
Apa yang terjadi setelah itu?" Deny sudah tidak sabar. Bahkan badannya dia Condongkan agar lebih jelas mendengar cerita Cak Ali yang nafasnya mulai tersengal.
"Nyonya Maya bilang kepada saya, jika nona Ziya mengalami kontraksi dan sebentar lagi melahirkan." Cak Ali mengatur pernafasannya, menggerakkan tubuh kurus dan ringkih untuk mencari posisi yang nyaman agar bisa meneruskan ceritanya.
"Aku bantu Cak!" Dengan cekatan Denny memegang bahu Cak Ali dan membantu Pria Tua itu agar sedikit lebih tegak. Istri Cak Ali datang membawa bantal untuk sandaran.
"Biar aku saja!" Denny mengambil bantal yang dipegang oleh istri Cak Ali, lalu meletakkan bantal itu di punggung Cak Ali, agar bisa duduk tenang dan nyaman.
"Terima kasih, Tuan!" Cak Ali tersenyum senang. Sejak dahulu, Denny memang terkenal baik hati terhadap siapa saja, termasuk bawahannya.
"Apakah sudah nyaman?" Denny memastikan, yang ditanya mengangguk pelan, senyum di bibirnya tidak pernah absen dari sana.
"Cak Ali, apakah Ziya benar-benar sedang kontraksi saat itu? Maksudku, memang benar-benar mengalami tanda-tanda akan melahirkan?"
"Sebenarnya, bukan Tuan, Tapi memang iya," kelopak netra tua yang mulai berubah warna kusam itu terlihat berembun. Denny menebak, jika bisa dipastikan ada kejadian yang buruk.
"Cak Ali, bicara dengan jelas. Aku tidak mengerti." Denny semakin pusing sebab pernyataan Cak Ali. Cak Ali semakin berkaca-kaca, diusapnya butiran kristal yang hampir jatuh. "Aku menaruh curiga akan gelagat Nyonya Maya yang nampak kurang baik dan seperti beberapa kali menghubungi seseorang."
"Nyonya Maya menelpon seseorang, dan dari yang aku dengar, Nyonya menyuruh orang itu untuk membatalkan rencana mencelakai Nona Ziya. Sebab Nyonya Muda tengah mengalami kontraksi. Setelah mendengar percakapan itu, datanglah seorang dokter mengajak Nyonya Maya untuk bicara. Akupun pergi dari sana dan kembali ke tempat Nona Ziya."
"Kulihat wajahnya merah padam menahan rasa sakit. Tangannya melambai ke arahku. Dan Dia berkata."
"Cak Ali, tolong hubungi kakakku Devan dan Nabila. Katakan kepadanya untuk kemari," ucapnya saat itu.
"Akupun menghubungi keduanya."
"Apa kau tidak menghubungi Aditya?"
"Tentu saja aku juga menghubunginya Tuan. Tapi sepertinya Tuan Aditya sibuk. Beberapa kali tidak mengangkat panggilan dariku."
"Lalu, apa yang terjadi?"
"Nona Ziya melahirkan dengan sesar. Bayinya lahir dengan selamat. Tapi setelah itu, semua terlihat panik. Tuan Devan berteriak memaki dokter, bahkan hampir memukulnya jika kami tidak segera mencegahnya. Dan dari yang aku tahu, Nyonya Ziya mengalami kejang-kejang." Cak Ali menangis.
"Kulihat dari kaca, Nona Ziya nampak kesakitan. Semua orang panik. Bahkan Tuan Devan seperti orang gila, beberapa kali mengumpat dan menghubungi seseorang. Disaat seperti itu, Nona Nabila dan Nona Marina datang. Masih dalam keadaan panik. Bahkan Nona Nabila juga mengalami kontraksi dan melahirkan juga di rumah sakit itu."
__ADS_1
"Ternyata mereka membutuhkan golongan darah langka yang sulit untuk didapatkan. Mereka menyebutnya ...!" Cak Ali nampak berpikir keras, terlihat dari kerutan di dahinya yang bertambah.
"Apa Cak?"
"Golden! Ah lupa nama medisnya Tuan. Tapi pokoknya darah langka gitu lah." terang Cak Ali. Sambil menekan dadanya.
"Golden Blood Cak Ali!"
"Ah mungkin itu."
Dikenal dengan sebutan Golden Blood, Rh-null merupakan jenis golongan darah langka nomor satu di dunia karena hanya dimiliki kurang dari 50 orang. Sejauh ini, baru ada 43 orang yang dilaporkan memiliki golongan darah Rh-null.
"Setelah itu, semua orang sangat panik. Tapi tidak dengan Nyonya Maya. Dia nampak biasa-biasa saja. Bahkan saat ditanya apa golongan darahnya, Nyonya tidak menjawab. Dia memilih pergi dari tempat itu dan memilih pergi arisan bersama teman-temannya."
"Sampai begitunya Maya masih membenci Ziya. Ya, saat itu aku masih menangani kekacauan di Singapura. Proyek di sana mengalami kesalahan yang fatal. Bahkan kontraktor hampir saja membatalkan perjanjiannya." Wajah Denny berubah murung.
"Saya juga merasa tidak berguna Tuan. Sebab setelah itu pun, aku tidak bisa menjaga Nona Ziya. Saat itu, setelah mendapatkan pendonor yang cocok, Nona Ziya masih belum juga sadarkan diri."
"Berarti setelah itu, Ziya mengalami koma." tanya Denny, dan Cak Ali mengangguk. "Lalu, bagaimana dengan reaksi Aditya?"
"Aditya, dari mana kau tahu...!"
"Papa tentu tahu bagaimana kinerjaku. Cepat atau lambat aku pastikan bisa mengetahui semuanya." Aditya menatap tajam wajah ayahnya. "Bagaimana bisa seseorang memalsukan kematiannya" Sambung Aditya lagi. Denny tersenyum smirk.
"Kau juga tahu, aku masih hidup Boy?" Kini bibir itu semakin terbuka lebar. Denny mendekat dan merangkul anaknya.
"Jangan papa kira, aku tidak tahu semuanya. Aku tidak menduga, korban kecelakaan pesawat kini masih segar bugar tanpa cacat."
Denny masih tersenyum, menepuk bahu anaknya. Cak Ali nampak bahagia melihat mereka berdua.
"Hai, Cak Ali. Kau nampak semakin membaik!" sapa Aditya.
"Tentu saja Tuan, ini semua berkat Tuan besar." menatap Denny.
"Baiklah, sekarang katakan kepadaku. Dimana putraku berada?" Cak Ali nampak tercengang. Bibirnya berkedut.
__ADS_1
"Apakah Nyonya besar tidak mengatakan apapun?" tanya Cak Ali. Denny dan Aditya saling menatap. Aditya menggelengkan kepalanya.
"Apakah Tuan berdua siap mendengarkan cerita saya?" Wajah Cak Ali nampak berkaca-kaca. Buliran air mata tidak bisa lagi di bendung.
"Ceritakan Cak?" tegas Aditya.
"Nyonya Maya waktu itu pergi saat operasi Nona Ziya. Dia memilih berkumpul bersama teman-temannya. Bayi anda menangis. Para perawat dan suster serta semua orang tidak bisa menenangkan bayi itu. Bahkan tidak mau meminum sufor."
"Lalu!"
"Datang Tuan Steven lewat dengan mendorong Nona Nabila. Nona Nabila baru saja melahirkan bayi yang berjenis kelamin sama, yaitu laki-laki. Mendengar bayi Tuan menangis, Tuan Steven membawa bayi itu dalam pelukannya. Bayi itupun diam. Tuan Steven membawa bayi itu ke pangkuan istrinya."
"Apakah salah satu anak Nabila adalah anakku?" tanya Aditya.
"Benar Tuan!"
"Kau tidak berbohong?" tanya Aditya sekali lagi. Aditya begitu bahagia mendengar berita yang tidak pernah dia duga. Selama ini Aditya memang tidak pernah mencari keberadaan sang anak, sebab Maya yang terus menyakinkan Aditya bahwa anaknya sudah tiada. Aditya mengepalkan tangannya kuat. Bahkan mama telah berbohong kepadaku bahwa bayi itu telah tiada. Sungguh keterlaluan. Bukankah ankku darah dagingnya juga. Batin Aditya.
"Keterlaluan Maya. Bahkan dengan darah dagingnya sendiri, dia rela berbohong. Dia tidak pantas disebut sebagai ibu." Baru saja Aditya membatin. Denny malah menyiram bensin di atasnya.
"Ternyata putraku masih hidup!" betapa senangnya Aditya mengetahui kebenaran yang baru saja dia dengar.
"Lalu, kenapa waktu itu ada bayi meninggal di box bayi milik Ziya?"
"Kalau itu, saya kurang tahu Tuan. Tapi yang pasti anak Tuan dibawa oleh Nona Nabila waktu itu. Dan selanjutnya juga Nona Nabila yang menyusuinya."
Denny dan Aditya nampak bertatapan. Jelas terlihat bahwa keduanya masih diliputi kebingungan. Tapi yang pasti mereka lega, sebab keturunan keluarga Bagaskoro masih hidup.
"Nak, pergilah untuk menemui Nabila. Kita harus mengambil pewaris Bagaskoro."
"Aku tahu Pa, tapi ...!"
"Temuilah anakmu terlebih dahulu. Soal kelanjutannya kita pikirkan nanti. Tapi pastikan bahwa pewaris Bagaskoro dalam keadaan baik-baik saja."
Bersambung....
__ADS_1
Selamat membaca dan terima kasih atas dukungannya. Jangan lupa tinggalkan jejak ya Emmuah