Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Season 2 Chapter 27


__ADS_3

Di sebuah ruangan yang serba putih, sekilas mungkin terlihat berada dalam sebuah hotel, namun ternyata adalah kamar rumah sakit. Seorang wanita menyantap makanan di hadapannya dengan begitu lambat. Sedangkan ada lagi dua pria tampak diam menunggu wanita itu menghabiskan makanan.


"Apa kalian tidak lapar?"


Kedua pria itu menggeleng tanpa suara. Sejak Zea sadar, tidak sekalipun dia melihat dua orang itu beranjak dari tempatnya.


"Tuan Devan, bukankah Anda rekan bisnisnya Dady?" Hanya mengangguk lagi. "Bagaimana bisa di sini dan siapa Tuan ini?"


"Saya Rafa. Panggil Abang Rafa!" mendengus kesal dan juga masih tidak terima sebab dia termasuk orang yang di hapus dari memory Ziya.


"Abang?" tentu saja tidak mengerti dengan sebutan itu, terasa aneh di lidah.


"Abang adalah Brother."


Zea hanya manggut-manggut. Zea seperti tidak asing dengan kedekatan ini.


"A-bang!" entah kenapa ada rasa hangat saat menyebut nama itu. Ada sebuah dejavu yang Zea sendiri kurang mengerti apa nyatanya.


"Yup! Abang Rafa." Rafa menepuk dadanya sendiri.


"Aku Zea." mengulurkan tangannya. Meski sempat terbengong akhirnya Rafa menerima uluran tangan itu dengan rasa sedih.


Kenapa kau harus mengalami ini semua, Ziya. Aku sungguh bukan kakak yang baik untukmu.


"Katakan kepadaku, kenapa kau ingin menjadi kakak laki-laki ku?" tanya Zea dengan bahasa Inggris yang fasih. Author nggak bisa bahasa Inggris jadi anggap saja Zea bicara seperti itu ya?


"Sebab kita memang saudara!" Zea tercengang dibuatnya, dia hampir saja memasukkan potongan buah kiwi tapi urung dia lakukan.


"Saudara?" ditanggapi anggukan oleh Rafa. Zea tidak lagi bertanya bahkan kepalanya mulai pusing.


"Kamu kenapa?" Rafa dengan cekatan mengambil alih meja makan lipat milik Zea.


"Hanya sedikit pusing." lagi lagi Zea memejamkan mata dan sekelebat bayangan membuat nafasnya memburu, dia memegang keningnya sambil berdesis kesakitan. Peluh di keningnya terlihat sebesar biji jagung.


"Zea!" Rafa begitu panik, tapi tak dia lupakan untuk tetap memanggil dokter. Rafa cukup prihatin dengan kondisi Zea begitu juga dengan Devan. Ada rasa bersalah saat melihat kondisi Zea yang tengah kesakitan.

__ADS_1


"Sebaiknya Anda berdua keluar, agar kami bisa melakukan pemeriksaan lebih intensif." Meski dengan berat, Devan dan Rafa akhirnya keluar dari ruang rawat inap Zea.


"LIHAT! INI YANG KAMU INGINKAN, HAH!" Rafa langsung memukul wajah Devan dengan keras.


Ngilu, tentu saja. Devan hanya diam sambil meraba sudut bibirnya yang berdarah. Tanpa ingin membalas atau hanya sekedar menghindar.


"Kau! Kenapa tidak melawan. Brengsek." ganti menarik kerah Devan lalu mendorong kuat.


"Setidaknya balas bodoh!" Rafa kini meninju tembok hingga retak. Devan semakin luruh dan duduk tak berdaya di bangku tunggu.


"Maaf!" suara Devan tersendat. Sungguh keduanya saat ini telah hancur oleh ketidakberdayaan. Adik mereka dalam bahaya dan itu semua adalah hasil dari ketidakmampuan mereka.


"Sebaiknya kau pergi Devan, atau aku tidak akan lagi bisa menahan diri."


"Lakukan apapun yang kau inginkan, atau kalau perlu, bunuh saja aku. Tapi jangan suruh aku untuk meninggikan tempat ini." Biar bagaimanapun Devan harus memantau perkembangan Zea.


Tak berapa lama, keluarlah dokter yang memeriksa keadaan Zea. Rafa langsung mencerca dokter tua itu dengan berbagai pertanyaan, dan dijawab lugas juga jelas oleh dokter itu.


Zea pernah mengalami operasi di kepala yang disebabkan oleh penyumbatan di otaknya. Dan hal itu juga membuat beberapa bagian saraf yang lain tidak bisa kembali normal.


"ZIYA!" bersamaan.


✓✓✓


Jenna kini duduk menumpuk paha sambil menggoyangkan wine perlahan. Keadaannya sedang tidak baik-baik saja, bahkan setelah aksinya yang di gagalkan oleh sang suami.


"Jangan terlalu terbawa perasaan. Aku yakin kita akan segera menemukan Zea dimanapun dia berada." Tangan kekar itu terulur dan mengelus lembut bahu istrinya, lalu mencium semua pahatan sempurna di depan matanya itu.


"Jangan mulai deh, atau kau yang aku buat tak berdaya." ketus Jenna dengan masih kesalnya. Berusaha melepaskan diri dari suaminya. Namun apa daya, dia kalah kuat.


"Waoooow, aku suka itu, bahkan itu yang paling aku butuhkan saat ini." Tanpa menunggu lama Marcell membopong tubuh istrinya.


"Marcell kau keterlaluan. Emmphhht!" Marcell membungkam mulut istrinya dan gelas yang dipegang Jenna jatuh ke lantai.


"Hai! Wah aku salah masuk!" Dengan cukup tahu diri Mike yang semula akan masuk ke dalam bar mini itupun memutar tubuhnya dengan segera. "Ternyata sifat Cassanova milikku adalah menurun dari Daddy." gumam Mike.

__ADS_1


"Mike, berhenti di situ!" Jenna sekuat tenaga melepaskan diri dari Marcell. Tapi sepertinya dia mengalami kesulitan. Dan Mike nampaknya lebih takut akan tatapan Elang Marcell daripada panggilan Jenna.


"Maaf, Ma! Sepertinya kali ini bukan waktu tepat untuk kita bicara. Buatkan saja adik yang lucu untuk aku dan Zea." Teriak Mike, sambil tetap berjalan berlawanan arah.


"Mike!" Tak lagi dia dengarkan Jenna yang berusaha menghentikan langkah kaki Mike.


"Dasar Daddy, sudah tahu anaknya hilang, masih saja cari kenikmatan sendiri." Mike menggelengkan kepalanya membuang pikiran mesum yang sudah mulai merasuki otaknya. "Sebaiknya aku memastikan dahulu keberadaan Zea sebelum memuaskan si bird. Sabarlah bird, kau akan makan enak setelah tugas kita selesai." Ucap Mike sambil melihat bagian bawah tubuhnya.


"Tuan Muda, Nona Zea berada di rumah sakit kota S."


"Kita ke sana sekarang juga." Entah bagaimana bisa Zea bisa sampai di kota itu. Mike seolah tidak percaya, sebab Zea pertama kalinya datang ke Negara ini, dan bisa berjalan begitu jauh.


"Dari info yang kami dapatkan, Nona Zea memilih pulang sendiri dengan naik bis. Nona Zea mengambil jalur yang salah. Dan akhirnya terdampar di kota S."


"Lanjutkan informasinya di jalan." keduanya pun berjalan cepat menuju mobil dan kini sudah melaju ke tempat Zea berada.


Di rumah sakit.


Zea yang sudah sadarkan diri, kini sudah diperbolehkan pulang. Rafa membawa Zea ke apartemen miliknya.


"Silahkan kau istirahat di sini dengan Nayaman. Aku akan memesankan makanan untukmu."


"Tunggu! Apakah kita bisa makan di luar? Aku sangat penasaran dengan suasana malam di kota ini." wajah imut Zea membuat Rafa tidak tega untuk menolak.


"Tapi kau baru sembuh." Rafa nampak berpikir sebentar, kemudian masuk ke dalam kamar dan kembali dengan sebuah hodie putih di tangan kirinya. "Kurasa ini cukup untuk menghangatkan tubuhmu." Zea tersenyum dan menarik hodie itu dengan segera.


Kini mereka sudah berada di sebuah warung makan yang berdiri di atas kolam ikan. Kerlip lampu malam yang berbeda warna, membuat tempat makan malam gaya klasik modern itupun terlihat begitu hidup.


"Abang!" Senyum Rafa berkembang sempurna saat Zea memanggil dirinya dengan sebutan itu.


"Kemarilah, kita akan makan di tempat favorit kita."


"Hai, apa kau becanda?"


"Aku serius!" menarik tangan Zea dan membawanya menuju tempat makan yang dia inginkan.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2