
Rumah Bagaskoro.
Syita berlari lari masuk ke dalam rumah, dia baru pulang hari ini. Setelah kepergian Maya dan Ziya waktu itu, dirinya menyelinap pergi bersama teman temannya melakukan lintas alam.
"Nona baru pulang ya." Syita menjatuhkan tas ransel yang di bawanya sebab terkejut.
"Cak Ali, ngagetin aja seh? eh mama ada dirumah nggak?" celingak celinguk mencari seolah mencari sesuatu.
"Nyonya tidak pulang kerumah, sejak bertengkar dengan tuan muda." Ucap Cak Ali lirih. Syita mengerutkan kening.
"Bertengkar kenapa Cak!" Sebenarnya Syita lega, karna kepergiannya tidak di ketahui oleh mamanya. Dia sebelumnya hanya meminta izin sama Denny. Tapi mendengar hal ini, dia pun menjadi gusar. Pasti mama dan papanya akan pergi lama untuk menghindari pertengkaran. Rumah akan sepi seperti yang sudah sudah.
"Ceritanya panjang nona, baiknya nona bebersih dulu, nona Ziya ada di rumah kok!" Cak Ali melenggang pergi setelah mengambil tas ransel yang di jatuhkan Syita.
"Oke, aku mandi dahulu. Eh yang di dalam tas item, buat Cak Ali aja. Ingat ya, janji abis aku bersih bersih Cak Ali cerita." Sambil berlari kecil pergi ke kamarnya. Cak Ali hanya geleng kepala menyaksikan tingkah majikan juga momongannya itu.
Sebelum pergi dari sana, Cak Ali melihat Winda datang. Syita sudah tidak nampak. Maka, diapun berhenti untuk menyambut Winda.
"Selamat siang Cak!" Sapa Winda basa basi.
"Selamat siang nona! tumben beberapa hari tidak kelihatan?" Heran karena biasanya Winda selalu berkunjung untuk sekedar ngobrol dengan Syita dan Ziya.
"Saya baru pulang dari fashion show, Cak. Jadi beberapa hari saya sibuk." Tersenyum.
Owh ya, dimana Syita."
"Nona Syita baru saja pulang non, dia pergi membersihkan diri. Sedangkan nona Ziya belum keluar dari kamarnya sejak kepergian tuan Aditya."
"Baiklah, pak. Kalau begitu saya ke kamar Ziya saja." diangguki oleh Cak Ali.
Winda telah sampai di depan kamar Ziya. Setelah tiga kali mengetuk pintu, Ziya nampak terkejut dengan kedatangan Winda.
"Kakak sudah sampai sini aja, aku tadi mau kerumah kakak lho. Maaf ya kak, aku tidak bisa hadir." Ziya memeluk Winda melepaskan kangen sebab beberapa hari tidak bertemu langsung. Ziya hanya melihat show yang di gelar Winda lewat dumay.
"Tidak apa apa. Aku mengerti keadaan kamu. Sebelum kesini, aku sudah bertemu dengan Diki. Dia menceritakan semuanya. Kamu yang sabar ya Ziya. Tante Maya memang seperti itu orangnya. Makannya, Aditya mengambil keputusan sepihak untuk menikahi kamu. Agar bisa melindungi kamu."
__ADS_1
"Maksud kakak! Apakah mama memang tidak menyukaiku?"
"Tante Maya orang yang susah di tebak Ziya, dia memiliki sifat plin plan, sehingga apa yang di pikirannya mudah berubah ubah. Tapi, kau tenang saja. Aditya tidak akan membiarkan semua yang di rencanakan oleh tante Maya terwujud." Winda menepuk bahu Ziya lembut.
"Benarkah itu, kak!" Winda mengangguk penuh keyakinan. Ziya pun akhirnya percaya, toh selama ini Winda tidak pernah berbohong.
"Sudahlah jangan terlalu di pikirkan. Lambat laun pasti tante akan menerima kamu. Buatkan saja cucu yang imut untuknya." Ziya merona mendengar ucapan Winda sekilas mengingat pertempuran dirinya dan Aditya yang tidak pernah bosan. Bahkan Aditya selalu meminta lebih.
Anak, cucu, apakah mama akan mau menerima cucunya. Sedangkan kepada aku, dia tidak menerimaku. Bukankah orang yang membenci akan membenci apapun yang berhubungan dengan yang dibencinya.
"Bagaimana kalau hari ini kita pergi bersenang senang." Winda membuyarkan lamunan Ziya.
"Apa, kak?"
"Kita anggap hari ini hari bebas, kita pergi bersenang senang, kita bisa shopping, nonton bareng, atau sekedar jalan jalan. Ah iya, kita ke salon saja. Aku butuh style rambut yang baru." Winda mengibaskan rambutnya.
"Boleh juga, kak. Sepertinya, bukan ide yang buruk." Ziya merasa perlu keluar rumah untuk sekedar mengalihkan pikirannya yang kacau.
"Kita ajak Syita sekalian."
"Sudah kok. Tadi Cak Ali yang bilang, dia ada di kamarnya." Menarik lengan Ziya menuju ke kamar Syita.
🌿🌿🌿🌿
Ditempat lain. Disebuah ruang rapat. Beberapa orang tampak serius mendengarkan seorang gadis yang berbicara dengan lugas sambil beberapa kali menunjuk gambar yang terlihat di layar.
"Bagaimana tuan tuan? apakah ada yang kurang jelas, bisa anda tanyakan kepada saya." gadis itu mengakhiri presentasinya. Aditya mengangkat tangan.
"Silahkan pak Aditya!" Sekretaris itu nampak memucat, sebab Aditya adalah orang sangat jeli dan teliti dalam berbisnis. Ada kesalahan sedikit saja dia akan di tendang dari kantor ini. Begitulah rumor yang beredar.
"Dari materi yang kamu sampaikan, saya mendapati akan adanya pembengkakan dana, bagaimana cara kamu untuk mengatasi masalah itu." Gadis itu mengambil nafas banyak banyak berusaha setenang mungkin.
"Kita tidak perlu khawatir akan hal itu, pak. Karna tambahan modalnya tidak terlalu besar. Dan keuntungan kita disini adalah, kita bisa memanfaatkan nya dalam jangka waktu panjang. Dua kali lipat dari yang kita targetkan."
Aditya diam saja, sambil memeriksa ulang kertas yang ada di hadapannya. Mimik wajahnya tampak serius.
__ADS_1
"Baiklah, aku setuju. Rizal kamu atur semua yang dibutuhkan." ucapnya.
Semua orang yang berada di sana bernafas lega. Pekerjaan yang menyita waktu dan pikiran mereka berjam jam membuahkan hasil.
Aditya kini sampai di kursi kebesarannya.
"Rizal, menurutmu...apakah perlu, aku mengadakan resepsi pernikahan." Melirik Rizal yang berdiri di sampingnya.
"Aku rasa tergantung bagaimana pendapat nona Ziya, tuan. Tapi seorang wanita akan sangat senang jika pernikahanya berkesan."
"Apakah menurutmu pernikahanku tidak berkesan?" Memelototi Rizal.
"Maksudku, berkesan, tapi saat itukan, tuan tidak tahu bagaimana perasaan nona terhadap tuan."
Aditya diam saja benar yang dikatakan Rizal. Bahkan sampai sekarang pun, dia belum tahu apa Ziya mencintainya atau tidak. Tapi kalau dipikir kembali, Ziya juga pasti mencintainya. Mana mungkin tidak cinta kok mau diajak berhubungan badan. Begitulah yang Aditya pikirkan.
"Tentu saja, dia mencintaiku."
"Yakin!" Rizal terkesan meremehkan.
"Hai, mana ada seorang istri yang mau diajak bikin anak kalau bukan karena cinta." Kesal sendiri.
"Banyak orang di luar sana yang bikin anak. Tapi bukan karna cinta." Rizal mengambil map di meja, lalu hendak keluar dari ruang Aditya sambil senyum senyum sendiri.
"Hai, kau sengaja membuatku kesal ya."
" Hahaha. Nona Ziya orang yang baik, tuan. Kalaupun tidak mencintai, tuan. Buatlah dia nyaman agar mencintai sampai mati." Rizal memegang handel pintu menariknya, lalu keluar dari ruangan.
Senyum terbit di wajah Aditya.
Kau benar Rizal. Aku akan pastikan Ziya mencintaiku seumur hidupnya. Ah aku jadi merindukannya.
Aditya mengambil handphone nya lalu menghubungi seseorang....
**Bersambung......
__ADS_1
Selamat membaca semoga suka karya receh aku. Terima kasih ..jangan lupa kasih aku like, komen, vote dan rate sebagai penyemangat**.