Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Dia istriku


__ADS_3

"Jadi, ini yang kamu lakukan untuk menjerat anak saya." Ziya begitu terkejut dengan suara yang sangat familiar di telinganya. Dia berusaha turun dari pangkuan Aditya, tapi malah Aditya mengeratkan tangannya di pinggang Ziya.


"Dia istriku, ma!" kata Aditya. Sudah memberi pembatas agar Maya menghentikan serangannya, tapi ternyata, tidak.


"Kamu tidak usah membelanya, Dit!, dia perempuan tidak tahu diri. Cepat menjauh dari anakku." Maya hendak menerkam Ziya, tapi dengan sigap Aditya menghalanginya.


"Mama, apa apaan ini?" Ziya sudah turun dari pangkuan Aditya dia terlihat shock.


"Karna, dia semua menjauhi mama!, kamu dan Syita sudah melupakan mama." Maya berteriak histeris. Untung saja tempat ini sudah di booking sehingga tidak ada pengunjung lain di sana.


"Apa yang mama lakukan di sini!" tanya Aditya.


"Aditya, sebaiknya kita selesaikan ini di rumah." Ziya menatap sekeliling, para pelayan berdatangan karna suara teriakan Maya.


"Mama, kita selesaikan ini di rumah. Malu di lihat banyak orang, ma!" Aditya meninggalkan tempat itu sambil menggandeng tangan Ziya. Dan membiarkan Maya yang masih mematung di sana.


"Rizal, kau urus semuanya. Dan teman teman maafkan atas ketidaknyamanan ini." Sebelum benar benar pergi.


Maya yang melihat Aditya dan Ziya sudah pergi meninggalkan tempat itu akhirnya menyusul.


"Ziya, kamu tunggu di sini ya, sayang. Aku mau ambil mobil." Ziya mengangguk setuju dengan titah suaminya.


"Aditya berhenti, kamu!"


Maya mengejar anaknya, dia bertekad untuk memisahkan Ziya dari anaknya.


Sebenarnya, tadi Maya hanya ingin makan malam di restoran ini. Tapi ternyata sudah di booking oleh seorang suami untuk memberi kejutan kepada istrinya yang sedang hamil anak pertama mereka.


"Sangat romantis sekali suami itu. Semoga mereka bahagia ya." Ucap Maya sebelum tahu orangnya.


Maya jadi teringat saat dirinya hamil Aditya dulu, dengan antusias Denny menggelar acara syukuran di rumah di hadiri oleh keluarga besar. Dan betapa bahagia mereka saat itu. Maya akhirnya memutuskan untuk memberi selamat kepada pasangan yang sedang bahagia.


"Bolehkah, saya mengucapkan selamat kepada pasangan yang berbahagia itu?" tanya Maya saat di beritahu oleh pelayan.


"Silahkan, ibu bisa lewat sini. Pasti mereka semakin bahagia karna banyak yang mendoakan!" jawab pelayan itu sambil menunjukkan jalan menuju ke tempat pesta.

__ADS_1


Dan setelah melihat bahwa yang sedang merayakan kehamilan istrinya adalah Aditya, Maya merasa tidak senang. Bayangan masa lalu terus saja menghantui. Hingga dia memilih untuk meleyapkan segala hal yang berhubungan dengan masa lalu itu.


Maya mengejar Aditya yang sudah sampai di parkiran. Dia melihat mobil milik Aditya meninggalkan restoran.


Maya menyusul dengan mengendarai mobilnya sendiri. Hingga terjadi kebut kebutan di jalan.


"Maunya mama apa sih?" Aditya memukul stir mobilnya.


"Mas, kita menepi dahulu. Bahaya lho mas kita kebut kebutan di jalan kayak gini. Bisa mencelakai pengendara lain." Bujuk Ziya, karna kecepatan kendaraan yang sudah di rasa melampaui batas.


Aditya pun menepikan mobilnya. Setelah Maya berhenti tepat di depan mobilnya.


"Mama ini kenapa hah?" Aditya keluar dari mobil di ikuti oleh Ziya. dia tidak habis fikir dengan kelakuan Maya yang mengejar dirinya hingga nekat kebut kebutan malam malam begini.


"Karna mama tidak suka dengan, dia. Mama sudah muak dengan wajah sok polosnya itu, dia merebut kamu dan Syita dari mama." Maya menuding Ziya yang berdiri tidak jauh dari Aditya, sambil berteriak.


"Mama ini kenapa sih! dia ini istri aku, ma! sudah sewajarnya dia dekat dengan, aku dan juga Syita. Aku tidak habis fikir dengan jalan pikiran mama."


"Mama tidak setuju, kamu sama dia!" Maya semakin mengeraskan suaranya sambil menutup pintu mobil.


"Apa apaan sih mama ini! dia istri aku, ma. Dan sebentar lagi kami akan memiliki anak." Aditya masih memelankan suaranya, dia sadar sedang bicara dengan orang yang telah melahirkan dirinya.


"Jangan lupa, ma itu terjadi juga gara gara mama!" suaranya sudah mulai meninggi. Aditya sudah tahu dari papanya, bahwa uang satu milyar itu, diberikan dengan tujuan sebagai penebus atas kesalahan yang Maya lakukan. Walau tanpa sepengetahuan keluarga Ziya.


"Itu tidak akan terjadi jika Mila tidak ikut campur dalam urusan mama. Sok mengatur hidup mama." Teriak Maya


"Memang apa salah ibu Mila, ma? sampai mama tega membunuhnya." Teriak Aditya lupa sudah jika Ziya berada di sana. Jalanan yang lumayan lenggang membuat teriakan mereka jelas terdengar.


Apa, mama yang membunuh mamaku? Ziya memegang dadanya yang berubah sesak.


"Kau sekarang berani membentakku gara gara perempuan itu, Dit?"


"Ma..!


"Puas kau ya, telah mempengaruhi anakku agar melawan mamanya sendiri!" mendorong Ziya hingga ke tengah jalan.

__ADS_1


"Ma, jangan dorong Ziya seperti itu, ma!"


Aditya panik, karna mengingat Ziya tengah hamil. Takut jika nantinya jatuh, sebab dorongan mamanya.


"Lihatlah, kau sudah sejauh itu menguasai ankku, sampai sampai aku tidak boleh menyentuhmu. Bahkan suamiku juga membelamu dengan tidak memperbolehkan aku pulang ke rumahku sendiri." Maya berkata sambil terus mendorong Ziya.


Sedangkan Ziya pikirannya sudah tidak bisa lagi berpikir, dia cukup terkejut dengan fakta yang baru saja di dengarnya. Ziya tidak pernah menyangka jika kematian ibunya ternyata di bunuh.


"Mama, tolong katakan yang sebenarnya? apakah benar kau membunuh mamaku?"


matanya sudah berkaca kaca. Maya tersenyum sinis.


"Iya!, aku membunuhnya, akulah pembunuh ibumu sebenarnya." Maya tersenyum menyeringai.


"Setelah dia di rawat, aku menyelinap masuk ke dalam ruang rawat Mila. Kau juga seorang dokter, bukan tentu kau tahu bahwa obat CX sangat berguna untuk kesembuhan ibumu agar terhindar dari rasa sakit." Maya semakin berjalan ke arah Ziya. Dan Ziya mengundurkan langkah menjauhi Maya.


"Ke kenapa mama tega lakukan itu?" air mata Ziya sudah tak terbendung lagi. Ziya tahu benar, bahwa obat itu bisa membunuh orang secara perlahan. Bahkan mungkin tidak akan terdeteksi untuk orang yang mengalami luka.


"Karna ibumu itu sok tahu, dia begitu bawel dan selalu menggurui, aku! dia selalu mencampuri urusanku, bahkan saat aku melahirkan si kembar." Maya tak sadar telah membuka rahasia yang sudah lama dia pendam.


"Apa maksud mama!" Ziya semakin tidak mengerti.


"Mila selalu ikut campur dengan urusanku. Dia seperti duri dalam rumah tanggaku. Bahkan Denny lebih memuji dirinya dari pada, aku!" mendorong Ziya lagi hingga terhuyung beberapa langkah ke belakang.


"Mama cukup! hentikan!" menarik lengan mamanya. Aditya takut jika ada mobil yang melintas dan benar saja, cahaya lampu sangat terang menyinari tubuh Ziya yang sudah berada di tengah jalan.


"Ziyaaaaa!"


Chiiiitttttt


Bersambung....


💠💠💠


apa yang terjadi kira kira ya...

__ADS_1


Hemmh 🤔 😭


...selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan jejak ya terima kasih....


__ADS_2