
Nyaman itulah kata yang pas untuk Syita saat ini. Udara yang sejuk dengan pemandangan alam yang indah. Beberapa orang nampak sibuk memanen semangka. Iya dia kini berada di kampung halaman kakeknya Rafel yang bernama, Dullah.
"Apa kau tidak ingin pulang?" seorang pria berkaca mata hitam berdiri tepat di samping Syita. Yang di tanya hanya tersenyum tipis.
"Tidak ada yang peduli apakah aku ingin pulang atau tidak." Menatap nanar pemandangan di depannya.
"Itu tidak mungkin, mereka pasti sangat cemas dan khawatir akan dirimu. Apalagi kau anak perempuan." Sanggah Rafel, Syita hanya tersenyum kecut.
"Paling cuma kak Ziya dan Cak Ali yang khawatir kepadaku. Kak Ziya adalah orang begitu penyanyang, dia selalu memperhatikan diriku."
Rafel hanya tersenyum "Masih ada abangmu yang begitu peduli kepadamu!" Keduanya saling menatap dalam pemikiran masing masing.
"Apa kau mencoba membujukku?" Menatap sekilas lalu mengalihkan pandangan kembali.
"Tidak, aku hanya ingin kau berpikir secara dewasa. Jangan pernah lari dari masalah, karna itu hanya akan membuatmu semakin lelah. Bukannya cepat selesai, malah akan berlarut larut dan mungkin bertambah." Rafel membuka kaca matanya.
"Aku hanya ingin tenang sementara waktu." Lirih Syita.
"Baiklah, tapi aku masih ada pekerjaan untuk dua hari kedepan. Kalau kau mau bisa di sini menemani kakekku." Syita tersenyum lembut menatap Rafel kembali.
"Terima kasih, kau begitu baik kepadaku."
"Tidak gratis, Kau harus membayarnya. Semua fasilitas yang kau dapat saat ini, aku anggap hutang." Tegas Rafel Syita berdecih.
"Kau perhitungan sekali." Ejek Syita.
"Harus itu, tidak ada yang gratis di dunia ini." Syita memutar bola matanya malas.
Keduanya hening lagi dengan pemikiran masing masing. Lalu Syita berjalan sedikit hati hati mendekati para pemetik buah semangka.
"Mau kemana, kau?" Rafel berteriak. Karna tiba tiba gadis itu pergi meninggalkan dirinya. Syita hanya menoleh sejenak dan tersenyum, dia hanya menunjuk para pemetik buah semangka. Akhirnya Rafel pun menyusul.
🌸🌸🌸
"Kau harus banyak istirahat ya, kalau ada apa apa panggil saja, aku!"
Ziya hanya menurut tanpa sepatah kata yang keluar dari bibirnya. Tubuhnya terasa lemas dan kepalanya masih sedikit pusing. Aditya mengusap kepala Ziya lembut, lalu menciumnya berulang kali.
__ADS_1
Mereka kini sudah berada di kamarnya. Setelah Ziya bersikeras meminta pulang. Dan langsung masuk ke dalam kamar mereka. Ziya bersandar pada headboard.
"Sayang, bolehkah aku bertanya sesuatu." Ziya menatap Aditya.
"Iya sayang, katakanlah." Aditya memegang tangan Ziya dan menciuminya. Dengan lembut Ziya menarik tangannya tapi Aditya semakin mengeratkan pegangannya.
"Aditya, bolehkah jika...jika..a..ku." Ziya mengatur nafasnya suaranya seperti tercekat di kerongkongan. Dia masih sakit hati dengan apa yang di lihatnya sewaktu di kafe.
"Ziya...! ayo katakanlah kenapa hemmh!" tanya Aditya lembut.
"Aditya, aku aku tidak pernah merasa tertarik dengan pria. Aku hanya ingin mengejar impianku menjadi dokter." Ziya mulai berkaca kaca sedangkan Aditya fokus mendengarkan.
"Dari kecil, aku ingin membantu banyak orang. Hingga suatu hari aku mendapat surat cinta dari seseorang." Ziya melihat reaksi wajah Aditya yang tampak tidak suka. Tangannya terasa di kepal erat oleh Aditya, Ziya hanya tersenyum.
"Kau tau apa yang aku bilang saat itu?" Ziya tersenyum tapi matanya menitikkan air mata. Aditya mengerrutkan dahi, mencoba menebak apa yang ingin di sampaikan istrinya. Ziya ingin tertawa sejenak melihat mimik wajah suaminya tapi di tahan. Bersamaan dengan itu pusing di kepalanya menghilang. Benar memang kata orang obat dari segala obat adalah kebahagiaan.
"Apa yang kau katakan waktu itu?"
Aditya sudah tidak sabar. Dia sudah berjanji akan membuat Ziya melupakan siapa saja yang pernah hadir di hati istrinya itu.
"Jadi aku yang pertama untukmu?" Aditya sesingkat itu langsung menyimpulkan. Ziya mengangguk lemah.
"Tapi...!"
Aditya pun mengernyit kembali. Ziya kali ini tidak bisa menahan tawa.
"Kau imut sekali jika begini." Ziya memegang kedua pipi Aditya.
"Tapi apa tadi!"
Keduanya pun hening.
"Jika aku tersakiti satu kali saja, mungkin aku tidak akan mau bertahan. Aku tidak mau terluka aku sangat takut." Ziya menekan dadanya sambil menangis. Aditya kini merasa bahwa istrinya tidak baik baik saja.
"Ziya, adakah yang kau sembunyikan dariku?"
Menangkup wajah istrinya. Dia tahu bahwa Ziya bisa saja berubah labil. Dan menurut dokter, istrinya tidak boleh stres.
__ADS_1
"Kau yang sembunyikan apa dariku?" Ziya malah menangis seperti anak kecil. Aditya kebingungan di buatnya.
Kenapa malah begini seh. Haruskah aku mengatakannya. Ini adalah hal luar biasa yang harus aku beritahukan dengan cara yang luar biasa. Tapi kenapa sepertinya dia sudah tahu duluan. Tidak, aku tidak boleh beritahu Ziya jika dia hamil saat ini. Aku akan mengatakannya dengan cara yang keren. Batin Aditya.
"Aku sembunyikan apa sayang?" Memegang kedua tangan Ziya.
"Singkirkan tangan kotormu itu, kau sudah memegangnya kan." Ziya makin menangis sambil menghempaskan tangan Aditya. Dia masih kesal saat melihat Aditya menyentuh Marina.
"Bagaimana kau bisa tahu itu..!" Aditya mengusap kedua wajahnya.
"Aku melihat semuanya!" Ziya mengatakan sambil mengusap wajah kasar.
"Jadi kau sudah sadar saat itu?" Tebak Aditya.
"Bagaimana aku tidak sadar aku mengikutimu dari rumah!" Ziya semakin kesal karena Aditya tidak juga merasa bersalah. Dan menangis sesenggukan. Aditya malah semakin bingung di buatnya. Dia mencoba memecahkan teka-teki yang di buat oleh istrinya.
"Kau mengikutiku?" Aditya menunjuk wajahnya sendiri. Ziya masih menangis merasa bingung dan juga kesal juga dengan sikap Aditya yang sok polos padahal sudah berbuat salah menurutnya.
"Apa kau masih juga tak sadar. Kau ketemuan dengan mantanmu itu. Padahal saat kita di acara reuni kau tidak mau di peluk olehnya. Tapi tadi, kau malah memeluknya di hadapan semua orang." Semakin menangis sejadi jadinya.
Aditya mengurai benang rumit yang mulai memudar. Diingatnya perkataan Devan 'Aku nemu dia nangis di jalan tadi!'
"Ziya aku mohon jangan nangis begini dong. Coba kau jelaskan kepadaku apa maksud perkataanmu?" Aditya hendak mengusap pipi Ziya tapi ditepis.
"Jangan sentuh aku. Kau sudah gunakan itu untuk menyentuhnya."
"Menyentuh! menyentuh siapa, sayang?"
Apa orang hamil memang seaneh ini ya. Aku memang memegangnya. Tapi kan itu juga ada di badannya. Berarti yang aku sentuh juga dia dong!"
"Mantanmu itu. Aku lihat kau ketemuan dengannya di kafe. Pakai sembunyi sembunyi dariku lagi."
Aditya malah tertawa terpingkal pingkal oleh kesalah pahaman yang terjadi. Dia sangat bahagia karena istrinya cemburu. Dan yang lebih membuatnya merasa lucu karna cara cemburunya yang pas banget dengan rencananya untuk memberi kejutan kepada sang istri.
"Kau jahat, kau bahagia kan sekarang!" teriak Ziya.
Bersambung....
__ADS_1