Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Season 2 Chapter 37 yang pernah terjadi


__ADS_3

Seorang gadis menatap keluar jendela, ada banyak burung yang entah apa namanya berterbangan bebas. Tapi wanita ini merasa terbelenggu dalam sebuah labirin yang dia sendiri tidak tahu dimana jalan keluarnya.


"Kamu disini?" bariton tegas nan seksi membuat kepala Zea memutar perlahan. Datanglah pria yang selalu dia cari ketika matanya terbuka, bahkan mungkin dalam mimpi.


"Kenapa baru datang?" Entah apa maksud hatinya, Zea sendiri tidak tahu. Ada rasa senang dan nyaman yang menjalar di hati, kala pria ini mendekati dirinya.


"Kangen ya!" tidak ada persetujuan, tapi tubuh tegap itu memaksa untuk memberikan kehangatan. Zea luluh dalam dekapan lembut dan penuh kasih sayang.


"Kamu sebenarnya siapa? Kenapa saya merasa bahwa kita memiliki sebuah ikatan?"


"Aku suamimu!" Zea memberontak dengan lembut guna melihat netra sosok yang dia ajak bicara. "Kau masih ragu? Aku akan membawamu ke rumah. Tentunya setelah kau sembuh kau akan tahu kebenarannya di sana."


Zea memegang kepalanya yang mendadak sakit. "Apa kau ingat sesuatu?" Aditya berharap agar hal itu benar-benar terjadi. Zea ingat semua masa lalunya.


"Entahlah, banyak bayangan hitam yang datang, tapi aku terlalu bingung untuk mengerti semuanya. Bayangan itu ..."


Zea menutup matanya, dan memainkan bibirnya, mencoba membandingkan dua sosok nyata yang kini bersama dirinya dengan bayangan yang selalu muncul dalam ingatan.


"Apa? Kenapa dengan bayangan itu?" Aditya mulai tidak sabar.


"Sulit dijelaskan." ungkap Zea pada akhirnya "Kepalaku sakit!"


Aditya segera menariknya kedalam pelukan. Menepuk lembut bahu istrinya dengan begitu sayang. "Jangan dipaksakan. Biarkan waktu berjalan dengan semestinya. Dan entah kamu bisa mengingat ataupun tidak, tolong, jangan kamu lupakan aku. Jangan pernah!"


"Hai, Tuan! Benarkah kau adalah suamiku?" Zea ingin benar-benar memastikan.


"Apakah kau akan percaya jika aku katakan iya? Ah aku lupa," Aditya merenggangkan pelukannya, lalu mengambil ponselnya di saku. Zea masih diam memperhatikan.


"Ini! Ini semua adalah foto-foto kita. Foto kita saat menikah, foto kita saat bertemu. Dan foto kita saat kau ..."


"Apa?" Zea mulai penasaran.


"Saat kita sedang mengadakan pesta, apa lagi? Apa kau tidak melihat tempat acaranya seperti apa?"


"Iya! Mereka siapa saja, terlihat sekali mereka bahagia. Dan aku apakah dia benar-benar aku? Tapi kenapa culun begini?" Zea nampak heran dengan penampilan sederhana miliknya. Hanya kaos oblong dan celana jeans pendek.


"Kau tahu, saat itu kau berada di rumahku dan masih bekerja."


"Aku bekerja di rumahmu?" Zea semakin penasaran. "Sebagai apa?"

__ADS_1


"Maaf!"


"Hai aku menanyakan apa pekerjaanku, tapi kau malah minta maaf." Zea cemberut, dan matanya tidak lepas dari semua foto yang berbeda di dalam ponsel Aditya.


"Karena, aku memberimu pekerjaan sebagai pembantu waktu itu." lirih Aditya. "Tapi sebenarnya, hanya itulah satu-satunya cara agar aku bisa selalu dekat dengan dirimu. Aku mencintaimu saat pertama kali kita bertemu."


Aditya menatap wajah Zea, menyelipkan anak rambut yang tergerai liar di wajah Zea.


"Apa kau memperlakukan aku dengan buruk?" tanya Zea lagi.


Zea, apakah ada orang yang mencintai berbuat tidak baik terhadap pasangannya?" Zea segera menggelengkan kepala.


"Awalnya, aku membawamu karena ayahmu Memiliki hutang yang begitu besar terhadap aku. Maaf! Ayah kau yang bernama Ardi, mungkin kau tahu siapa dia bukan?"


"Iya! Kata papa Marcell, dia suami mama Mila." ucap Zea. "Apakah aku bisa melihat foto-foto mereka, Atau apapun yang bisa membuatku sedikit saja mengingat kenangan itu?" tanya Zea penuh harapan.


"Hari Minggu, kita akan datangi tempat itu." ucap Aditya mantap.


✓✓✓


Jenna nampak uring-uringan setelah tahu bahwa Marcell memberi kebebasan kepada Aditya untuk bertemu dengan Zea.


"Mereka masih sah suami istri, bagaimana bisa aku memisahkan mereka dan menghancurkan ikatan suci itu?" Marcell


"Aditya akan menguasai anak kita. Aku tidak mau hal itu terjadi. Bertahun tahun lamanya aku menginginkan seorang anak. Dan kini, anak itu sudah ada diantara kita, kau malah memberikannya kepada orang lain. Aku tidak ingin lagi bicara denganmu." Jenna membanting pintu lalu keluar kamar.


Diluar berpapasan dengan Mike. "Ada apa Ma?" tanya Mike heran.


"Tanyakan saja pada papa tersayangmu itu." Jenna masih kesal. Mike merasakan ada sesuatu yang tidak beres.


"Pa! Apa yang sebenarnya terjadi?" Mike berusaha mencari jawaban dari pertanyaan yang bersarang di otaknya saat ini.


"Mamamu tidak ingin jauh dari anak perempuannya."Marcell membanting tubuhnya ke sofa.


"Buat saja lagi, biar tidak ribut Mulu." kepala Mike langsung ditampol oleh Marcell.


"Sembarangan saja kalau bicara." Mike ikut duduk juga meski kena tampol. "Ada keperluan apa kau menemuiku?"


Mike mengatur pernapasan sebelum bicara. "Jack ada di Indonesia, dan kemungkinan yang terjadi kita pasti sudah bisa memprediksi hal itu bukan?" Mike nampak gelisah.

__ADS_1


"Kita harus lebih memperketat penjagaan." Ujar Mike.


"Dady, aku merasa jika Jack memiliki sosok pendukung di belakangnya. Sebab beberapa kali kita sudah menghancurkan markas dan kekuatannya, tetap saja dia bisa bangkit dalam kurun waktu yang begitu cepat."


"Kau benar! Dady juga mulai mencurigai akan hal itu. Terlebih lagi, akhir-akhir ini orang-orang kita kesulitan untuk mengintai pergerakan mereka. Kita harus lebih waspada. Perketat penjagaan," titah Marcell.


"Satu lagi Dad! Apakah Dady benar-benar akan menyerahkan Zea kepada pria itu" Mike ingin memastikan.


"Kita tidak bisa melarangnya. Kecuali jika Zea menolaknya." ucap Marcell mantap.


✓✓✓


Di sebuah ruangan rahasia, dua orang juga sedang berbicara serius guna mengatur siasat.


"Bagaimana? Kau setuju?" tanya seorang perempuan dengan wajah yang ditutupi masker.


"Apa keuntungan yang aku dapatkan?"


"Kau bisa mengambil perempuan itu dan menggunakannya sesuka hatimu. Bukankah itu yang kau inginkan sejak lama?" tawar si perempuan.


"Apa tugasku?" jawab si lelaki ingin lebih jelas lagi.


"Kau hanya perlu menculik dan membawa pergi perempuan itu."


"Sepertinya kau begitu dendam kepada perempuan itu?" tanya Si pria.


"Sangat! Bahkan sebenarnya aku tidak pernah berbuat baik terhadapnya." si perempuan tersenyum devil.


"Kau sendiri bagaimana bisa selalu mengejar perempuan yang jelas-jelas menolak dirimu?"


"Aku sangat menyukai gadis itu. Gadis yang unik dan sulit tersentuh. Membuat keberanian ku teruji. Dia pasti akan sangat menggairahkan bila berada di ranjang." sepertinya pria itu sudah gila.


"Baiklah, lakukan saja semaumu, tapi jangan pernah kau sebut namaku oke?" tegas di wanita.


"Itu tergantung bagaimana caramu tetap menjadi pagar belakang untukku."


"Akan aku pastikan semuanya aman jika kau juga tidak lalai akan kesepakatan yang telah kita setujui."


"Aku pastikan yang terbaik"

__ADS_1


to be continued


__ADS_2