Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Season 2 Chapter 26


__ADS_3

Seorang wanita duduk terdiam menatap kosong lurus ke depan. Pikirannya entah pergi kemana. Sejak satu minggu yang lalu, wanita tua itu terus meneteskan air mata.


Flashback


"Rafa, kau ada di sini Nak? Apakah belajarmu telah selesai?" Dengan sangat bahagia wanita bernama Maya itu meraih tubuh keponakannya dan membawanya ke dalam pelukan.


"Cukup!" mendorong kasar wanita tua itu. "Jelaskan kepadaku, kenapa kau sampai berbuat keji terhadap adikku. Sungguh kau wanita yang begitu kotor. Sifat dan watak mu lebih jahat daripada iblis." Bentak pemuda yang dipanggil Rafa.


"Apa maksudmu?"


"Tidak usah berpura-pura. Kau telah merencanakan pembunuhan terhadap cucu dan menantumu. Apakah kau bisa disebut orang waras? Bahkan binatang sekalipun tidak akan membunuh anaknya sendiri." Maya tercengang dengan ucapan keponakannya itu. Bukankah keponakannya itu baru hari ini tiba di Indonesia. Entah mengapa bisa tahu segalanya.


"Rafa."


"Kau terkejut? Apa kau lupa siapa aku?" ejek Rafa bergaya cool memutari tubuh Maya. "Semua dinding di sini bisa bicara, jadi tidak baik kau mengelak."


Maya mengepalkan tangannya, tidak mau dia digertak oleh anak kecil terlebih keponakannya sendiri.


"Lupakah kau darah siapa yang mengalir pada tubuh gadis itu?" Pada akhirnya terungkap sudah sifat dengki Maya. Maya begitu benci akan sosok Jenna yang sebagai ibu kandung Ziya, adalah sosok yang sangat Maya benci hingga menjadi sebuah dendam, rasa yang buruk itu hadir kembali dan membuat semuanya hancur.


"Kau membenci seseorang tanpa alasan yang masuk akal. Semua orang memiliki nasib menurut kehendak Tuhan, tapi sepertinya otak pintar mu itu tidak bisa menjangkaunya."


"Hai, hentikan ucapan mu itu!" Meraih pundak Rafa dengan sangat kuat hingga pundak kokoh itupun berbalik. "Kau anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Jadi jangan coba-coba untuk mengguruiku." mengangkat telunjuknya tepat di depan wajah Rafa.


"Sebab aku masih kecil maka akan aku katakan yang sejujurnya, bahwa Ziya tidak seperti apa yang kau pikir. Dia putih seperti Ibu Mila. Wanita yang telah kau bunuh. Apa kau pikir balas dendam akan menyelesaikan masalah? Kau tidak sadar, bahwa perbuatanmu itu menghancurkan keluargamu sendiri."


"DIAM!" telunjuk Maya semakin terulur, sejenak Maya mendekat namun kemudian mundur kembali. Dan jangan lewatkan mata Maya yang bergerak tak tentu seperti sedang sakaw.


"Beraninya kau menyuruhku diam!" Rafa sudah mencengkeram leher Maya. "Kau sudah berani membunuh ibu yang selama ini menyusui dan merawatku. Selama ini aku sudah cukup diam." Menguatkan gerakan tangannya, Maya tersengal dan terbatuk. Rafa tersadar dan kemudian mendorong tubuh Maya hingga jatuh ke lantai.


"A- A KU TID AK MELAKUKAN NYA!" ucap Maya sedikit terbatuk. Maya memegang dua telinganya yang berdengung. Sebuah ingatan muncul dan membuat kepalanya terasa pening. Sakit semua benda seolah berputar. Wajah putih bersih itupun mulai memerah, kemudian dia menunduk dalam waktu yang lama kemudian tertawa terbahak. Maya pun menghilang beberapa saat kemudian datang lagi dalam beberapa detik kemudian.


"Kau sungguh berani menantangku hah?" Entah darimana Maya bisa mendapatkan sebuah gunting. Dia mengarahkan benda tajam itu ke arah Rafa.


"Dasar pembunuh!" umpat Rafa menghindari serangan Maya yang seperti orang kesetanan. Dan dalam beberapa menit berikutnya, gunting itu terjatuh dengan berakhirnya Maya dalam cekikan Rafa. Para pelayan hanya bisa menonton tanpa membantu, hanya mengintip dari balik tembok dengan perasaan berdebar dan khawatir.

__ADS_1


"HENTIKAN!" Rafa masih tidak memperdulikan suara lantang itu.


"Rafa! Kau hampir saja membunuhnya!" Suara itu menggema di ikuti oleh tarikan pada tangan Rafa. Maya tersengal dan batuk-batuk.


"Dia sudah keterlaluan." Rafa menetralkan nafasnya yang memburu.


"Pergilah Rafa, tenangkan dirimu." meski masih dongkol akhirnya Rafa pergi juga.


Sekarang.


"Kau masih saja seperti ini, tidakkah kau ingin pulang dan meminta maaf kepada semuanya?" Mengagetkan lamunan wanita itu.


"Sepertinya tidak ada maaf untukku Mas Will."


"Maya ... ! Jangan menyimpulkan sesuatu yang belum pasti. Cobalah!" Will menepuk bahu adiknya dengan lembut.


"Mas Will, aku benar-benar tidak membunuh Mila waktu itu. Aku ingin menolong Mila, tapi aku tidak tahu malah sebaliknya." Will terdiam sambil terus menatap adiknya.


"Lupakan itu." Will tahu jika adiknya memang memiliki kelainan. Satu jiwa dengan dua sisi yang berbeda. Kadang baik, dan kadang menjadi buruk juga jahat. Sebab itulah Maya kadang menjadi monster dan jika sisi baiknya dominan, dia akan menjelma menjadi malaikat. Dan semua itu terjadi sejak pembullyan yang dilakukan oleh Jenna.


Dalam sebuah pesta, Maya dipermalukan dengan diinjak-injak kehormatannya, bahkan ada yang merobek bajunya hingga menampilkan aset yang seharusnya dia lindungi.


Sejak saat itu Maya depresi dan memiliki dua sifat yang dia sendiri tidak tahu kapan kedua sifat itu berganti.


"Maya, kau tenanglah di sini dan jangan kemanapun." Maya mengangguk saja.


"Mas! Ziyaaa."


"Aku tahu!"


Ziya memiliki wajah yang mirip dengan Jenna, sebab itulah Maya tidak bisa mengendalikan diri.


"Aku hampir membunuhnya."


"Dia tidak mati, juga cucumu masih hidup. Tapi jangan temui mereka." Maya mengangguk lagi dengan berurai air mata.

__ADS_1


"Kalau melihatnya."


"Cukup dari jauh, atau mereka akan benar-benar tiada."


"Apa sakitku separah itu?"


Dengan berat Will mengiyakan. Sudah tidak ada jalan lain selain bicara jujur agar adiknya lebih berhati-hati.


"Aku kriminal, mengapa tidak di penjara saja?"


"Jika seperti itu, keluarga kita akan lebih hancur lagi." Tentu saja dampak yang ditimbulkan akan sangat luas, terlebih untuk perusahaan.


"Penjara ini kurasa sudah cukup membuatmu berdiam diri."


"Terima kasih!"


"Setiap hari akan ada dua orang yang melayani segala kebutuhanmu, seorang supir dan dua pengawal penjaga akan setiap saat mengawasi dirimu. Jangan lagi berbuat sesuka hati." Will berdiri namun tangannya di cekal oleh Maya.


"Mas, sampaikan maafku pada mereka semua."


"Apakah termasuk Jenna?" Maya diam


"Jika perlu tidak apa. Aku lelah menjadi budak dendam."


"Jangan plin plan."


"Aku akan berusaha." Will menatap lamat wajah adiknya tercinta. Mendaratkan ciuman di kening sebelum akhirnya benar-benar pergi.


"Kurasa kalian semua akan bahagia setelah menghilangnya aku!" Maya menatap burung yang melewati angkasa. Terbang bebas menuju takdir yang semua orang tidak tahu kemana akan membawa.


"Putraku, aku selalu berdoa agar kau bahagia bersama keluargamu. Dan putri kembarku, semoga kalian mendapatkan keluarga yang sempurna. Aku akan mulai hidup terasing ini dengan banyak introspeksi diri. Tuhan tunjukkan jalanku."


Maya menengadahkan tangannya lalu berdoa. Terdengar adzan berkumandang. Beberapa orang terlihat berbaju bersih melewati pagar rumah. Maya pun tergerak untuk masuk dan mulai menata diri. Tugas wajib yang mungkin sudah lama dia tinggalkan, akan dia mulai kembali.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2