Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Membujuk.


__ADS_3

Dua makhluk yang belum akur kini duduk bersebelahan. Aditya masih dalam mode marah mengacuhkan istrinya yang sejak tadi menatap wajahnya dengan senyum termanis yang, dia miliki. Tapi tetap diabaikan.


Akhirnya, dia memilih diam dan berselancar di dunia maya. Namun keheningan itu masih membuatnya tak nyaman. Aditya masih bersikap acuh.


"Sayang, masih marah ya!" Ziya mengedipkan matanya menggoda. Aditya hanya menoleh sekilas lalu acuh lagi. Semenjak pulang dari rumah Marina mereka belum meluruskan kesalahpahaman ini. Aditya terus saja mengacuhkan Ziya, tapi ketika bersama keluarga, Aditya tampak tak ada masalah. Bahkan masih terlihat mesra menyuapi Ziya di depan banyak orang.


"Tadi, aku di manja manja sêkarang dicuekin lagi." Setelah mengatakan itu, Ziya masuk ke dalam kamar mandi untuk gosok gigi dan ganti baju tidur.


Kemana seh si Rizal, belum juga kasih info apapun. Aku akan menghukum Ziya. Berani beraninya, dia dekat dengan lelaki lain.


Aditya masih menunggu info dari Rizal. Tiba tiba ponsel Ziya bergetar. Aditya melirik ponsel itu lalu beralih kembali ke ponselnya.


Siapa yang telpon Ziya ya. Si Galak, siapa si galak.


Tak berapa lama ponselnya juga berdering.


"Halo Rizal, bagaimana?"


"Begini, tuan. Laki laki itu adalah tuan Devan, dia anak angkat pertama tuan Ardi. Dan juga, dia yang menjaga nona Ziya sedari kecil! Begitu info yang kami dapat."


"Apakah itu benar?"


"Benar tuan, kami dapatkan info ini dari bikin Narsih ART Ziya. Tuan Devan selama ini berada di luar Negeri, dan baru beberapa hari kemarin pulang ke tanah air."

__ADS_1


"Berarti tidak ada hubungan sebagai sepasang kekasih diantara mereka?"


"Benar tuan, dan hubungannya dengan nona sebagai kakak beradik. Apakah ada pertanyaan lagi, tuan."


"Sudah itu aja udah cukup Zal. Terima kasih."


Sepertinya mendung telah berlalu. Senyum dibibir Aditya terbit bagaikan matahari merekah di musim panas.


Pintu kamar mandi sepertinya terbuka, Ziya dengan pakaian tidurnya, keluar dengan santainya. Tadi di kamar mandi, dia berusaha berpikir bagaimana membujuk suaminya dan menceritakan hubungannya dengan Devan.


Dari artikel yang, dia baca pertama harus bicara manis, dia sudah lakukan tapi suaminya masih acuh saja, cara kedua merayunya. Ziya akan mencoba cara yang kedua dengan baju tidur satin yang menunjukkan lekuk tubuhnya.


"Tak ada salah bukan, manjakan suami sendiri" Gumamnya, pipinya terasa panas setelah mengatakan itu.


Aditya sedang bicara dengan seseorang melalui ponselnya. Setelah selesai, dia berbalik dan masuk ke dalam kamar. Ziya yang mengerti pergerakan Aditya, buru buru masuk dalam selimut. Dengan santai Aditya masuk ke dalam walk in closet dan mengganti pakaian.


Setelah keluar dari sana, betapa terpesonanya dia, menemukan istrinya tiduran di ranjang dengan gaya menantang. Aditya meneguk ludah beberapa kali. Lupa sudah akan cemburu yang dirasakannya tadi.


Paha putih itu terekspos sampai delapan puluh persen. Belahan dada rendah yang menampakkan gunung kembar setengahnya. Ziya bangun dari tidurannya, menghampiri Aditya yang terpaku saja mengagumi keindahan bentuk tubuh istrinya.


"Sayang, kemarilah. Aku ingin menjelaskan sesuatu padamu!" Meraih tangan Aditya dan tanpa sengaja tergesek oleh gunung kembarnya. Aditya sudah panas dingin tak karuan, apalagi yang di bawah sana sudah berdiri tegak. Menantang musuhnya untuk berlaga dalam pergumulan panas.


"Yang, mas Devan itu...! Saudara angkat aku dan kak Nabila." Sebuah penjelasan yang menurut Aditya terdengar menggoda. Aditya sudah tidak butuh penjelasan itu, dia tahu semuanya.

__ADS_1


"Tapi kenapa bisa bersama Marina?" Aditya sudah tak tahan menyerang bibir Ziya, lalu turun ke ceruk lehernya.


"Karna, mereka akan memiliki anak, Marina mengandung anak mas...eummh!" menempelkan kembali bibir Ziya dan ********** pelan.


"Jangan dekat dekat dengan pria lain, aku tidak suka." Mulai menyerang Ziya. Tangannya kini sudah berada di tengkuk leher Ziya, permainan lidah dan bibirnya semakin liar. Lalu turun ke ceruk leher dan membuat cupangan kecil di sana.


"Ta..pi, dia saudara tertua kami, sa... eummh!" Membungkam lagi dengan ******* yang lebih dalam, dengan jangka waktu lebih lama. Lidahnya bergerak lincah melilit dan mengabsen setiap rongga mulut Ziya. Suara lenguhan lepas begitu saja tanpa terkendali, membuat Aditya semakin bersemangat melancarkan aksinya.


Pertarungan yang semakin liar dan membuat keduanya harus pandai menghadapi setiap pergerakan lawan. Jurus demi jurus mulai di selancarkan, pemilik tongkat ajaib harus menerima posisinya sekarang, mulai terjerat jurus menyelam, dan terhisap lebih dalam. Setelah itu pergulatan makin berani saja, keduanya pasang kuda kuda menyamping tongkat ajaib menusuk lewat samping membuat lawannnya mengguncang semakin memberikan perlawanan.


"Sayang!"


Sepertinya si pengendali sudah mulai menumpahkan bisa beracun nya. Melancarkan serangannya, membuat lawannya semakin terkungkung tak berdaya. Serangan pertama tepat sasaran. Mungkin akan butuh beberapa hari lagi untuk mengetahui efek dari serangannya.


Pemilik jurus sumur tak berdasar menukik menyelaraskan pertarungan yang membuatnya beberapa kali merasa lumpuh. Tapi ternyata tongkat ajaib masih tegak tak goyah meski beberapa kali tersedot dan tersedot jatuh ke dalam sumur tak berdasar, malah bermain tarik ulur lebih lama lagi. Tongkat itu tak puas hanya sekali melancarkan jurus andalannya. mengulang lagi dari arah yang berbeda.


Hingga akhirnya tongkat ajaib mencapai kekuatan tertinggi menggempur kedalaman sumur sampai titik terdalam meninggalkan bisa di sana. Menghunusnya lagi membuat sang lawan memekik tertahan.


Akhirnya pemilik tongkat ajaib jatuh terguling ke samping, dengan nafas memburu.


**Bersambung....


Happy reading semoga suka dengan cerita aku. Terima kasih atas like, komen dan rate juga vote. love you all**

__ADS_1


__ADS_2