
Langit cukup cerah hari ini secerah wajah Ziya yang baru turun dari mobilnya. Ingin hati memberi kejutan pada suaminya. Dia berjalan dengan senyum merekah memasuki gedung bertingkat dimana suaminya bekerja. Dia menanyakan dimana letak ruang kerja suaminya kepada seorang receptionist.
"Maaf! apakah saya bisa bertemu dengan tuan Aditya." Langsung pada intinya.
"Maaf, dengan siapa dan atas keperluan apa, anda ingin menemui atasan kami. Apakah ada janji sebelumnya." Ziya menatap nanar orang di depannya. Yah semua orang di kantor ini belum ada yang tahu jika, dia adalah istri Aditya.
"Saya istrinya."
Suatu kenyataan, tapi kedua perempuan receptionist itu malah menutup mulutnya tertawa mengejek.
"Setahu kami, tuan Aditya belum memiliki istri." Ucap salah satunya dengan pongah. Lirikannya terkesan mengejek, mereka saling menyikut. Ziya bukan orang bodoh yang tidak tahu apa artinya.
"Kalau bermimpi jangan tinggi tinggi nona." Satunya ini malah sadis bicaranya.
"Saya telpon suami saya dulu sebagai bukti." masih berharap kali ini Ziya tidak mendapat cemoohan. Tapi berulang kali menelpon, tidak mendaoat jawaban.
"Suaminya sibuk kali mbak." Tertawa sinis.
"Apa mungkin meeting penting, sampai tidak peduli pada istrinya upss."
"Kalau mau bohong, pinter dikit dong mbak." perempuan itu tersenyum sinis pada Ziya yang mulai minder, diapun mengurungkan niatnya menemui Aditya.
Ya, aku sadar siapa lah aku, tidak mungkin orang orang akan percaya begitu saja, terlebih aku tidak pernah di kenalkan ke publik sebagai istri Aditya. Kami menikah pun dengan sederhana.
Ziya mengusap air matanya lalu kembali ke mobil. "Nona...!" Sang sopir hendak bertanya tapi diurungkan melihat mantu majikannya menangis.
"Kita pulang saja, pak!"
Ziya menahan sesak di dadanya. Rasanya ingin menangis sejadi jadinya, tapi dia tahan karna malu pada sopir keluarga. Yang, dia inginkan hanya cepat sampai agar bisa menangis di kamarnya dengan puas.
Sampai dirumah.
Keinginan Ziya untuk cepat pergi kekamarnya, menumpahkan rasa sesak di dada musnah sudah. Sang mertua yang duduk di sofa dengan elegan menghentikan langkahnya.
"Darimana saja, kamu! suami sibuk kerja, kamu malah keluyuran tidak jelas." Deg bertambah sakit dada Ziya, namun sekuat tenaga menahannya.
"Aku...! tadi ke kantor mas Aditya ma." Maya mengangkat alisnya sebelah. Melirik tempat makanan yang masih di pegang oleh Ziya.
__ADS_1
"Bagus!"
Ziya malah terheran dengan ucapan kata 'bagus' di mulut Maya.
"Kenapa, kau sudah pulang, bukankah Aditya jam istirahatnya masih lima menit lagi." Maya memerikasa jam di pergelangan tangannya, dia tahu betul sistem kerja di kantor anaknya.
"Anu ma...itu, aku tidak di perbolehkan bertemu oleh receptionist di sana. Katanya harus buat perjanjian dahulu." Jawab Ziya apa adanya lalu menunduk, Maya tersenyum sinis seperti punya bahan untuk mengejek menantunya.
"Lihatlah, bahkan resepsionis juga tahu, kau tak pantas untuk anakku Aditya." nyeri di ulu hati menjalar tanpa permisi membuat nafas Ziya sesak.
Tega banget nyonya besar ngomong seperti itu.
Cak Ali yang mendengar percakapan itupun merasa kasihan pada nona mudanya.
"Ma... kalau mama tidak setuju dengan pernikahan, kami. Kenapa mama tidak mencegahnya waktu itu."
"Karna, aku pikir Aditya main main dengan ucapannya, dan mengakhiri pernikahan ini secepat mungkin. Tapi sepertinya, anakku telah terjerat cintamu, aku akan membuat kalian berpisah dan menikahkan Aditya dengan Dona."
Mengitari menantunya dengan sifat angkuh. Ziya tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan dari mama mertuanya seperti ini. Ziya masih menahan air mata yang sudah menganak di pelupuk.
"Aku pikir, kau sudah cukup bersenang senang bersama anakku. Dona akan kembali dan, aku akan membuat Aditya menikahinya." Tersenyum merona, tak peduli akan perasaan menantunya.
Ziya tidak mengerti dengan jalan pikiran mertuanya. Dia juga merasa tak memiliki kesalahan fatal sampai harus menerima perlakuan menyakitkan dari mertuanya.
"Aku bukan mamamu!, Salahmu adalah, kau telah menggoda anakku. Aku tahu, kau datang kerumah ini untuk membayar hutang hutang ayahmu itukan. Karna tak mampu membayarnya dengan uang, kau pun menggunakan tubuhmu. Karna, kau tidak mau menjadi pembantu." Maya pergi dengan angkuhnya setelah mengatakan itu.
Nyonya, jika sampai tuan muda melihat ini, dia akan semakin benci kepada anda.
Cak Ali mengurut dadanya melihat Ziya mendapatkan perlakuan buruk dari mertuanya. Beberapa pelayan lain yang menguping pun mulai berbisik bisik. Sedangkan Ziya berlari ke kamar dan menenggelamkan wajahnya di bantal.
🌷🌷🌷🌷
Di sebuah acara peragaan busana, Winda nampak sibuk merapikan baju baju desain miliknya. Beberapa model yang, dia sewa mampu meningkatkan daya minat pembeli. Terbukti dengan banyaknya email yang masuk bermaksud untuk memesan.
"Sepertinya, kita akan kebanjiran job, say." Seorang pria gemulai mendekati Winda.
"Yah, aku sangat puas dengan kerja keras kita hari ini." Winda melebarkan senyum di bibirnya.
__ADS_1
" Kita harus merayakannya." Ucap Winda antusias. "Jangan lupa berikan tips buat para model kita." Ucapnya kembali.
"Aku akan menyuruh Tasya untuk mengurusnya. Dan untukku mana." Menodongkan tangannya.
"Nanti, aku akan transfer." Ucap Winda dengan masih berkutat pada koper bawaannya. "Tasya, suruh pak Arga untuk membawa barang barang ini." Tasya yang baru masuk itupun mengangguk, lalu menghubungi seseorang.
"Baiklah, semua sudah beres. Saatnya kita mengisi tenaga yang terkuras." Winda meninggalkan ruangan itu dan berjalan menuju lift diikuti oleh Tasya dan pria gemulai itu.
Betapa terkejutnya mereka saat lift terbuka, mendapati dua sosok manusia berbeda genre sedang asyik bercumbu. Tak sadar jika perbuatan mereka mengotori ketiga pasang mata yang semuanya melotot. Tasya menyenggol pria gemulai di sampingnya, lalu pria itupun menyenggol Winda. Dengan gelagapan Winda menetralkan keterkejutan hatinya.
"Genjot di kamar aja boy, eike mau numpang lewat." pria gemulai masuk sebelum mereka keluar.
"Ekhemm!" Winda berdehem. Dan Tasya masih bergeming, menelan saliva dengan susah payah. Jiwa jomblonya meronta, panas dingin melihat tangan pria itu masuk ke dalam baju si wanita.
Kedua orang di dalam lift itu pun gugup saling melepaskan tautan bibir mereka dan salah tingkah, si wanita merapikan baju atasnya yang sempat terbuka, terlihat ada bekas merah disana, wanita itu, menoleh pada Winda sebelum pergi meninggalkan lift. Tangan pria itu tak lepas dari pinggang ramping si wanita.
"Aku seperti mengenal gadis itu, dimana ya." Winda bergumam.
"Aduhhh jiwa eike jadi panas dingin gini. Mana ganteng banget lakinya." Menggigit bibir bawahnya genit.
"Sadar wooi satu spesies." Tasya meledek. " "Aa.....jiwa jombloku meronta, pengen juga yang seperti itu." menggigit kuku jarinya.
Winda menatap keduanya bergidik ngeri. " Masih ganteng ayang Diki, aku!" ucapnya malu malu sambil menutup wajahnya yang merona.
"Heleh, bucin!" Ucap kedua orang di sampingnya berbarengan.
**Bersambung....
...maaf baru up ...
...jangan lupa ...
...like...
...komen...
...rate...
__ADS_1
...dan vote**...