
Ruangan yang bernuansa putih itu penuh dengan rasa yang berbeda, ada rasa bahagia, ada rasa sedih dan penyesalan berbaur menjadi satu. Perasaan masing masing orang yang di sana pun berbeda.
"Semua ini gara gara, Dia! kesini kamu, kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatannmu. Kamu senang kan melihat aku seperti ini sekarang?" Maya melempar apa saja yang berada di dekatnya. Tapi namanya rumah sakit pastilah sedikit benda di sana. Kini dia memegang piring makan, dia hendak melemparnya tapi mengurungkannya lagi. Meletakkan piring itu kembali dengan kesal.
Bagaimana nanti jika mengenai anakku sendiri.
Nampak buah buahan bertaburan di lantai, Syita memungutinya perlahan. Lalu meletakkannya di meja dekat sofa.
Aditya masih memeluk istrinya erat. Dia tidak akan membiarkan mamanya melukai sang istri. Sejak Maya tersadar dari komanya tadi pagi terus saja mengamuk. Dia tidak terima, karna kakinya harus mengalami patah tulang dan untuk sementara dia tidak bisa berjalan seperti biasa.
Ziya yang ingin menjenguk mertuanya di antar oleh Aditya, tapi rupanya Maya belum bisa berdamai dengan Ziya. Terlebih insiden yang membuat kakinya mengalami patah tulang. Padahal, itu bukan kesalahan Ziya.
"Mama sudah dong marah marahnya. Lagian yang salah di sini sebenarnya itu mama!" Syita yang dari tadi diam saja kini buka suara.
"Kenapa mama yang di salahin?" menunjuk dirinya sendiri. Maya bahkan berpikir, kenapa Ziya tidak tertabrak saja dan dirinya yang selamat. Padahal mobil itu sudah dekat banget jaraknya dari Ziya.
"Iyalah, yang dorong kak Ziya siapa? mama kan? tapi Tuhan lebih sayang kak Ziya makannya mama yang di tabrak." Syita ini pedes banget ngomongnya.
Maya tertegun sejenak setelah mendengar kata kata Syita yang tanpa menjaga perasaan itu. Hatinya merasa sakit saat mendengar itu, tapi akalnya membenarkan apa yang di ucapkan anaknya. Dia mulai mengingat peristiwa itu, jika menurut nalar sudah di pastikan Ziya yang akan celaka, tapi nyatanya malah dirinya yang tidak bisa berjalan sekarang, karna ulah jahatnya sendiri.
"Syita, kalau bicara mbok yang sopan, pikirkan perasaan mama" ucap Aditya memperingatkan sang adik. Biar bagaimanapun Maya tetaplah orang tua mereka.
"Apakah mama pernah mengajari kesopanan? apakah pernah mama memikirkan perasaan orang lain? mama saja tidak pernah melakukan itu, kenapa kita harus melakukannya. Lihatlah mama saja selalu memberi contoh yang buruk kepada kita. Dia ingin melenyapkan orang lain apakah pernah sedikit pun mama berpikir?" Syita menunjuk ke kepalanya sendiri.
"Bagaimana perasaan kak Aditya nanti, jika kak Ziya tiada. Mama itu egois mama tidak pernah menyanyangi kita." Syita memendam amarahnya sejak meninggalkan rumah. Dia yang merasakan tidak di perhatikan, bahkan saat sudah pulang juga tidak di sapa. Oleh karenanya Syita uring uringan sendiri. Dan saat ini dia ingin melampiaskan amarahnya itu.
Maya meneteskan air matanya, ucapan pedas Syita menusuk ke hatinya. Membuat dia merasa tercubit dan mulai memikirkan apa yang selama ini di lakukannya. Apalagi mengingat betapa banyak perilaku buruk yang dia lakukan. Dan peristiwa tabrakan itu, hanya satu contoh dari sekian keburukannya yang terlihat.
Tidak, aku tidak mungkin kalah dari gadis pembayar hutang itu. Maya mengeraskan hatinya.
__ADS_1
"Tapi, Syita, lihatlah kondisi mama, wajar saja jika mama depresi." Aditya menghibur sang adik, agar suasana tidak semakin memanas.
"Mama itu harusnya tidak depresi, tapi harusnya bersyukur, Tuhan masih memberi kesempatan kepada mama agar bertaubat." Syita memandang mamanya sinis, lalu keluar dari ruangan itu dengan tergesa-gesa.
"Syita, ada apa, Nak?" Denny menangkup wajah anaknya yang tampak memerah. Di samping Denny ada Rama yang menatap interaksi keduanya, ada rasa cemburu di hatinya, tetapi juga rasa bahagia, karna anaknya mendapatkan kasih sayang yang utuh.
"Mama, Pa!" Syita semakin mengeratkan pelukannya. Sedangkan Rama, merasa ada yang memegang pundaknya, dia melihat Tisya yang tampak tersenyum menatap sang ayah. Rasa bangga menyelimuti hatinya anak yang dia besarkan sendiri, selalu bisa memberi kekuatan untuknya.
"Kalian bertengkar lagi?" Denny masih memeluk Syita. Syita menggelengkan kepalanya di dalam pelukan Denny.
"Baiklah, sebaiknya kita duduk dulu." Denny mengedarkan pandangannya dan menuntun Syita pada sebuah bangku tunggu.
Sedangkan Rama dan Tisya memilih pergi saja dari sana, "Sepertinya saya hadir di waktu yang kurang tepat, lain kali saja kami meminta maaf kepada nyonya Maya." Ucap Rama di menyela obrolan Syita dan Denny.
"Maafkan ketidaknyamanan ini, tuan!" Denny merasa bersalah, sebab awalnya dirinyalah yang menyarankan agar Rama dan Tisya menemui Maya.
"Lalu kenapa? ada apa? ayo cerita sama papa!" Denny menatap lekat wajah anak kesayangannya, setelah Rama dan Tisya berlalu dari sana. Mengapa dia tidak pernah merasa jika Syita bukankah darah dagingnya.
"Jadi mama masih menyalahkan Ziya?" Denny memastikan cerita Ziya. Syita hanya mengangguk.
"Lalu dimana Ziya sekarang?" Denny penasaran, karna tidak melihat menantunya di luar.
"Masih di dalam!" jawaban Syita membuat Denny mengerutkan keningnya.
"Iya, kak Ziya sama bang Aditya di dalam, aku yang kesel karna sikap mama jadinya memilih keluar." Ungkap Syita sambil mengusap air mata di pipi.
"Sudah, sudah jangan di pikirkan lagi. Mamamu kan memang seperti itu." Denny menghibur anaknya.
"Aku jadi tidak suka dengan mama, kenapa dia sejahat itu sama orang?" Syita kesal sendiri. Denny malah makin bingung dengan pengakuan anaknya. Pasalnya, dia ingin mengatakan jika Rama adalah ayah kandung Syita, tapi mungkin hal itu harus dia rahasiakan kembali. Takutnya Syita akan semakin membenci Maya jika tahu seburuk apa mamanya itu.
__ADS_1
"Pa, tadi tuan Rama kenapa kemari?" Syita sudah merasa baikan setelah mengeluarkan segala isi di hatinya.
"Ya...! ingin menjenguk mamamu, dan sekalian meminta maaf."
"Kok barengan sama papa?" Selidik Syita.
"Iya, tadi papa dan tuan Rama mengurus peristiwa kecelakaan itu, kami akan menyelesaikannya dengan cara kekeluargaan" terang Denny.
"Iyalah, itukan salah mama!" Syita masih saja sewot.
"Darimana kamu tahu?" selidik Denny,
dia sudah menduga jika pelakunya adalah Aditya, tapi Denny hanya ingin memastikan.
"Aku melihat rekaman CCTV yang di kirim sama Rafel." Iya, setelah Syita kabur dan bersandar pada dinding rumah sakit, Rafel mengirim pesan kepadanya.
Denny mengambil gawai milik anaknya dan membuka video yang di maksud Syita. Syita bergeming di tempat, sedangkan Denny iseng membuka via chat anaknya.
💌Jangan sering lari dariku, karna jika jauh kau pasti merindukan, aku.
💌Owh, iya maaf tidak bisa mengejar, aku ada urusan.
💌 Sebenarnya, aku datang kepadamu untuk memberikan video ini, tapi melihat pesonamu, aku jadi melupakan tujuanku. Aku mengirimkan video ini, hanya bermaksud untuk menjelaskan jika, aku tidak bersalah dalam tabrakan malam itu.
"Apakah kalian sudah sedekat itu?" gurau Denny menyerahkan gawai yang masih menyala.
"Papa, iseng banget seh buka privasi orang aaaa!"
**Bersambung.....
__ADS_1
❣❣❣🕳
Pernah nggak seh Ayah kalian iseng pas di pinjemin hp eh malah ngintip via chat kita**.