Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Syita belum pulang


__ADS_3

"Hei...kau apakan anakku." Sebuah bariton yang mengejutkan Syita dan pria itu.


Apalagi Denny langsung menarik jaket yang di kenakan oleh pemuda itu. Denny mendaratkan bogem mentah ke wajah pemuda yang di kiranya menjadi penyebab sang anak menangis. Syita langsung berdiri dan berusaha menghalangi papanya melakukan kekerasan.


Pemuda itu merasakan panas di pipi kanannya, lalu dengan sigap menepis tangan Denny yang hendak menghajarnya untuk kedua kalinya.


"Ini hanya kecelakaan, pa!" Syita berusaha menjelaskan sambil menarik badan papanya.


"Maksudmu! dia telah melakukan hal itu dan tidak mau bertanggung jawab begitu maksudmu? hah." Tangannya masih di tahan oleh pemuda itu, Denny sudah merasa akan kalah.


"Pa...Syita yang sudah bersalah pa!" Denny langsung menurunkan tangannya. Dan pria muda itu membenarkan letak jaketnya.


"Apa maksud, kamu!" menatap anaknya lekat.


"Syita yang menabraknya tadi, pa!" mengakui kesalahan.


"Maaf, sepertinya saya sudah tidak memiliki urusan lagi di sini. Terima kasih hadiahnya, tuan lain kali teliti dulu baru beraksi." Pergi begitu saja sambil meraba sudut bibirnya yang bengkak karena ulah Denny.


"Hei, tunggu, aku minta maaf." Syita tak enak hati, karna pemuda itu tidak salah. Pemuda itu hanya berhenti tanpa menoleh.


"Lain kali jangan menangis di sembarang tempat. Atau akan ada yang jadi korban, nona." Pemuda itu melanjutkan lagi jalannya.


Syita masih merasa bersalah, "semua ini gara gara papa. Papa dan mama sama sama egois." Mendorong Denny.


"Apa maksud kamu, nak? ayo kita masuk dan obrolkan semuanya di dalam saja. Ya!" Mendekati dan membujuk Syita. Syita menurut saja saat di gandeng papanya masuk ke dalam apartemen nya.


Sampai di dalam mereka tidak menemukan Maya. "Tuhkan, mama tidak peduli padaku, pa!" Sedih rasanya ketika mencari perhatian malah di abaikan.


"Mamangnya kamu tadi sudah ketemu sama mama, kamu?" Denny masih bingung.


"Sudah!" Lirih Syita.


"Jangan bilang, kamu menangis karena tadi bertengkar dengan mama, kamu!" Tebak Denny. Syita mengangguk auto Denny memijat pelipisnya.


"Jadi papa tadi telah melakukan tindakan kriminal. Memukul orang tanpa sebab. Syita...kenapa kamu tidak mencegah papa tadi. Bagaimana jika orang itu melaporkan kepada pihak yang berwajib atas kasus penganiayaan." Denny menyugar rambutnya.

__ADS_1


"Ya, kenapa papa nggak nanya dulu. Dateng dateng langsung main tonjok aja." Memang benarkan bukan salah Syita.


"Ya..., papa khawatir. Abisnya kamu nangis dan pas banget bocah itu ada di sana. Papa kira tadi dia itu pacar, kamu dan sudah menyakiti hati kamu." Denny duduk di samping anaknya. Keduanya pun hening sesaat. Datanglah Maya dari dalam kamarnya.


"Lho papa kapan pulang?" mencium suaminya.


"Nggak jadi ngambek Syita? tadi aja banting pintu keras banget eh ternyata balik lagi." Maya terlihat santai mengatakan itu, sedang Syita nafasnya naik turun.


Mama tega banget seh sama anak sendiri.


"Dia yang buat hati Syita patah, pa!" Syita berdiri "Aku mau pulang saja. Percuma ke sini mama sama papa kayaknya begitu bahagia tanpa Syita." Benar benar meninggalkan apartemen tempat tinggal orang tuanya.


"Mama tidak ingin menjelaskan sesuatu sama papa."


"Ayolah, pa. Tahu sendirilah Syita memang seperti itu. Nanti juga baik sendiri." Maya bersikap acuh. Denny hanya geleng kepala dengan kelakuan istrinya yang jarang sekali memperhatikan anak perempuan mereka.


🌸🌸🌸


Ziya duduk dengan gelisah di sofa ruang tamu. Beberapa kali menengok ke arah pintu tapi tidak ada yang muncul dari sana. Foto foto yang di kirim Rafa waktu itu membuatnya semakin khawatir saja.


"Nona tidurlah dulu, biar saya yang menunggu nona Syita pulang." Bujuk Cak Ali.


Tadi Ziya makan malam hanya berdua dengan Aditya saja. Syita entah pergi kemana, dia tidak tahu. Selesai makan malam, ada Rizal datang untuk membahas pekerjaan. Mereka lembur untuk sebuah proyek baru di ruang kerja Aditya.


Dan Syita, sampai hampir tengah malam belum juga menampakkan batang hidungnya. Ziya khawatir sesuatu bisa saja terjadi apalagi Syita anak perempuan.


"Apa tadi Syita tidak bilang mau kemana, Cak?"


"Tidak nona!"


Ziya menghempaskan tubuhnya lagi ke sofa. Beberapa kali mencoba menghubungi nomor yang di tuju masih saja katanya sibuk.


"Cak Ali apakah, kau memiliki nomer teman teman Syita yang bisa kita hubungi."


"Ah iya ada nona. Sebentar saya cari."

__ADS_1


Cak Ali dan Ziya beberapa kali menghubungi teman teman Syita. Tapi semua mengaku tidak ada yang bersamanya malam ini. Semakin membuat Ziya cemas. Apalagi Ziya juga belum menceritakan perihal foto yang di kirim oleh Rafa kepada Aditya.


Dari ruang kerja, Rizal dan Aditya begitu sibuk dengan pekerjaan mereka sampai lupa waktu.


"Bos, kau tak ingin beristirahat. Istrimu pasti sudah menunggu saat ini." Goda Rizal, sebenarnya dialah yang ingin segera istirahat malam ini. Badannya sudah pegal pegal.


"Baiklah, kita lanjutkan besok saja. Kau istirahat dulu aku mau edit ini sebentar.Rizal menginap saja di sini." Rizal mengangguk sambil menguap.


"Cepatlah istirahat,Zal. Sepertinya kau begitu kecapekan. Jagalah kondisimu jangan sampai kau sakit dan merepotkan aku." Rizal memutar bola matanya malas.


Bukankah kau yang selalu merepotkan aku huhh. Dasar bos. Nasib nasib sabar Rizal. batin Rizal.


"Selamat malam, bos." Rizal tidak sabar ingin segera merebahkan punggungnya yang terasa kaku.


Aditya masih berkutat pada laptopnya. Dia melirik jam lalu menghembuskan nafas. Memang sudah saatnya tidur. Batin Aditya. Dia marapikan kembali meja kerjanya. Merenggangkan otot ototnya yang terasa kaku. Lalu keluar juga dari ruang kerjanya.


Aditya antusias menuju kamar pribadinya. Namun terlihat kosong. Tak ada tanda tanda istrinya berada di kamar. Dilihatnya nakas kosong tak ada air di sana. Aditya berpikir pasti Ziya mengambil air minum. Dia langsung ke kamar mandi untuk gosok gigi dan ganti pakaian. Sebelum itu, dia mengirim pesan pada Ziya jika dirinya sudah selesai dengan pekerjaannya dan kembali ke kamar.


Ziya mendapat pesan dari suaminya. "Cak, Aditya sudah menungguku aku kembali dulu ke kamar ya, kalau Syita sudah pulang hubungi saya. Oke!"


"Baik, nona. Saya akan mengabari nona jika nona Syita sudah pulang." Cak Ali menjawab sopan


Ziya sekali lagi menengok pintu rumah sebelum benar benar pergi dari sana. Tiba tiba seorang bodyguard datang dengan tergopoh-gopoh. Ziya tidak jadi meneruskan langkahnya untuk kembali ke kamar.


"Nona, nona Syita non." Bodyguard berbadan kekar itu nampak gugup.


"Kenapa dengan Syita." Ziya panik sendiri.


"Nona Syita pulang."


"Alhamdulillah, baguslah kalau sudah pulang."


"Tapi non...! non Syita pulang...


Sebelum Bodyguard itu berkata lagi, terdengar seseorang mengucapkan salam. Ziya pun menjawab salam dengan antusias tapi sesudahnya dia terbelalak tak percaya dengan apa yang di lihatnya.

__ADS_1


**Bersambung....


Kenapa Ziya bisa terbelalak ya? ayo tunggu kelanjutannya. Dan jangan lupa tinggalkan jejak supaya author lebih semangat lagi**.


__ADS_2