Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Season 2 Chapter 14


__ADS_3

Zea menggeliatkan tubuhnya perlahan, dia memandang dengan seksama kamar yang kini telah dia tempati.


"Kau sudah bangun?" dengan masih menahan nyeri di kepalanya, Zea menatap wajah pria tampan yang pernah bertemu dengannya.


"Kau, kenapa kau bisa berada di kamarku?"Cicit Zea tanpa sadar. "Flo, Nany, tolong buatkan aku jus lemon," teriak Zea yang belum sepenuhnya sadar.


"Sepertinya memar di keningmu itu tidak terlalu parah Nona, tapi sepertinya mampu membuat Anda amnesia," ucap Aditya.


Zea mengerjap dan menatap sekeliling.


Astaga, kenapa wajah itu sangat mirip dengan Ziya. Biarpun tahi lalat di dahinya hilang, tidak bisa dipungkiri, jika wajah mereka memang memiliki kemiripan. Mungkin hanya gaya rambut dan cara berjalan dan juga berpakaiannya saja yang berbeda.


"Aku dimana Tuan? Jangan bilang kau yang menyuruh Jack untuk menyerangku tadi malam!" tuduh Zea, Aditya memutar bola matanya malas.


"Apa aku kurang pekerjaan!" ketus Aditya dengan wajah dinginnya. Namun tatapan matanya tajam hingga menusuk ke dalam hati Zea.


Tatapan mata tajam itu, kenapa terasa menenangkan ya? Kenapa aku seperti mengenalnya, tapi dimana? batin Zea.


"Ini, minumlah jus lemon ini, dan makan juga sarapanmu. Aku ada urusan lain, kalau masih mau tinggal tinggallah, tapi, jika ingin pergi, Silahkan." ucap Aditya tanpa menunggu jawaban dari Zea, pria itu sudah pergi.


"Hai, Tuan!" Zea merasa bodoh sebab berbicara dengan orang yang sudah menghilang dibalik pintu.


"Kenapa wajah dinginnya terlihat mempesona ya!" gumam Zea tersenyum malu, dia menutup wajahnya dengan selimut. "Sampai lupa aku sama Lisa, apa kabar Lisa sekarang?"


Zea, segera mencari ponselnya. Dia hendak menghubungi Lisa dan menanyakan kabar Lisa. "Bodoh, aku bahkan meninggalkan ponselku di dalam mobil itu semalam. Aku juga mengunci Lisa dari luar." Zea memukul kepalanya sendiri. Mengutuk kebodohannya.


Yah tadi malam Zea keluar dari mobilnya dengan menekan kunci otomatis dan membiarkan Lisa tetap berada di dalam. Zea yang tidak mau temannya terluka, jadinya dia membawa kunci itu bersamanya, dan membiarkan Lisa tetap aman di mobil miliknya yang sudah didesain khusus.

__ADS_1


"Aku berharap Lisa tidak bodoh kali ini. Setidaknya aku sudah memberi tahu tombol mana yang harus dia tekan saat memberi signal pertolongan." ucap Zea lagi. "Oke, sebaiknya aku harus segera pergi dari sini."


Berbeda dengan kediaman Anderson pagi ini Semua bodyguard yang menjaga Zea mendapat hukuman cambuk dari Bos Besar. Marcell bahkan turun tangan sendiri. Sedangkan Lisa masih sesenggukan sebab khawatir akan keselamatan sahabatnya.


Malam itu, Lisa melihat Zea mulai kewalahan. Beberapa kali Zea terlihat mundur dan sempoyongan, sambil menekan dadanya. Zea juga berusaha melawan dengan sekuat tenaga. Lisa yang berinisiatif untuk menolong, mencoba membuka pintu beberapa kali, tapi nihil usahanya tidak membuahkan hasil. Lisa semakin khawatir akan kondisi Zea yang terlihat semakin terdesak.


Lisa berusaha sekuat tenaga mendorong pintu mobil, kemudian dia ingat pesan Zea untuk menekan tombol darurat. Akhirnya Lisa menekan tombol itu disela-sela kepanikannya. Alhasil tombol power pun ditekannya pula, mobil itupun mati. AC nya juga mati, mengakibatkan pasokan udara di dalamnya berkurang, membuat Lisa tidak bisa bernafas dengan baik dan akhirnya pingsan, sehingga tidak melihat apa yang terjadi selanjutnya. Bahkan Lisa tidak bisa melihat kedatangan Aditya malam itu.


"Kalian semua bodoh!" terdengar suara Marcell yang masih mengumpat. Lisa yang berada tidak jauh dari tempat Marcell memberi hukuman terperanjat kaget. Dia merasa bersalah atas apa yang menimpa para pengawal itu.


"Ingat, jika ini harus menjadi yang terakhir kalinya kalian berbuat kesalahan," imbuh Marcell. Lisa semakin gemetar menautkan kedua tangannya.


"Lisa, kau ikut denganku sekarang!" titah Marvell. Masih dengan menunduk, Lisa mengikuti kemana Marcell pergi.


"Masuk! Dan lakukan hukumanmu." Marcell masih menunjukkan wajah datarnya. Lisa menunduk patuh. Mon, berikan dia hukuman yang pantas untuknya," titah Marcell dengan wajah datarnya. Sedangkan dari arah berlawanan, datanglah seorang pengawal datang dengan tergopoh-gopoh.


Marcell menghembuskan nafasnya pelan. "Bawa mereka masuk, aku akan menemui mereka setelah ini," ucap Marcell.


"Mon, selesaikan tugasmu dan segera temui aku setelahnya." Marcell segera berlalu dari hadapan mereka. Lisa masih tetap menunduk.


"Lisa, kau tahu apa kesalahanmu, bukan?" tanya Monlyoro kepada anaknya.


"Tahu, Ayah!" Mon menghembuskan nafasnya pelan. Dia sebenarnya begitu tidak tega menghukum anaknya. Terlebih selama bertahun-tahun lamanya, dia baru bertemu dengan anak kandungnya ini. Anak yang dia tinggalkan sejak kecil. "Lakukan saja ayah, aku akan bertanggung jawab," lirih Lisa.


Mon belum meneruskan ucapannya, terdengar ponselnya bergetar. Mon membuka pesan yang masuk, lalu tersenyum simpul. "Tuan sungguh berbaik hati. Kau hanya perlu menemani Ro berlari." Lisa membulatkan matanya.


"Ayah, berikan saja hukuman lainnya. Aku tidak mau bersama Ro!" Lisa sungguh ngeri membayangkan dirinya berada di atas kuda pacuan milik ayahnya. Mon tersenyum tipis.

__ADS_1


"Sepertinya Tuan kita perhatian kepadamu, kenapa kau menolaknya?" Mon mengusap rambut anaknya.


"Ayah!"


"Kau harus bisa melewatinya. Aku tidak mau traumamu ini selalu menjadi bumerang bagimu. Tuan sangat baik hati tidak menghukum mu lebih dari ini!" imbuh Mon.


Lisa hanya patuh dan mengikuti kemana kaki lebar ayahnya melangkah. Lisa teringat kejadian tiga tahun lalu, saat dia menjaga Ziya di rumah sakit. Lisa berusaha membebaskan Ziya dari seseorang yang menculik tubuh lemah Ziya saat itu, nyatanya malah mengantarkan dirinya kepada ayah kandungnya.


Saat itu, Lisa sendirian menunggu Ziya dirumah sakit, Ziya masih dalam kondisi koma pasca melahirkan. Cak Ali pergi ke kamar kecil, sedangkan Aditya dan Rizal baru saja pergi sebab ada rapat. Jam saat itu menunjukkan pukul delapan malam. Tiba-tiba saja lampu rumah sakit padam semua.


"Hai, siapa kau dan mau apa kalian?" bentak Lisa, melihat ada tiga perawat datang membawa lampu senter, mereka membawa brankar, dan mencabut beberapa kabel dan selang yang menempel di tubuh Ziya, tapi tidak dengan selang oksigen dan infus.


"Kami akan memindahkan pasien ke tempat darurat, pasien dalam bahaya jika kami biarkan berada di sini, sebab alat medisnya tidak berfungsi karena sistem listrik membutuhkan waktu untuk menyala kembali. Pasien sedang darurat, jadi kami harus segera memindahkannya." ucap salah satu dari mereka, bahkan salah satunya menyuntikkan sebuah obat ke tangan kiri Ziya.


"Aku akan ikut!' ketiga perawat itu sejenak bertatapan, lalu salah satu dari mereka mengangguk.


"Silahkan Nona!" meski sedikit ragu dan takut, Lisa tetap mengikuti mereka, sebab memang sudah tugasnya menjaga Ziya.


"Tunggu sebentar! Apakah Tuan Aditya tahu akan hal ini?" tanya Lisa.


"Tentu saja, bahkan ini adalah tugas dari beliau. Bukankah Tuan Aditya pernah bilang, akan membawa istrinya berobat keluar Negeri?" Lisa mengangguk. "Nah, inilah hari yang dimaksud Tuan Aditya."


Dengan cekatan para perawat itu membawa tubuh Ziya dan memasukkannya kedalam sebuah mobil ambulance.


Tanpa ragu lagi Lisa mengikuti ketiga perawat itu dan duduk di sebelah Ziya. Hingga lama Lisa dan Ziya menempuh perjalanan, tiba-tiba saja Lisa mendapat panggilan Cak Ali. Namun belum sempat menerima panggilan itu, Lisa merasa ada sebuah benda yang menghantam kepala belakangnya, mata Lisa menyipit sebab merasa pandangannya kabur, dan setelah itu, Lisa tak sadarkan diri.


Bersambung .....

__ADS_1


__ADS_2