
"Dengan cekatan Revan mengangkat tubuh adiknya, dia mendorong brankar itu dengan panik. Kaca bening masih menempel di kening adiknya membuat dia semakin cemas. Apalagi adiknya belum juga bereaksi.
"Tuan, anda tunggu di sini saja," seorang perawat menghentikan langkahnya. Devan hanya bisa mengacak rambutnya frustasi.
"Dia adikku, aku harus menemaninya di saat kritis seperti ini," Devan berusaha masuk. Tapi tetap di halangi oleh perawat itu.
"Maaf tuan, tapi sebaiknya anda menunggu di luar, agar kami bisa menangani pasien dengan maksimal," perawat itu menutup pintu dengan rapat. Devan termenung tanpa ingin beranjak dari sana. Hingga dia merasakan ada seseorang mengguncang bahunya.
"Kau di sini!" lirih Devan. Dia langsung memeluk tubuh orang yang berada di hadapannya.
"Semua akan baik baik saja," ucap wanita yang memeluk Devan dengan sayang. Devan hanya mengangguk lemah.
"Aku akan akhiri penderitaannya. Aku tidak mau dia terluka kembali di rumah itu, aku tidak mau," suara Devan terdengar serak namun mengandung penekanan.
"Aku terserah kepadamu saja, aku akan selalu mendukung setiap keputusanmu," jawab wanita itu. Lalu keduanya berpelukan kembali.
Tak berapa keluarlah seorang dokter dari ruang UGD.
"Bagaimana keadaan adik saya, Dok?" dengan tidak sabarnya Devan menghampiri dokter laki laki itu.
"Tuan, maaf! kami sudah berusaha sesuai kemampuan kami, tapi," ucapan dokter itu terhenti sejenak. Devan yang sedari tadi khawatir kini semakin panik.
"Tapi apa, Dok," mengguncang kedua bahu dokter.
"Maaf! kami hanya bisa berusaha, dan Tuhanlah yang menentukan takdirnya. Kami tidak bisa menyelamatkan nona Ziya," dokter itu memandang iba wajah Devan.
"Jadi maksudmu?" Devan masih belum percaya dengan apa yang di dengarnya, walaupun memang dia sudah menduga sebelumnya.
Apakah tidak ada harapan sedikitpun bagiku untukku untuk membalas kebaikan ibumu selama ini, Ziya. Apakah aku sudah tidak memiliki kesempatan itu. Kau orang yang baik, dan lahir dari wanita yang baik-baik tapi kenapa harus meninggal di tangan orang yang sama. Aku mohon Ziya, bangunlah. batin Devan.
Perlahan-lahan Devan memasuki ruang di mana Ziya terbujur di sana. Dia bisa melihat dengan jelas wajah Ziya yang terlihat polos seperti bayi.
"Bangunlah, Ziya! apakah kau akan mengadukan aku kepada ibumu? kau akan mengatakan kepadanya, bahwa aku tidak becus menjagamu? iyakan. Kau akan berkata seperti itu saat bertemu dengannya di surga. Makannya kau memilih pergi meninggalkan aku," ucap Devan mengelus wajah Ziya. Lalu dia menarik tangan Ziya dan menggenggamnya.
"Aku mohon bangunlah!" suara Devan semakin lemah.
"Ya Allah aku memang bukan hamba yang baik, tapi dia adalah wanita yang baik. Aku mohon kepadamu berikanlah keajaiban kepada wanita yang baik ini, agar aku bisa membalas kebaikan orang tuanya," ucap Devan di sela isak tangisnya.
Seseorang yang berada di belakangnya menatap Devan dengan berlinang air mata. Turut berduka atas meninggalnya seseorang yang sudah dia anggap sebagai saudara.
__ADS_1
"Sayang, kuatkan hatimu, ikhlaskan dia," ucap Marina menenangkan.
"Tidak, Ziya tidak akan meninggal. Dia belum melihat pernikahanku," Devan semakin histeris.
"Aku mohon Devan, iklaskan dia," Devan malah membuang tangan Marina dari pundaknya.
"Tidak!"
"Maaf, tuan, kami kemari untuk mengurus jenazah nona Ziya,"
"Tidak!"
tiga tahun kemudian.💦
Tiga tahun telah berlalu keadaan rumah Bagaskoro kini seperti di neraka. Suara teriakan dan amarah hampir setiap hari terdengar di sana. Aditya yang semula baik mendadak berubah bagaikan monster yang mengerikan.
"Berani sekali kau memberikan makanan sampah ini kepadaku, hahh?" Aditya marah besar kepada chef baru di rumahnya itu.
Aditya melempar semua makanan yang ada di meja ke sembarang arah, hingga berceceran di mana mana. Pecahan beling dan makanan menyebar di seluruh ruangan.
"Cepat bersihkan dengan mulutmu itu," teriak Aditya menunjuk makanan yang sudah bercampur dengan beling di lantai. Aditya mencengkeram punggung chef itu, hingga wajahnya menyentuh makanan di lantai.
"Bagus!" Aditya begitu puas melihat bibir pria itu berdarah sebab pecahan piring.
"Makan lagi,"
"Uhuk, uhuk, ampun tuan! ampun!" pelayan itu menghiba suaranya serak, karna menahan sakit.
"Aditya, tolong hentikan, Nak!" suara perempuan paruh baya sambil menitikkan air matanya. Dua tahun telah berlalu, sejak menantunya tidak kembali lagi kerumahnya. Sejak saat itu pula dia harus melihat sang putra dengan hati yang hancur setiap saatnya.
"Bukankah itu yang kau ajarkan kepadaku selama ini," Aditya menatap tajam ibunya. Tidak ada lagi kata sopan atau kasih sayang yang terlihat.
"Nak, maafkan mama!" memegang lengan anaknya. Tapi langsung di tepis begitu saja.
"Jangan sentuh aku," ucap Aditya menatap tajam wanita itu penuh kebencian.
Dari arah berlawanan nampak seorang pria dengan setelan jas yang rapi mengedarkan pandangannya. Dia menghembuskan nafas saat melihat seorang pria dengan mulut berdarah masih menekuk kakinya di lantai
Keadaan semacam ini sudah sering di lihatnya, entah sampai kapan semuanya akan kembali seperti semula.
__ADS_1
"Apa agendaku hari ini," Aditya menyambutnya dengan sorot mata tajam.
"Kita akan meninjau proyek di pusat kota, tuan, setelah itu, akan ada klien penting dari Korea untuk janji temu nanti siang," ucap Rizal.
"Berikan dia uang berlebih," Aditya lebih dahulu meninggalkan tempat itu. Tanpa pamit kepada mamanya, bahkan Aditya tidak pernah sekalipun menatap wajah mamanya.
"Maafkan mama, Nak! andai mama tahu di mana Ziya, mama pasti sudah membawanya kemari." Maya merosotkan tubuhnya kembali ke kursi dan menangis sesenggukan. Di dekat tangga seorang pria melihat semuanya dari awal sampai akhir tanpa ingin mendekat.
"Penyesalan selalu datang terlambat," ucapnya lalu pergi dari sana.
**Bersambung....
💨💨💨💦
Halo teman teman readers yang berbahagia
mohon maaf lahir dan batin 🙏.
Sebentar lagi kita akan menjalankan ibadah puasa. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya, semoga kita selalu di limpahi berkah dan rahmatnya, agar nantinya bisa menjalankan ibadah puasa tanpa halangan apapun.
Dan saya sampaikan pada kesempatan ini, author memutuskan untuk novel Gadis Pembayar Hutang selesai sampai di sini.
Thorrr kok gantung endingnya?
Ya, karna author akan meneruskan jalan ceritanya di novel lain nanti setelah bulan Romadhon. Dengan judul yang berbeda nantinya. Disana akan ada Ziya yang sudah berganti nama. karna ulah Devan. Devan merancang kehidupan Ziya sedemikian rupa sehingga Ziya tidak lagi mengingat masa lalunya.
Disana juga akan di jelaskan apa alasan Devan melakukan itu.
Apakah Ziya dan Aditya akan bersatu kembali?
tunggu setelah bulan puasa ya!
Tapi tenang saja, nanti Rasa di Hati masih tetep update kok**.
Baca
Ayok baca juga karya author yang lainnya.
__ADS_1