
Di dalam sebuah kafe, ada dua pria yang berbeda usia nampak berbincang santai sambil sesekali menyesap kopi mereka. Dialah Rama dan Denny, mereka tidak pernah mengira, jika akan di pertemukan dalam keadaan yang serba canggung seperti ini.
"Terima kasih, karna kau sudah menolong istri, saya!" Denny menekan segala rasa panas dan cemburu yang menjalar di hatinya. Bagaimana tidak, dua puluh tahun yang lalu. Dirinya harus menelan kenyataan pahit setelah kecelakaan, dirinya di vonis tidak bisa memiliki anak lagi. Tapi ternyata istrinya sedang hamil.
Dan orang yang membuat hamil istrinya, sekarang berada di hadapannya, setelah tadi mendonorkan darah untuk kesembuhan Maya. Dahulu, dia berusaha menerima pengkhianatan istrinya untuk menjaga nama baik keluarga. Bagi keluarga Bagaskoro perpisahan adalah sebuah aib. Selain itu, Denny begitu mencintai Maya, sehingga dia hanya bisa menutup mata dan telinga. Ironis, bukan?.
"Saya hanya melakukannya, karna terdorong oleh rasa perikemanusiaan saja, tidak lebih. Selain itu, saya melakukannya karna, dia...!"
Rama menyesal, tapi juga bahagia karna masa lalunya, dia bisa memiliki Syita sekarang.
"Ya, saya tahu! sayalah orang yang paling menderita karna kejadian itu." Denny memotong pembicaraan Rama. Dia sebenarnya enggan membahas masalah yang meninggalkan luka dan rasa sakit yang di tahannya bertahun tahun.
"Ya, saya pahami hal itu. Tapi sepertinya, saya tidak perlu meminta maaf. Istri anda yang datang kepada saya, karna keinginannya sendiri." Rama masih tidak terima, karna dulu dia di anggap sebagai pebinor(perebut bini orang)
Rama dahulu masih menjadi mahasiswa, dia tidak pernah tahu jika yang menggodanya saat itu adalah istri orang. Rama yang awalnya hanya bersenang senang malah merasa kecanduan dengan aset yang di miliki Maya. Sampai akhirnya Denny mengetahui itu dan membuat keduanya berpisah, padahal Denny sudah mengetahui jika Maya tengah hamil.
"Kau memang tidak tahu diri." Denny menatap sinis ke arah Denny.
"Kau yang tidak tahu diri. Kau menahan anakku di rumahmu." Rama yang mengetahui jika anak yang di kandung Maya adalah darah dagingnya, berusaha mengambilnya dari tangan Maya. Tapi dia tidak berhasil. Bahkan jalur hukum menentangnya, karna Maya tetap memilih dengan Denny. Terlebih Rama masih mahasiswa.
"Bukankah, kita sepakat untuk membaginya." Denny mengatakan itu santai.
"Iya, aku bahkan sudah menceritakan semuanya kepada Tisya." Rama menyesap kopi miliknya. Menatap sekilas perubahan mimik wajah Denny yang menatapnya. "Kau ini, serius sekali, tuan."
"Apa yang di katakan putrimu, apakah dia bisa menerimanya?" Denny tidak pernah bisa menceritakan peristiwa yang menurutnya menyakitkan baginya. Terlebih dia enggan kehilangan Syita yang sudah di anggap sebagai anak kandungnya.
"Dia bahagia. Karna sejak kecil tidak memiliki saudara." Terang Rama. "Apa kau masih lemah sehingga belum mampu menerimanya." Rama mengejek Denny yang pasti masih terluka atas kejadian itu. Siapa yang terima jika istrinya selingkuh hingga hamil. Bahkan anak hasil perselingkuhan istrinya, dia rawat seperti anak sendiri.
"Karna, aku kuat. Aku tidak ingin menyakiti putriku." Denny menatap tajam orang di hadapannya.
"Terimakasih! Anda merawat putri saya dengan baik!" ucap Rama tulus.
"Dia, putriku!" tegas Denny.
__ADS_1
Rama menatapnya lekat.
"Apakah, dia tahu, jika dia putriku?" walau mendapat pelototan dari Denny dia tidak gentar. Dia hanya ingin memastikan keadaan putrinya. Dan berharap putrinya akan memanggilnya ayah suatu saat nanti.
"Aditya sudah tahu semuanya." Jawab Denny pada akhirnya. Lebih baik dia berdamai dengan keadaan dari pada nantinya sakit sendirian. Begitulah yang dia pikirkan. Toh istrinya sudah menyadari kesalahannya dan tidak mengulanginya lagi.
"Apakah kita sudah berdamai?"
"Kau semakin menantang ku." Seloroh Denny. Keduanya tertawa bersama. Dahulu mereka pernah saling memukul sekarang saatnya saling merangkul.
💦💦💦💦
Di sebuah taman rumah sakit, Syita duduk termenung di bangku, dia mengingat kejadian semalam yang membuatnya terkejut. Kenyataan yang tidak pernah di sangkanya. Dia menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajah.
"Sudah, kakak harus kuat." Melepas pelukan sang kakak dan tanpa sadar melihat seseorang di kursi tunggu.
Dia, kenapa bisa ada di sini. Batin Syita.
Saat itu, dia ingin sekali menyapa orang yang tanpa sengaja di lihatnya. Tapi bersamaan itu juga, ruang ICU terbuka, seorang dokter keluar dan mengabarkan jika Ziya baik baik saja dan akan di pindahkan ke ruang rawat inap.
Aditya bahagia tapi juga masih bersedih. Syita memegang tangannya erat sambil meneteskan air mata.
"Untuk nyonya Maya, beliau banyak mengaluarkan darah dan akan segera, kami lakukan operasi. Tapi...!"
"Tapi apa, Dok?" Syita memotong ucapan dokter.
"Kami, membutuhkan pendonor darah dengan golongan B+ sedangkan persediaan di rumah sakit ini habis."
Aditya dan Syita seketika badannya lemas kembali. Mereka berdua saling menatap karna tidak memiliki kecocokan darah dengan Maya.
"Kita hubungi, Bang Rizal ya bang. Untuk mencari pendonor darah." Syita menenangkan abangnya.
"Tidak perlu, di sini sudah ada pendonornya." Sebuah suara mengagetkan mereka berdua. Rama sudah berdiri di samping Tisya Rafel tidak jauh dari mereka berada.
__ADS_1
"Siapa, om! tolong bantu mama saya, Om!" Syita menangkupkan kedua tangannya dan mendekati Rama.
"Tentu saja! Tisya yang akan mendonorkan darah untuk mama kalian!" Rama berujar santai, tapi langsung mendapat pelototan dari Tisya.
"Papa apa apan ini!" Bukannya dia tidak mau, tapi dia sangat takut jarum suntik.
"Papa akan menemanimu, Nak!" Rama mengangguk ke arah anaknya.
"Tapi, pa...!"
"Tolonglah mama, aku akan berbuat apapun untukmu asal kamu mau mendonorkan darah untuk kesembuhan mama!" Syita masih memohon dengan meneteskan air mata. Sedangkan Tisya memegang tangan Rama gemetaran.
"Papa akan menemanimu, Sayang!" menghibur anaknya. Karna inilah satu satunya cara agar dia bisa mendekatkan putrinya satu sama lain.
"Kamu kenapa pucat gitu?" Syita melihat perubahan di wajah Tisya pun bertanya. Padahal sebelumnya tidak seperti itu.
"Dia takut jarum suntik!" Rama mengatakan itu dan langsung di hadiahi cubitan putrinya.
"Papa, kenapa papa katakan itu? aku malu, tahu!" Mereka saling lempar senyum.
"Tidak masalah, Sayang! biar Syita menemanimu nanti, iya kan Syita, mau kan menemani Tisya di dalam sana." Rama menoleh pada Syita dan mengedipkan sebelah matanya.
"Ah...iya!, Aku akan menemanimu, tapi tolong bantu mamaku, ya! aku akan sangat berterima kasih jika, kau mau membantu mama." Syita masih memohon. Dan di angguki oleh Tisya. Rama pun memeluk Tisya dengan erat menghadiahinya dengan ciuman di ujung rambut. Setelah itu, Tisya mendonorkan darah di temani oleh Syita.
Sekarang
"Hai anak gadis melamun aja, masih pagi juga!"
Syita menghela nafasnya kasar.
"Pagi sekali, kau kemari. Apa kau tidak punya pekerjaan lain."
**Bersambung....
__ADS_1
Siapakah yang datang menemui Syita**?