Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Tongkat ajaib 21+


__ADS_3

Matahari kini sudah menyinari bumi. Dua sosok manusia masih bergulung pada selimutnya. Aditya mengerjap perlahan, dinikmatinya wajah sang istri yang masih tertidur, mulai mengerjap ngerjapkan mata.


Tadi malam kau bisa lolos dariku, tapi tidak kali ini.


Mengecupi pipi istrinya dengan sayang, semalam dia gagal meminta malam pertamanya, semua itu karna Doni yang membuat ulah.


Beberapa orang sudah pamit pulang, para sesepuh kekamar masing masing untuk istirahat.Setelah itu.


"Hai, pengantin baru, kau buru buru sekali, kita bermain dulu sebentar." Entah darimana Doni menemukan sebuah kayu berbentuk persegi, ya itu karambol, permainan yang sering mereka mainkan waktu kecil.


"Tidak, aku mau menemani istriku."


hendak keatas menyusul Ziya yang menuju lantai atas.


"Dasar pecundang, beraninya kabur."


"Bodoh amat, pergi sana, dasar jomblo."


"Daripada kamu baru satu hari sudah seperti sapi ditusuk hidungnya." Masih mempengaruhi, Diki dan Rizal hanya menonton, mereka sangat tahu watak keduanya.


"Ayo kita main, akan kupastikan kau kalah." Duduk bersila diatas karpet, semua orang pun berkumpul, Rizal dan Aditya, versus Doni dan Diki. Datang juga Cak Ali diikuti oleh beberapa pembantu atas perintah Doni. Akhirnya diapun bermain dengan hasil seri.


"Sudah, aku mau tidur, jangan ganggu aku lagi." Aditya bangkit dan menuju kamarnya.


Saat itu sebenarnya Ziya masih belum tidur. Terdengar suara pintu dibuka, Ziya merapatkan selimutnya dan memejamkan mata.


Pagi inipun sama, Ziya sebenarnya sudah bangun, hanya saja rasa canggung membuatnya tetap terpejam sampai Aditya menciumnya bertubi tubi.


"Hai, bangunlah, sampai kapan kau akan tidur, aku tahu kau hanya pura pura." Mencium di kening, bibir, hidung dan pipi berulang kali."


"Hemmmh."


"O..baiklah, sepertinya kau mau lebih." mulai meraba ke dada.


"Ehemmm, apa sayang!" menggeliat menghindar.


"Kau akan ke kantor kan sayang." mengalihkan perhatian Aditya, diliriknya jam menunjukkan pukul tujuh pagi.


"Tidak."


Kok malah peluk gini seh, semoga dia tidak mendengar detak jantung ku.


"Ayo bangun, ada kejutan untukmu sayang."


Aditya menciumnya lagi dengan seringai di wajah, lalu beranjak ke kamar mandi.


Aku tahan saat ini, tapi sampai sana kau akan habis.


"Kita mau kemana seh?"


"Sudah diam saja, nanti juga kau pasti tau sayang."


Kini keduanya tiba di sebuah perumahan elit, letaknya berada di dataran yang lebih tinggi, udaranya begitu sejuk, rumah berlantai dua ini terletak nyaman untuk hunian sebuah keluarga kecil yang bahagia.

__ADS_1


"Wahh benar benar rumah idaman, tempatnya strategis dan udaranya sejuk. Rumah siapa ini." Memperhatikan sekitar, mengikuti langkah Aditya yang mulai menarik gagang pintu.


"Hai, kok nggak dikunci, sayang jangan asal masuk, nanti dikira kita maling."


"Hai, kok kamu kunci dari dalam sayang."


"Sudah diam, ayo masuk."


Perlahan mengikuti langkah Aditya, semakin kedalam, Ziya dibuat tercengang dia berjalan memasuki ruang keluarga dan ruang tamu, terdapat dinding kaca yang langsung bisa melihat indahnya taman belakang.


"Wahh nyaman sekali, ini rumah siapa sayang, andai saja ada anak anak, pasti akan mudah mengawasi mereka ketika bermain diluar tamannya terlihat transparan." Ziya tiba tiba mengoceh, Aditya hanya tersenyum tipis melanjutkan langkahnya.


Kini berada di lantai dua disebuah kamar utama yang bernuansa monochrome dengan beberapa ornamen dari kayu jati, semua tertata rapi. Ziya menyibakkan tirai kamar, rumah pegunungan nampak jelas bersusun seperti kursi penonton sepak bola.


"Hemmh sejuk sekali disini." Ziya menghirup udara serakah, tangan besar memeluknya dari belakang.


"Ini rumah siapa, kenapa tidak ada penghuninya?"


"Rumah kita."


"Apa?"


"Hai pelankan suaramu. Apa kau suka rumah ini?"


"Iya, aku suka sekali, sepertinya aku akan betah tinggal disini."


"Ayo kita buktikan, sebetah apa dirimu disini."


Aditya membuka hijab Ziya perlahan, tiupan angin terasa ke ceruk lehernya, bukan dari alam, tapi insan yang mampu meremangkan bulunya. Perlahan sentuhan itu turun kedalam bukit kembarnya. Kancing baju semuanya terbuka, entah kapan tangan nakal itu melakukan tanpa sepengetahuan lawannya.


Sedang di bukit kembar, si lidah berperan aktif, mengecap bukit bergantian tak kenal lelah. Desahan seperti irama lagu romantis yang mengalun indah. Menyusuri kembali keatas mengulum cerry manis yang menganga.


Si tongkat ajaib sadar akan situasi, sudah siap tempur mulai melapalkan jurus saktinya. Mengitari pinggiran rumahnya lalu menerobos perlahan melewati pintu sempit yang membuat pemilik nya menjerit (padahal juga sudah izin lho hehe).


Tongkat ajaib semakin maju, berhenti sejenak untuk memastikan semuanya aman terkendali, si cerry tetap dilumat untuk mengalihkan perhatian. Jurus jaran goyang pun dikerahkan, cukup menguras tenaga, hingga peluh membanjiri jasmani.


Ah tongkat ajaib, malah maju mundur, dengan banyak gaya, jurus sakti yang menggoncang jiwa sang pencinta. Semakin lama semakin berani saja, bahkan membuat dunia sang pencinta lemah tak berdaya, hingga angin surga menyadarkannya.


"Terima kasih sayang." cup cup cup, kening, pipi pipi bibir tak luput dari absen.


Perlahan Ziya membuka matanya. Jam menunjukkan waktu sudah jam Satu lebih tiga puluh menit.


Astaga, selama itu aku tidur? kemana Aditya ya? Badankuuu...kenapa rasanya negini, capek banget.


"Auwwghh."


"Hai, pelan pelan turunnya."


Aditya yang baru saja masuk, segera memapah Ziya, setelah meletakkan kantong plastik ditangannya.


"Jangan langsung bangun, duduk lagi gih." Ziya makin menggulung selimutnya, memastikan tubuhnya tertutup sempurna. Tapi setelah itu, ada noda merah di seprai, dengan sigap dia berupaya menutupinya.


"Tapi aku mau buang air?" menggigit bibir bawahnya.

__ADS_1


"Lepaskan ini."


Menarik selimut Ziya lalu membopongnya ke kamar mandi.


"A..aku malu."


menutupi dadanya.


"Aku udah lihat semuanya, sampai hapal malah."


"Ih kamu tuh ya." memukul bahu.


"Darimana kamu tadi?" Keduanya kini berendam bersama di bathtub.


"Aku ambil makanan tadi dibawah."


Sambil mengusapkan busa didada Ziya dan meremasnya pelan.


"Hai, nakal sekali tanganmu tuan."


"Satu kali lagi ya." berbisik ditelinga.


"Tapi aku lapar, aku juga belum melaksanakan kewajiban lima waktu.


"Sebentar saja, kita percepat gimana?" mencoba menawar dengan manja tangan sudah mulai bergerilya.


Kenapa airnya berasa panas ya.


Akhirnya terulang kembali kisah tongkat sakti dengan jurus jaran goyang.


Ziya masih manyun, sambil melipat mukena yang digunakannya. Aditya tersenyum lalu mengecup pipi sang istri.


"Ayo kita makan."


Mengangkat tubuh Ziya dan mendaratkannya di sofa. Jam makan siang yang sangat terlambat. Tanpa aba aba Ziya langsung menyantap makanannya seperti kuli bangunan saja.


"Pelan pelan makannya, tidak ada yang akan merebut makananmu."


"Aku sudah sangat kelaparan."


"Bagaimana kau tahu ukuran bajuku."


"Tahulah." Jawaban yang tidak memuaskan.


"Maksudku...!"


"Sudah selesaikan makananmu kita akan berpetualang lagi setelah ini." mengedipkan mata


Apa...oh no


**Bersambung....


Nyai minta tumbal ya biar lancar ini ngetiknya hehe..tumbalnya nggak sulit kok tinggal like, komen, vote, dan rate dah itu aja.

__ADS_1


Selamat membaca karya receh nyai


love you all**


__ADS_2