
"Zeaaaa!"
"Ah Momy ngagetin saja," dengan muka datar, Zea menutupi rasa tegangnya.
"Kamu kenapa Nak?" tanya Jenna penuh selidik.
"Tidak apa-apa Mom, bolehkah aku memeluk mama?" Jenna mengulurkan kedua tangannya. yang langsung disambut hangat oleh Zea.
Lima menit yang lalu.
Datang Nabila dan Steven. "Halo Zea, apa kabar?" ucapnya seraya memeluk Zea. Sebenarnya Zea heran dengan perasaannya. Zea seperti memiliki suatu ikatan dengan Nabila.
Setiap kali bertemu, Zea merasa nyaman, ada suatu perasaan yang damai, seolah mereka dahulu begitu akrab. Namun entah apa yang terjadi, Nabila kadang menghindari obrolan lebih lama dengan Zea. Dia hanya bicara basa basi alakadarnya.
"Ah maaf, aku memelukmu terlalu lama, ya!" Nabila tersenyum canggung dan mengusap kelopak matanya yang berair. Sedangkan Zea, merasa ada yang hilang darinya saat pelukan itu terlepas.
Aku jarang sekali bertemu dengan kolega papa, apalagi yang bernama Nabila itu, mungkin hanya saat ada acara penting saja, atau saat tanpa sengaja bertemu di jalan. Tapi kenapa aku seperti mengenalnya begitu lama? Apakah teman sekolah? Tentu saja bukan. Sebab usianya terpaut cukup jauh dariku. batin Zea
"Zea, apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu Nak? Princess Momy, ayolah cerita kepada Momy jika ada sesuatu yang membuatmu gelisah. Jangan disimpan sendiri ya!" tanya Jenna yang melihat anaknya nampak gelisah.
"Tidak ada kok, Mom, Aku baik-baik saja." Zea berusaha tersenyum meski terlihat canggung dan hatinya selalu bertanya-tanya. Adakah hubungan khusus dirinya dengan Nabila. Jika memikirkan itu, kepalanya terasa pusing saja.
"Zea, apa kau memang baik-baik saja?" Jenna merasakan ada yang janggal dari tatapan anaknya. Selama tiga tahun dia selalu memperhatikan anak perempuannya itu. Tentu saja mengerti akan kegelisahan yang di hadapi oleh Zea. Zea tidak mengenal masa lalunya, dan di kini di hadapkan oleh masa sekarang yang semuanya berbeda.
"Aku tidak apa-apa, Mom Aku hanya sedikit pusing saja."
"Apa kau sudah meminum obatmu?"
__ADS_1
"Zea menggelengkan kepalanya pelan," Jenna segera memanggil salah satu pelayan keluarga dan menyuruhnya mengambil obat untuk Zea.
"Zea, jangan sampai kau melupakan obatmu, ya! Aku tidak mau kau sampai sakit lagi," ucap Jenna.
Tak berapa lama ada seseorang yang memanggil Jenna dan bercakap-cakap dengan Jenna. Jenna memperkenalkan Zea kepada semua orang, baik teman, kerabat atau kolega bisnis mereka. Tapi Zea merasa asing dengan itu semua. Hatinya begitu gelisah dan cemas saat berada di tempat ramai.
Zea memilih menghindari kerumunan pesta dan mulai menjauh, dia kini berada di balkon. lantai kedua dengan gelas di tangannya. Melihat kerlip bintang dari ujung balkon.
"Zea, princess Dady kenapa menyendiri di sini hemmmh!"
Marcell menatap wajah anaknya yang bertahun-tahun lamanya tidak bersamanya. Marcell hanya menerima beberapa foto dari Agung untuk melepaskan rasa rindu kepada sang anak. Marcell juga mengirimkan banyak uang, tapi ternyata, Agung tidak memberikan uang itu kepada Mila. Rahim sewaan untuk mengandung Zea.
"Dady, Zea masih merasa asing di sini Dady. Di mana keberadaan Zea sebelum ini?" lirih Zea dengan tatapan kosong. Masih menerawang bintang yang bersinar terang. Malam yang cerah, sungguh berbanding terbalik dengan hati Zea.
Marcell menghela nafas berat. Dia tidak mungkin jujur untuk saat ini. Dia tidak mau lagi kehilangan anaknya. Bahkan dia rela tidak bersama cucunya agar Zea tidak pergi jauh darinya.
"Kau bersama orang tua angkatmu, Nak! Seperti yang sudah aku katakan kepadamu sebelumnya. Tapi mereka sudah meninggal sebab kecelakaan pesawat, dan jasatnya tidak ditemukan. Selain itu, kau tidak memiliki saudara satupun."
Tapi kenapa aku bersama orang tua angkat? apa yang terjadi dengan keluargaku, ya Tuhan. Tapi jika melihat tatapan Dady, aku merasa tidak tega untuk bertanya lebih jauh, Dady sepertinya begitu sedih pasti dia begitu terpuruk saat itu. Batin Zea.
Zea tersenyum dan menghambur ke pelukan Dady nya. "Aku tidak akan jauh dari Dady, apapun yang telah terjadi kepada keluarga kita di masa lalu, semoga tidak akan terulang lagi." Marcell mengecup kepala anaknya dengan sayang. Dia sudah berjanji untuk tidak membiarkan anaknya menjauh lagi darinya.
"Zea, maukah kau berjanji kepada Dady." Marcell mengurai pelukannya dan memegang kedua tangan Zea."
"Janji apa, Dad?" Zea mencoba menebak di dalam hati, apakah gerangan yang ingin dikatakan dady nya.
"Jangan pernah tinggalkan Dady apapun yang terjadi. Dady tidak mau lagi kehilanganmu. Berjanjilah Sayang. Aku mohon!" ucap Marcel penuh permohonan, tatapannya sendu dan dalam. Zea bahkan sampai berdebar melihatnya. Zea melihat sebuah kekhawatiran yang teramat di sana.
"Maukah kau berjanji?" ucap Marcell lagi setengah memaksa.
__ADS_1
"Tapi, bolehkah Zea ikut Mike ke Indonesia Dad?" satu pertanyaan yang mungkin Marcel benci untuk menjawab. Itu artinya kemungkinan untuk tetap menjaga rahasia anaknya bisa saja terbongkar. Marcell menghembuskan nafasnya.
"Please, Zea hanya ingin melihat Borobudur Dad. Keajaiban dunia yang ketujuh." tatapan memohon itu membuat kepala Marcell berdenyut.
"Sayang, bisakah kamu temani Dady saja? Selama Mike ke Indonesia beberapa lama, temani Dady di sini saja, ya! Kita ke Australia dan Singapura untuk perjalanan bisnis."
"Sekalian ke Indonesia dong Dady, sudah dekat itu, kita ke Negara Kangguru dan Singa, nah kita juga ke Negara Nusantara sekalian Dady, kita bisa ke Bali dan Lombok, lalu kita melihat susunan batu kuno. Borobudur temple." rayu Zea sambil memainkan dasi kupu-kupu Dadynya.
"Hai, aku melarangmu, tapi kau malah membuat perjalanan kita semakin rumit." ucap Marcell mencium puncak kepala anaknya.
Kedua orang itu nampak asyik tawar menawar, hingga tidak menyadari ada sepasang mata yang tengah mengawasi keduanya.
"Bisakah kalian tidak membuatku pusing? Orang-orang telah menunggu kita untuk berbagi kue, dan kalian! Di sini sedang berbagi kasih sayang tanpa diriku, hebat sekali," Mike nampak menyilang kedua tangannya di dada. Keduanya terkekeh dengan kelakuan Mike yang pura-pura cemburu itu.
"Dady, cepatlah turun, atau jangan salahkan aku jika Momy sudah bergandengan tangan dengan pria lain," gertak Mike dengan bercanda.
"Kau memang benar, aku saja sampai kesulitan berpaling sebab pesona Momy kalian yang tidak pernah pudar."
"Iya, bahkan Momy terlihat seperti kakak perempuan dari Zea," mata Zea melotot ke arah Mike.
"Dasar Brother! Berani sekali kau mengejekku." teriak Zea tidak terima.
"Hai, aku bicara kenyataannya, kau terlihat lebih tua daripada Momy."
"Aku akan memukulmu Brother." mengambil salah satu high heels sebelah kanan nya bersiap untuk memukul Mike.
"Coba saja kalau bisa," Mike mengejek Zea dan menjulurkan lidahnya. Marcell hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua anaknya.
"Semoga Tuhan tidak mengambil kebahagiaan ini," doa Marcell dengan lirih.
__ADS_1
Bersambung...