
"Halo Aditya, ini aku! Devan. Apa kau sudah menemukan keberadaan Zea?" Devan menyetir dengan ugal-ugalan. Dia harus segera bertemu dengan Zea dan memberikan penawarnya. Jika tidak sembuh total, setidaknya nyawa Zea masih bisa diperpanjang lagi.
Devan mendengarkan dengan seksama jawaban Aditya.
"Baiklah, aku juga akan ke sana!" mobil membelok ke arah kanan jalan. "Aku akan berusaha semampuku agar kau bisa diobati!" gumam Devan mengeluarkan sebuah botol kristal dari dalam saku jasnya.
Sementara itu, kelompok pembebasan Zea telah digerakkan dengan komando yang dipimpin langsung oleh Aditya. Penjaga di luar gedung tua itu telah berhasil dilumpuhkan.
"Rizal, kita harus bergerak cepat. Jangan sampai mereka melukai Zea." Rizal yang berada tak jauh dari Aditya mengangguk semangat.
"Tuan, saya berharap Tuan mampu mengendalikan emosi Tuan." Aditya mengangguk setuju.
"Kita berpencar." perintah Aditya sambil memberi kode melalui jari. Anak buahnya pun mengerti, langsung mengambil bagian masing-masing.
"Tapi, Tuan!" Rizal ingin membantah, tapi tatapan elang Aditya menyurutkan keinginannya.
"Baiklah!" Rizal dan Aditya akhirnya berpencar.
Pencarian Zea terus berlanjut hingga mereka memasuki gedung. Anak buah Jack berhasil dilumpuhkan. Tidak ada perlawanan yang berarti. Namun sampai sejauh ini, usaha mereka belum juga membuahkan hasil.
"Dimana Zea? dimana mereka menyembunyikan Zea?" Aditya marah besar menembak sembarang arah sebagai pelampiasan.
"Tuan, mohon tenang Tuan. Aku mendengar sesuatu!" pinta Rizal sambil menepuk bahu Aditya.
"Boom!" Aditya dan Rizal saling berpandangan. Ternyata mereka dijebak. Gedung tua yang rapuh itu sengaja disiapkan untuk tempat penguburan mereka.
"Cepat keluar dari tempat ini!" titah Aditya. Waktu hanya tinggal sepuluh menit untuk bisa menyelamatkan diri.
"Lari! Lari sekuat tenaga kalian!" teriak Rizal lagi. Semuanya berhamburan menuju arah keluar.
Setelah mencapai luar gedung, getaran hebat dirasakan oleh Rizal dan Aditya, mereka segera tengkurap dan melindungi kepala menggunakan tangan mereka. Ledakan hebat disertai hujan material memekakkan telinga. Debu tebal menutup pandangan. Semua orang terbatuk. Mereka memegang dada menatap dengan nanar bangunan yang sekarang telah runtuh menjadi puing-puing berserakan.
"Apakah ada diantara kalian yang tertinggal di dalam?" tanya Rizal sambil menghitung berapa banyak anak buah yang kini berada di hadapan mereka.
"Bersyukur karena kami selamat semua, Tuan." ucap salah satu dari mereka.
"Sial. Berani sekali dia permainkan kita." rahang Aditya mengeras, seirama semburat merah yang memenuhi wajah tampan itu.
"Kenapa kau masih saja bodoh, Zal?" Aditya mencengkeram kerah kemeja Rizal, namun, seketika langsung dilepaskan. Aditya membuang wajahnya ke segala arah. Menyadari, tak sepatutnya dia menyalahkan Rizal. Mereka baru saja melewati maut.
"Cari informasi yang benar. Kita harus secepatnya bertindak."
~
~
Devan yang masih berada di jalan, mengalami kebocoran ban. Alhasil dia harus berhenti guna memeriksa.
"Kenapa harus sekarang?" kesal Devan. Dia menghujat ban mobil yang sama sekali merepotkan dirinya. Devan menatap ke kanan dan ke kiri. Dia lupa tidak membawa ban serep.
"Mobil itu!" gumam Devan saat sebuah mobil yang melintasi dirinya bisa dia kenali.
"Marina! untuk apa dia...!" Devan teringat sesuatu. Mungkinkah Marina tengah mengejar dirinya? Atau mungkin pergi membantu Jack.
Devan segera mengambil kunci mobil dan beberapa benda berharga. Lalu mencegat taksi yang lewat.
"Pak ikuti mobil itu!" titah Devan saat mendapat taksi. "Ikuti terus mobil itu pak. Jangan sampai ketinggalan."
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, ponsel Devan berbunyi.
"Halo, Aditya!"
Devan, info yang kami dapatkan salah. Mereka melakukan penjebakan terhadap kami. Bisakah kau mengorek informasi dari Marina?"
"Apa? Kebetulan sekali, aku tengah mengikuti dirinya."
"Kirim lokasinya."
Marina yang tidak menyadari jika tengah diikuti. Terlihat mobilnya membelok ke sebuah rumah pinggir hutan. Sepertinya rumah itu baru saja di bangun. Masih ada beberapa material mentah di sekitarnya.
"Setan kau Marina!" umpat Devan.
Banyak sekali para pria berbadan kekar nampak siaga di sekitar rumah. Devan berhenti cukup jauh, sehingga tidak ada yang melihat.
Bala bantuan telah datang, beberapa mobil mendekati rumah itu. Ternyata Aditya dan anak buahnya. Perkelahian tak terelakkan lagi.
"Marina, kau sudah sampai." Jack menyambutnya dengan gaya sombong. Zea diikat pada sebuah kursi. Keadaannya sungguh memprihatinkan, rambut acak-acakan dan sudut bibirnya terdapat darah yang mulai mengering.
"Kenapa kau perlakukan Tuan Putri dengan begitu sadis, Jack!" Marina mensejajarkan tubuhnya dengan Zea, menatap Zea dengan tatapan jahat.
"Apa salahku? kenapa kalian begitu kejam padaku?" lirih Zea. Perih di pipi akibat tamparan Jack masih terasa.
"Salahmu?" Marina tersenyum devil. "Karena nasibmu terlalu baik. Aku mencoba memberi warna sehingga tidak hanya putih." Marina mencengkeram kuat dagu Zea dan melepaskan secara kasar.
"Aku sudah lama menginginkan kematianmu sebagai pembayar hutang sakit hati yang telah di lakukan oleh keluarga Bagaskoro." Marina mengeluarkan pistol, menodongkannya pada kepala Zea.
"Sebaiknya, kau segera mati saja. Aku sudah cukup muak dengan keberadaaan mu. Diamanapun kau berada, kau selalu menjadi duri di dalam daging."
"Marina!" Datanglah Aditya juga menodongkan pistol pada Marina. Bukannya takut, Marina malah tertawa terbahak, seolah dewa kematian tidak akan berani mencabut nyawanya.
Dor
Marina jatuh tersungkur, darah mengalir dari bagian punggungnya.
"Zea! kau tidak apa-apa?" Aditya mendekat ke arah Zea. Segera melepas ikatan dan memeluk erat tubuh Zea. Jack berusaha lari, namun telah di hadang oleh Rizal.
"Percuma saja kau lari." Jack melawan dengan melayangkan pukulan. Adu jotos terjadi antara Rizal dan Jack.
Devan melihat dengan hati teriris, seseorang yang dia sayangi dan cintai dengan tulus kini meregang nyawa di lantai.
"Marina! bertahanlah." Devan membawa kepala Marina dalam pelukannya, mengusap wajah Marina yang menahan sakit. Sebelum mengangkat tubuh Marina, Devan juga melihat Zea berpelukan dengan Aditya.
"Zea, ini penawar dari sakit yang kau derita." Devan mengulurkan benda kristal itu pada Zea. Dengan sedikit ragu, Zea maju dan meraih benda itu.
Dor
Dor
Marina tersenyum penuh kemenangan. Devan melepaskan dengan sangat kasar tubuh Marina. Dia shock berat. Orang yang dia kira akan berubah, sampai maut menjemput pun masih tetap sama. Berbeda dengan Marina yang langsung batuk darah. Darah segar menyembur hingga menutup seluruh wajahnya.
"Kau iblis!" lirih Devan seakan tidak percaya. Marina masih muntah darah. Hilang sudah semua rasa untuk Marina. Hanya kebencian yang amat dalam.
"Ziyaaaaa..."
Zea yang terkena dua tembakan di dada, tubuhnya oleng dan jatuh ke pelukan Aditya.
__ADS_1
"A...aku... aku" suara Ziya masih jelas. Tapi kemudian hanya samar-samar terdengar "Cinta kamu!" Mata Ziya tertutup untuk selamanya.
"Ziya. Kau harus bertahan. Kau harus tetap hidup." teriak Aditya seakan nyawanya lepas dari raga.
"Ziyaaaaa...!" Mengguncang lagi tubuh Ziya. Aditya segera menggendong tubuh Zea bermaksud untuk menolong.
Dor
Punggung Aditya yang berdarah.
"Marina kau bukan manusia!" Devan menedang tubuh Marina hingga bergeser.
"Semua sudah lunas!" Marina batuk yang terakhir kali, lalu mati dengan mengenaskan.
Mike dan Marcell yang baru saja datang terhenti dengan rasa yang teramat buruk.
"Zea!"
"Zea!"
"Tuan!"
~
Beberapa tahun kemudian
"Bagaimana keadaannya?"
pria berusia senja menahan air matanya agar tidak keluar. Satu sosok terbujur kaku dalam waktu yang lama. Seorang dokter dihadapannya menghela nafas panjang. Hal itu sudah membuktikan keadaan tidak akan berubah.
"Maaf, kami sudah berusaha."
"Papa tidak akan bangun." kini seorang pemuda yang datang. Dia membawa buket bunga di tangannya. Meletakkan dengan pasti di samping pria yang terbujur.
"Kamu datang hari ini, Nak?" Hanya senyuman dan pelukan hanya tanpa kata yang dia berikan. "Kau temui papamu. Aku harus kembali lebih awal. " menepuk pundak pemuda di hadapannya dan berlalu tanpa kata.
"Kau juga pergilah. Aku ingin berdua saja dengannya." Dokter pun mengangguk hormat lalu permisi.
"Menyedihkan sekali hidupmu, Papa. Tapi lebih menyedihkan lagi saat Anda tidak dapat berbuat apapun untuk orang yang Anda cintai." Pemuda itu tersenyum sinis kemudian membalik tubuhnya dan pergi.
Sebuah gerakan jari dari pasien yang dinyatakan koma selama bertahun-tahun lamanya adalah keajaiban langka yang hanya Tuhanlah yang bisa menunjukkannya. Seperti akan ada kehidupan baru berikutnya yang menanti dia untuk kembali.
Sedang di kota lain seorang gadis tengah merayakan ulang tahunnya dengan membeli kue donat di pinggir jalan. Itupun hanya sebuah.
Tamat.
Telah selesai sepenuhnya dengan segala kekurangan. Terima kasih untuk semua readers yang dengan setia menemani perjalanan Gadis Pembayar Hutang. Terima kasih buat dukungan dan segala kebaikan readers.
Maaf yang dalam saya sampaikan, jika ada kekeliruan dalam pengetikan naskah, tata bahasa ataupun kesalahan lainnya.
Gadis Pembayar Hutang adalah perjalan pertama saya dalam membuat Novel. Berhari, berbulan dan hingga mungkin beranjak tahun berganti. Novel ini resmi tamat.
Kehidupan ini tidak selamanya indah. Segala yang ada di dunia hanyalah titipan. Dia yang mencintai dan tulus menjalani, akan mendapatkan kebahagiaan. Dia yang iri dan dengki akan selamanya hidup dalam kecemasan.
Hati manusia tidak akan berubah hanya karena kebaikan manusia lainnya, tapi oleh niat manusia itu sendiri dengan campur tangan Allah SWT yang membolak-balik kan hati.
by, ketemu di novel lain author.
__ADS_1
Salam dari "Ditakdirkan Mencintaimu" dan "Ngumbara Cinta" jangan lupa mampir ya..
love you semuanya.