Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Season 2 Chapter 33 Berusaha mengingat.


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul dua belas siang lebih dua puluh menit, beberapa orang bukannya makan siang, malah nampak memegang wajah masing-masing di depan ruang IGD. Empat pria terlihat meringis sakit sambil menempelkan kain basah.


"Ini yang aku takutkan!" Suara Rafa membuka keheningan mereka berempat.


"Ya, andai saja aku melarang Marina melakukannya waktu itu." Devan merasa bersalah pada akhirnya.


"Dasar keras kepala!" umpat Rafa. Devan termasuk tipe yang sulit di ingatkan, terlebih jika mengenai cinta. Buta dan tuli akan kenyataan yang ada. Dia akan percaya tanpa ingin mencari tahu.


"Apa alasan Marina melakukannya?" Aditya buka suara. Mike yang mengalami memar paling parah sebab tonjokan Aditya masih sulit bicara.


"Otaknya geser kali." celetuk Rafa.


"Sembarangan Luh. Mau ngajak gelut lagi?" serang Devan melalui ucapan.


"Hai Ipar, kebangeten luh ya, nonjok sampai begini banget!" Mike mendesis lagi, membuat Aditya melengkungkan bibirnya lebih lebar.


"Mau nambah lagi?" sungut Aditya. "Eh tadi Luh udah ngakuin, kalau saya adik ipar situ?" Aditya sungguh bahagia, tapi sedetik kemudian. "Ogah banget punya kakak ipar macam Luh."


Flashback


Sana tengah asyik menikmati dessert dengan bersenandung ria. Setelah mengantar orang tuanya ke bandara, Mike dan Sana memilih pergi ke kafe untuk sekedar nongkrong.


"Tumben nggak sibuk kerja Brother!"


"Ini juga kerja." jawab Mike sambil tetap melihat ke arah ponselnya.


"Owhh!"


"Kamu di sini ya, nungguin saya. Ada janji meeting dengan klien sebentar lagi. Ingat! Jangan kemana-mana oke!" titah Mike sebelum pergi meninggalkan Sana. Dalam beberapa detik berikutnya, Sana terlihat santai sambil menunggu sang kakak, hingga tiba-tiba merasa ada sesuatu yang keluar di area sensitifnya. Sana memeriksa tanggal pada ponselnya.


"Waduh! Kenapa harus sekarang?" Sana melihat sekeliling, kemudian bangkit dan pergi ke kamar mandi guna memeriksa. "Duh! Ini kenapa datang bulan nggak bilang-bilang datangnya." Zea memeriksa dreesnya yang terkena darah.


"Bagaimana dong, mana kelihatan gini!" menyingkap dress-nya lagi, lalu melipat, dan membiarkannya lagi.


"Masak aku jalan begini, apa begini ya, nanti kelihatan. Apa aku cuci saja ya, Ah nanti malah dikira ngompol lagi. Duuuh mikir Zea, mikir!" Zea mondar-mandir tak menentu.


"Ahaaaa minta bantuan Brother." Zea menghubungi Mike beberapa kali, tapi nihil tidak ada balasan ataupun jawaban.


Akhirnya Zea memutuskan untuk mencari seseorang Malu juga ya, harus minta bantuan siapa?" pikir Zea lagi.


Zea mengendap-endap keluar dari toilet, berharap tidak ada orang yang melihatnya. Dia berinisiatif untuk pergi dari sana melewati jalan alternatif lain. Biar sepi nggak ketahuan orang gitu, kan malu kalau ada yang lihat.

__ADS_1


"Hai, mau ngapain jalan mengendap-endap gitu, mau maling ya."


Deg


Zea yang ketahuan itu segera menghentikan langkahnya. Dia tersenyum keki dengan memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Kok Kamu!" Saat memutar badannya, ternyata Aditya.


Aditya sebenarnya ingin sekadar minum kopi untuk melepas penat, dengan mampir ke kafe milik Rizal ini. Sekalian dia juga membicarakan tentang Zea dan bagaimana cara menghilangkan atau menemukan obat penawar untuk amnesia Zea. Tadinya dia yang merindukan Zea, menatap foto istrinya yang memenuhi layar ponsel. Akhirnya dia cuek saja terhadap sekeliling, hingga pada akhirnya,tanpa sengaja dia melihat siluet Zea Aditya akhirnya mengikutinya.


"Ngapain kamu di sini?" pekik Zea yang langsung membalikkan punggungnya. Bersikap seolah tidak ada apa-apa.


"Iya, saya! Ternyata benar apa kata orang. Kalau jodoh tidak kemana. Kamu adalah jodoh saya." Ditanya apa jawabnya apa. huuuh


"Tadi, kamu mau maling apa?"


"Hai, saya bukan maling ya?" Zea kesal bukak main. Hidupnya berkecukupan bahkan tidak akan habis tujuh tanjakan, eh tujuh turunan malah dianggap maling," Zea menuding wajah Aditya debgan kesal.


"Lalu tadi kamu ngapain!"


"Nggak! Nggak ada!" Menggelengkan kepalanya cepat. Zea merasakan kembali sesuatu yang keluar dari area tersembunyi. Biasanya untuk pertama kali, yang keluar akan sedikit, tapi kali ini, kenapa terasa banyak.


"Kamu pucat!" Aditya mengelus pipi Zea, mungkinkah usapan itu, dan dada bergemuruh itu alasannya? Tebak Zea.


"Kamu sakit?" entah kenapa Aditya semakin berani. Dia mendaratkan ciuman di bibir Zea. "Ini tanggal merah kamu, seharusnya kamu istirahat, sebab tubuhmu akan lemah karena hal itu." Zea membulatkan matanya sempurna. Bagaimana bisa orang yang baru dia jumpa hanya beberapa kali itu tahu?


"Kau_hemmlp!" dalam keadaan seperti itu, Zea kembali teringat sesuatu, sosok hitam dengan postur tubuh yang sama, pernah melakukan hal itu kepada Zea. "Si_siapa kau!" setelah ciuman itu terlepas.


"Siapa kau!" Zea seolah takut jika dia adalah orang pernah jahat kepadanya. Selama ini Zea mengalami kekosongan memory, tentu dia sadar jika sebagian ingatannya ada yang dia tidak ingat.


"Ziya!"


"No!"


"Ziya kau adalah Ziya!" Aditya malah menyebut nama yang membuat dada Zea berdenyut. Dia berpikir jika Aditya melakukan itu kerena cinta tapi kenapa malah menyebut nama wanita lain?


"Akkhhh!"


"Zea!"


"Jangan mendekat!" mengeram dan menekan kuat kepalanya.

__ADS_1


"Zea!" Dengan sigap, Aditya memegang tubuh Zea yang limbung.


"Kau apakan adikku!" Bariton suara diiringi pukulan, mendarat mulus di pipi Aditya yang tidak siap.


Mike yang selesai melakukan meeting, memeriksa ponselnya, dan mendapati banyak notifikasi yang berasal dari Zea.


"Aku hanya menolongnya," bersama terlepasnya tubuh Zea. Zea yang terlepas malah jatuh ke lantai.


"Auwwhh!"


"Zea!" mereka berdua serentak.


"Zea, kau tidak apa-apa?" Ada tangan lain yang datang menolong Zea sebelum Aditya dan Mike.


"Devan!" Mike berucap.


"Biarkan dia denganku. Aku yang akan menolongnya." Aditya segera merebut Zea lagi.


"Hai, dia adikku."


Bughhh


"Dia istriku bodoh! Aku yang lebih berhak." Mike dan Aditya saling menginginkan dengan mempertahankan keinginan masing-masing.


Devan pun akhirnya membawa Zea yang tengah kesakitan itu keluar. Sampai di luar Rafa yang baru saja masuk, melihat Devan memapah Zea.


"Kau apakan dia?" teriak Rafa. "Kau buat dia berdarah hah! Baraninya kau!" Rafa memukul wajah Devan dan merebut Zea.


"Zea, kita pergi ke rumah sakit." Zea semakin berdenyut kepalanya hanya diam. Tak kuasa hanya sekedar mengeluarkan suara. Perutnya juga terasa diremas.


"Kau tidak punya sopan santun hah!" memukul balik. Dasar cowok, apa-apa pakai otot.


Aditya yang menyadari tidak adanya Zea di sana, memilih pergi, meninggalkan Mike yang terluka lebih banyak darinya.


Aditya melihat Zea sudah pingsan dengan noda di drees yang semakin banyak. Hidungnya juga mulai mengeluarkan darah, karena memaksa untuk mengingat apa yang sempat terlintas di otaknya.


"Zea bertahanlah!"


"Hai, kau mau bawa kemana dia?"


"Jangan teriak bodoh, buka pintunya!" bentak Aditya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2