Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Maaf


__ADS_3

Suasana hening menyelimuti sepasang suami istri yang kini tengah duduk di dalam sebuah warung sederhana pinggir jalan. Ziya awalnya merasa heran dengan tingkah suaminya itu. Bagaimana tidak, biasanya sang suami yang selalu memprioritaskan kesehatan, "Higienis apa tidak itu, aman untuk di makankah? jangan makan makanan sembarangan, bersih tidak yang punya warung?" Begitulah cerewetnya Aditya jika Ziya ingin jajan di pinggir jalan, Tapi kini malah dia yang sudah kalap. Dua porsi soto Lamongan habis olehnya.


"Sayang, apa kau tidak apa apa makanan di pinggir jalan seperti ini. Kamu kan tidak terbiasa," lembut sekali Ziya mengatakannya sambil berbisik di telinga Aditya, sampai sampai Aditya malah merasakan sesuatu di bawah sana tegang dengan sendirinya.


"Tidak, Aku malah tidak menyangka ternyata rasanya selezat ini." Aditya menyuapkan sendok terakhirnya dan setelah itu, mengambil tissue untuk membersihkan bibir dengan nafas memburu.


Dengan elegan Ziya menghabiskan sisa soto yang tersisa. Aditya selalu memandangi bibir ranum milik Ziya, perpaduan yang pas antara pink dan basahnya kuah soto.


"Sayang, habis ini kita ke apartemen aku aja, ya!" Setelah semua selesai, Aditya bangun dari tempat duduknya dan membayar makanan mereka.


"Tuan, ini kembaliannya."


"Ambil saja, Pak!" ucap Aditya meninggalkan tempat itu. Terdengar ucapan terima kasih dari sana dan hanya senyuman sebagai jawabannya.


Aditya menggelengkan kepalanya berulang kali, berharap pikiran mesumnya hilang untuk saat ini.


"Sayang, apakah ada yang salah denganku, kenapa kamu selalu menatapku seperti itu?" heran akan kelakuan suaminya yang nampak berbeda.


Aditya mendesah beberapa kali sambil menyetir. Dia juga enggan menjawab pertanyaan Ziya, pasalnya setiap kali melihat bibir Ziya maka teganglah tongkat ajaib miliknya.


Lampu merah terasa lebih lama kali ini."Sayang kamu kenapa?" tangannya sudah menempel di kening suaminya, tidak ada yang berubah dengan suhu tubuh sang suami. Tapi dia bisa melihat jika Aditya nampak gelisah.


"Sayang, eummmh!" Aditya menahan tengkuk istrinya hingga suara klakson membuyarkan kegiatannya.


"Sayang, kamu ini kenapa seh?" terkejut akan tingkah suaminya yang tiba tiba mencium bibirnya.


"Kenapa rasanya ada pedes pedesnya ya, tapi manis," mengecap beberapa kali bibirnya sendiri. Tak menggubris pertanyaan yang sama keluar dari mulut Ziya.


Lift khusus telah menghantarkan sepasang suami istri itu hingga mencapai lantai teratas dari gedung tempat mereka berada.


"Waoow apakah ini sebuah istana dalam negeri dongeng?" takjub Ziya sambil berdecak kagum. Menyentuh semua benda yang berada di sana. Matanya jelalatan menelanjangi setiap detail kamar bernuansa monochrome dengan sentuhan gold. Ziya berkeliling menyusuri setiap tempat.

__ADS_1


"Wahhhh, lengkap banget peralatan dapurnya. Hemm ini sepertinya lezat," mengambil sebuah apel merah lalu mencuci lalu menggigitnya.


"Aditya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan katrok si istri. Setelah itu, dia menanggalkan semua pakaiannya dan bertandang ke kamar mandi.


"Aduuh kenapa perutku sakit." Ziya menekan perutnya yang melilit karna panggilan alam. Dia mengetuk pintu kamar mandi suaminya berada.


"Sayang, aku mau buang air!" ucapnya lantang. Aditya keluar kamar mandi hanya berbalut handuk di pinggang. Ziya menerobos masuk tanpa melihat ke arah suaminya.


Baiklah, kau tidak akan bisa lolos setelah ini.batin Aditya.


Tadinya dia hanya ingin buang air kecil. Tapi mengingat dirinya dari rumah sakit, takut jika ada virus yang menempel di tubuhnya, memutuskan untuk mandi sekalian.


"Sakit perut di tempat mewah ternyata juga tidak nyaman ya hihi." Terkikik sambil memulai ritualnya mengeluarkan tabungannya.


Sedangkan Aditya kini bersandar pada dasboard sambil melihat notif yang masuk ke gawainya. Pikirannya sedikit terang setelah di guyur air dingin. Apakah aman aku melakukan itu ya? batinnya bertanya tanya. "Ah bukankah dia seorang dokter? tapikan dia hanya dokter umum," hatinya bimbang kembali.


Tiba tiba ide cemerlang muncul di kepalanya. Dia mengetik secepat mungkin apa yang ada di otaknya. Setelah itu nampak tegang menunggu jawaban. Dia membaca dengan seksama, lalu mengetik lagi. Menunggu memainkan jarinya di paha. Notif muncul kembali, dia membaca dengan seksama kembali. "Yes" Aditya mengepalkan kedua tangannya melambangkan hatinya yang gembira.


"Sa... sayang, ayo sini!" Aditya melambaikan tangannya.


"Bentar ya, rambutku basah ini, aku keringkan sebentar. Mengibas ngibaskan rambutnya dan sesekali mengusapnya dengan handuk.


Di mata Aditya, semua gerakan istrinya terlihat seksi dan menggoda dirinya untuk mendekat.


"Kau sangat menggoda, Sayang," suara Aditya terdengar parau, hembusan nafasnya mampu mengehentikan gerakan Ziya.


Aditya memeluk perut istrinya, dan menghadiahi leher sang istri dengan kecupan kecupan kecil, menjelajahi leher meninggalkan jejak cupangan di sana. Tangan kanannya turun ke paha, mengelus lembut masuk kedalam handuk yang menutupi sepertiga paha Ziya.


Tangan yang satunya melepas kaitan handuk di bagian dada sang istri hingga dua gundukan itu terpampang dengan jelas di depan matanya. Nafas Ziya tersengal menahan rasa yang mulai menyerang setiap inti di tubuhnya.


"Aku sudah tidak tahan, aku sangat menginginkan nya, apa tidak apa apa kita melakukannya?" Ziya mengernyit mendengar ucapan Aditya.

__ADS_1


"Mak maksudmu," Ziya menggigit bibir bawahnya, karna tangan Aditya semakin liar, bahkan kedua tangannya sudah berada dalam posisi yang membuat Ziya keenakan.


"Kamu sedang hamil! apakah ini akan aman?" Ziya memutar tubuhnya, mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami. "Kita lakukan dengan sangat lembut, aku yakin ini akan aman," bisikan Ziya semakin membangkitkan tongkat ajaib untuk menunjukkan kesaktiannya.


"Kau mulai nakal ya," di rasakannya tangan sang istri mengelus miliknya di balik celana. Lalu dia memejamkan mata saat istrinya membuka celana pendek yang di pakai olehnya. Dengan buru buru diapun membuka kaos dan melemparkannya ke sembarang arah.


Yahh abis itu ya gitu dehh. Pasti tahu lah apa kelanjutannya.


💦💦💦💦


Di ruangan rumah sakit beda lagi ceritanya.


"Papa tidak mau lagi dengar ketegangan antara mama dan Ziya. Atau mama ingin, kita sebaiknya berpisah saja!" tidak melihat istrinya barang sedetikpun itu artinya dia sudah berada di ambang batas kesabaran.


"Aku akan mencobanya, Pa!" mencoba meraih tangan suaminya, namun lagi lagi di tepis.


"Tidak! aku tidak suka percobaan, aku lebih menyukai sesuatu yang serius!" ancaman yang penuh dengan keseriusan.


"Apakah papa masih mencintai wanita itu." Denny tersenyum sinis menatap istrinya.


"Bahkan otakmu begitu dangkal hanya untuk sekedar mengetahui kejujuran dan kesetiaan yang selama ini aku perjuangkan. Apakah karena cemburu itu sehingga kau berkhianat?" perubahan wajah terlihat jelas di wajah istrinya.


"Jika iya, akulah orang yang paling menyedihkan dalam dunia ini, karna di butakan oleh cinta palsumu." Maya tersentak mendengar penuturan suaminya. Dan saat dia ingin membujuk, sang suami telah hilang dari sampingnya.


"Maaf!"


Bersambung....


Mampir juga yuk ke cs aku yang lain


Rasa Di Hati

__ADS_1


__ADS_2