
"Itu namanya bukan tawaran, tapi paksaan." Ziya menyolot.
Hahahaha...
"Kau pintar sekali, gadis kampung. Kukira, kau adalah gadis bodoh." kedengarannya itu sebuah ejekan, bukan sanjungan.
"Apa tawarannya." Ziya berucap sambil menyuapkan makanan terakhirnya, lalu mengambil air minum dan meneguknya hingga tandas.
Marina memberikan kode pada pengawalnya untuk pergi. Pengawal itu pun pergi dengan membawa nampan.
"Aku ingin membuat perhitungan dengan Maya." mengepalkan tangannya. Ziya hanya diam menunggu kelanjutan cerita Marina, walau sebenarnya, dia penasaran dan juga tak terima ada seseorang yang ingin mencelakai mertuanya.
"Ziya, aku tahu, aku bukan orang baik, aku juga memiliki dendam terhadap kakakmu. Dia sudah membuat Agung meninggal, dan aku tidak memiliki siapapun saat ini. Tapi, aku sadar semua itu karena ulah Agung yang terlalu buruk terhadap keluargamu dan juga banyak kesalahan lainnya." Mata Marina mulai berkaca kaca.
"Maafkan kakakku!" Lirih Ziya.
"Aku tahu kronologi kejadian itu, karna Agung ingin melarikan diri, diapun jatuh kedasar jurang."
"Kau bisa membalasnya padaku, Marina." Berkata sungguh sungguh. Dan hanya ditanggapi senyum sinis Marina.
"Itu percuma. Aku tidak bisa membalas keduanya jika seperti itu. Aku lebih menginginkan Maya menderita."
Ziya semakin penasaran dengan pernyataan Marina.
"Kenapa, kau sepertinya dendam sekali sama mama." Ziya ingin tahu kebenarannya. Dan Ziya tipe orang yang tidak mudah tersulut emosi. Dia berusaha menghadapi semua masalah dengan kepala dingin.
"Kau tidak perlu tahu!" Mata Marina berkaca kaca. Lalu menghembuskan nafasnya.
"Aku tidak akan membantumu jika seperti itu."
Ziya melihat, ada kesedihan mendalam yang di rasakan Marina saat ini.
"Aku tidak mungkin bercerita saat ini tapi, kau akan tahu suatu saat nanti. Aku hanya ingin, kau diam disini dan jangan kabur kemana mana."
"Apa yang, kau rencanakan Marina?"
Marina hanya tersenyum dan meninggalkan Ziya sendiri tanpa diikat kembali. Marina lari ke westafel merasakan perutnya yang bergejolak hebat.
"Aku benar benar hamil." Lirihnya. Mengusap mulutnya dengan tissue.
Terdengar suara pintu diketuk, dia pun keluar dari kamarnya.
"Siapa yang bertamu pagi pagi begini?"
Tanya Marina pada pengawalnya.
"Ada seorang pemuda yang kemari nona." Pria berkulit gelap itupun berkata.
"Siapa?"
"Tidak tahu nona, dia hanya bilang teman nona."
__ADS_1
"Suruh, dia masuk. Aku akan menemuinya."
Tidak mungkin Aditya, dia tidak akan mencapai tempat ini, kecuali perempuan itu membuka mulut.
Terlihat kini, seorang pemuda dengan jaket kulit memunggungi Marina. Marina seperti mengenal postur tubuh dihadapannya, tapi siapa, dia tidak tahu.
"Maaf, tuan ada perlu apa, kau menemuiku."
Berbalik lah pemuda itu, membuat Marina memundurkan langkahnya.
"Hai, nona Marina. Apakah, kau masih mengenalku."
"Devan." Desis Marina.
"Kau benar sekali, aku Devan adiknya Agung Apakah, kau merindukanku." Terus mendekati Marina.
"Apa yang kau inginkan!"
"Aku ingin dirimu dan anakku." Tersenyum bangga setelah mengucapkannya. Sedangkan Marina semakin bingung di buatnya.
"Kau jangan mengada ada Devan." menuding Devan, karna seingatnya, malam itu dia bersama Agung. Devan hanya tersenyum devil.
"Kau berharap orang tua itu yang menghamilimu hah." Marina semakin bingung di buatnya.
Malam itu, iya malam itu.
Flashback
"Semua berjalan sesuai kita harapkan."
"Aditya sudah menandatangani kontrak kerjasama kita."
"Lalu bagaimana dengan kamu." mencium leher si gadis.
"Kau pasti tahu, aku berhasil dalam segala hal*."
Lalu Agung menyodorkan sebuah kertas berwarna putih.
"Ada barang baru, sayang apa kau mau mencobanya?"
"Maaf, sayang, aku sudah rehabilitasi dan menghindari barang itu." ucapnya lirih
"Baiklah, kalau klubing mau ya." Agung membujuk lagi. Marina hanya mengangguk setuju. Malam itu, Agung bercerita banyak hal, bahkan rahasia tentang Maya yang membunuh Mila juga, dia ungkapkan. Akhirnya Marina mengetahui semuanya. Bahkan sebuah rahasia yang membuat Marina membenci Maya.
Dan Malam itu Marina minum begitu banyak sehingga tidak begitu sadar. Dia melihat Agung menerima telpon dari seseorang, dan meninggalkan dirinya. Setelah itu, dia menyangka Agung kembali lagi.
"Kemana kita, sayang?" Marina masih sempoyongan di bopong oleh seseorang yang di anggapnya Agung.
"Kita habiskan malam ini bersama." Ucap pria itu.
"Apa hahh! tumben sekali, setahun ini kau bilang tidak bergairah. Apa penyakitmu sudah sembuh hahhh." Marina semakin menyipitkan matanya, pria di depannya terlihat lebih muda.
__ADS_1
"Kau semakin muda saja." Marina ngelantur. Akhirnya malam itupun berakhir di ranjang. Tapi paginya, Marina tidak menemukan Agung di sana.
Sekarang..
"Apakah itu, kau!"
Marina melihat bentuk postur yang sama di malam itu.
"Apakah, aku harus membuktikannya." Devan semakin mendekat. Marina pun mundur di buatnya. Sampai dia mentok di tembok, dua pengawal nampak bersiaga terkejut dengan tindakan Devan.
"Kau, jangan membuat ulah tuan. Atau orang orang ku akan menghabisimu."
"Apa kau lupa, aku siapa!" Devan menaikkan alisnya. Marina tentu tak akan lupa, mereka di perkenalkan oleh Agung. Ya saat itu mereka dikenalkan dalam acara pesta akhir tahun.
Devan sengaja di bawa Agung dan di kenalkan kepada para anak buah mereka. Marina tahu, saat itu Devan di bawa hanya sebagai sarana untuk kesembuhan Agung. Tapi Devan berhasil kabur, hingga tlansplantasi itu pun gagal. Akhirnya, Agung mencari anaknya untuk menggantikan Devan.
Namun di saat itu, Nabila datang membalas dendam. Hingga tlansplantasi itu pun gagal kedua kalinya, malah berakhir kematian Agung.
"Kau pasti bimbang untuk saat ini! Tapi percayalah, aku akan bertanggung jawab untuk semuanya."
"Darimana kau tahu tentang rumah ini." Devan menatap lurus wajah Marina. Keduanya sama sama terpesona untuk sesaat.
"Itu tidak perlu kau tahu, yang perlu kau tahu, aku ingin kau tidak melakukan hal hal yang aneh. Ingatlah, apa yang diucapkan kakakku sebelum meninggal." Devan menatap Marina tajam.
"Ya, aku sangat ingat. Dia menyuruhku meninggalkan dunia hiburan." Marina mulai berkaca kaca. Meremas remas jari jari tangannya. Sejujurnya, Marina ingin hidup normal, hidup dengan kebahagiaan bersama orang yang dicintainya. Tetapi, keadaan membuatnya salah jalan.
"Maka lakukanlah itu, aku mohon. Lepaskanlah Ziya, lupakan dendammu dan hiduplah bersamaku. Aku akan membuatmu bahagia." Marina memiringkan kepalanya.
"Bagaimana, kau tahu kalau aku menyekap Ziya."
"Aku bertugas menjaga Ziya." Lirih Devan.
"Apa maksudmu." Marina mengernyit.
Devan akhirnya bercerita, tentang masa kecilnya yang hidup susah. Agung adalah sosok yang menginginkan hidup enak. Agung selalu membuat adiknya kesusahan. Hingga pada suatu hari, mereka pergi bersama untuk mengumpulkan barang bekas untuk di jual. Devan yang baik selalu bekerja dan Agung selalu pergi bersama teman berandalnya. Begitulah yang terjadi setiap saat.
Hingga suatu hari, Devan yang malang di hajar oleh beberapa orang, dan diselamatkan oleh seseorang yaitu Ardi. Devan merasa nyaman bersama Ardi, akhirnya dia enggan untuk pulang.
Sampai hari berganti tahun dan membuat mereka tumbuh dewasa. Devan memilih pergi menuntut cita citanya.
"Jadi, kau adalah kak Devan." Terdengar suara dari arah belakang. Marina dan Devan pun menoleh.
**Bersambung.....
... mohon...
... ...
like, vote, dan komen juga rate
terima kasih 😊**
__ADS_1