat itu adalah Nona Ziya. batin Rizal.
"Zea, kau ini selalu bersikap tidak sopan!"
"Momy, apa salahku? Bukankah kata Momy aku ini anak yang manis dan baik, jadi mana mungkin aku membuat kesalahan." elak Zea sambil mengedipkan matanya sebelah.
Jenna mengelus pipi putrinya "Ya, kau anak yang manis, tapi apa kau tahu? Karena manismu itu, kadang membuat orang lain sampai diabetes." ketus Jenna, dengan senyum yang mengembang.
"Momy, hati-hati di jalan ya! Jangan lupa menelpon jika sudah sampai. Aku akan selalu merindukan Momy."
Cup
Zea mencium pipi Jenna dengan begitu sayang. Jenna tersenyum bahagia. Bolehkah Jenna begitu serakah dan egois untuk merahasiakan identitas Zea selamanya. Agar Zea tidak pergi lagi dari kehidupan Jenna.
"Tentu saja, katakanlah Momy."
"Apapun yang terjadi nanti, dan apapun yang Momy lakukan adalah demi kebaikanmu dan rasa sayang Momy kepadamu. Camkan itu!"
"Momy, Momy selalu mengatakan hal itu berulang kali. Membuatku berpikir apa yang sebenarnya terjadi sebelum tiga tahun belakangan ini." Jenna membulatkan matanya, gugup dan panik.
"Sayang, Momy sudah cerita alasannya bukan?"
Zea tersenyum kemudian mengambil kedua tangan Jenna dan menggenggamnya "Momy, aku sudah tahu semuanya. Aku minta maaf kepada Momy, sebab musibah itu telah merenggut ingatanku, sehingga aku melupakan Momy."
"Tidak, Sayang! Semua yang telah terjadi adalah takdir kita. Maafkan Momy yang telah membuatmu merasa bersalah."
"Momy!" Zea memeluk erat tubuh Jenna.
"Sayang, apakah hanya Zea saja yang mau dipeluk. Sisakan juga tangan itu untukku," ucap Marcel yang kini sudah ada di antara mereka.
"Oke, semua sudah siap dan sebentar lagi take off. Sebaiknya kau bersiap." Marcell menarik pinggang Jenna dan mengecup keningnya.
__ADS_1
"Hemmh, aku pergi, kalian jangan lupa jaga di baik-baik ya!" Jenna mengecup pipi Zea dan kemudian mencium bibir suaminya. Marcell yang mendapat serangan tidak tinggal diam, dua menekan tengkuk istrinya dan memperdalam ciumannya.
"Ekhemm!"
"Nggak sadar ada anak kecil di sini." Marcell dan Jenna melepas ciuman mereka. Jenna tersipu malu, sedangkan Marcell semakin mempererat pelukannya.
"Kau juga akan merasakannya suatu saat nanti, Sayang!" menoleh pada Zea tapi tetap tidak melepas pelukannya. Zea memutar malas bola matanya. Hingga sebuah ide bersarang di otaknya.
"Dady, apa kita sebaiknya ikut saja ke Indonesia ya Dad, aku ingin sekali melihat langsung Negara Indonesia." bujuk Zea menampakkan puppy eyes.
"Sayang, tolonglah, kita sudah bahas masalah inikan?" Wajah Zea seketika berubah mendung. Sejak dulu, dia tidak pernah mendapatkan izin untuk bisa pergi ke Indonesia. Padahal setiap Zea meminta izin untuk berkunjung ke suatu Negara, Marcell selalu mengizinkan. Tapi, kenapa tidak diizinkan jika pergi ke Indonesia.
"It's oke!"
"Gadis pintar." Marcell mengusap kepala Zea.
"Baiklah, Momy pergi dulu, ya!" gantian berpelukan satu dengan yang lainnya.
"Hati-hati di jalan, Sayang. Jaga diri baik-baik!" Marcell memeluk untuk yang terakhir kalinya.
"Sayang, menurut sama Dady, dan jangan nakal, ya!"
"Mom, aku bukan anak kecil lagi, oke!"
Dari arah lain, datanglah sepasang kekasih yang masing-masing membawa koper.
"Kalian, juga akan pergi?" tanya Zea. "Bukankah kemarin Momy bilang, jika Rindi akan berlibur?" heran Zea.
"Maafkan aku Zea, tapi sepertinya ada hal penting yang membuatku harus segera kembali ke Indonesia." Rindi memeluk Zea.
"Lihatlah! Kalian tidak ada yang peduli kepadaku. Brother bilang akan berkuda denganku, lalu, Momy bilang Rindi akan berlibur denganku. Tapi semua bohong," Zea marah dan pergi dari sana.
"Zea ... !"
"Marcell dia marah kepada kita."
"Jangan dipikirkan, biar aku yang membujuknya."
Bersambung ...
__ADS_1