
Dor
Letusan terdengar jelas ditelinga. Maya dan Ziya menjerit karenanya.
"Keluar hai."
Kita jalan saja, pak, Maya memerintah. Tapi didepan ternyata juga ada yang menghadangnya.
"Tabrak saja, pak."
Sifat jahat Maya keluar.
"Nanti kita kena pasal tabrak lari, nyonya."
Dalam keadaan yang genting seperti ini semua pikiran terasa buntu, Ziya tidak menemukan pilihan lain, selain keluar dari mobilnya.
Gedoran para lelaki itu makin kuat, pria yang menggunakan penutup hitam mulai menembak ban mobil.
"Keluar! atau aku buat mobil kalian, meledak."
"Hai nona, keluar kau!" Satu pria menggedor tepat di pintu tempat Ziya duduk.
"Jangan Ziya, mereka orang jahat. Kita telpon Aditya saja." Maya mencari handphone miliknya tapi, tapi tak kunjung dia temukan. Pria itu menggedor lebih keras lagi. Ditembak lagi ban mobil satunya.
Dor
"Aghhh!"
Maya dan Ziya saling memeluk karna terkejut.
"Keluar! atau, aku ledakkan mobil ini."
"Ma, sebaiknya, aku keluar saja ya." Ziya membuka pintu mobilnya lalu keluar. Si pria bertopeng itu pun langsung menodongkan pistol di kepala Ziya. Maya menutup mulutnya shock dengan apa yang terjadi saat ini.
"Ikuti perintah kami jika, kau ingin selamat."
"Tuan ambil saja harta saya tapi, lepaskan, kami."
Ziya mencoba tenang dan memberikan tas pada pria bertopeng itu.
"Siapa yang butuh tas, kamu!" Menarik kasar tas Ziya dan melemparnya ke jalanan.
"Ikut kami!" Hardik pria itu semakin menekankan pistolnya.
"Hai, mau kau bawa kemana menantuku." mobil kijang itu membawa Ziya ikut serta. Dan berjalan semakin jauh.
Maya segera mungkin menghubungi Aditya, tetapi nomernya selalu sibuk. "Aditya kemana sih" Hendak membanting ponselnya tapi, dia juga sadar masih memerlukan ponsel untuk menghubungi seseorang untuk di mintai tolong.
__ADS_1
"Papa, ah ya papa!"
Maya menscroll nomer di ponselnya. Akhirnya ketemu. Diapun menceritakan semuanya pada Denny.
"Bagaimana bisa terjadi, ma?"
"Aku dan Ziya pulang dari arisan, pa, kami di hadang dan membawa Ziya pergi."
Aditya seperti mayat hidup, diam saja tanpa ekspresi. Tadi dia sibuk meeting membahas laporan tahunan, seperti biasa dia tidak menghidupkan handphone miliknya. Saat ini dia menyesal melakukan itu, tapi apa daya tidak ada pikiran sampai akan ada kejadian seperti ini. Kali ini dia berjanji akan tetap menghidupkan hpnya walau meeting penting sekalipun.
Aditya dan keluarga melibatkan polisi dalam kasus ini, selain itu, mereka juga mengerahkan anak buahnya untuk mencari Ziya. Nomer plat mobil yang digunakan untuk menculik Ziya tidak terdaftar dalam nomer polisi. Ternyata mereka penculik yang ulung.
Aditya menerka nerka segala kemungkinan siapa dalang di balik penculikan Ziya. Dia menyuruh Rizal untuk menyelidiki setiap orang. Dari mulai rekan kerja yang bersaing dengannya sampai orang rumah yang kemungkinan ingin melakukan balas dendam.
Selama dua hari ini pencarian Ziya, masih juga tidak menemukan titik terang.
"Bagaimana Rizal? Apakah kau menemukan pelakunya?" Aditya langsung berdiri melihat Rizal masuk kedalam ruangannya.
Dalam dua hari ini, dia merasa tidak tenang, istrinya belum juga ditemukan. Bahkan detektif sewaan dikerahkan dan hasilnya nihil.
"Tuan, mereka melakukannya dengan sangat bersih."
"Kenapa di saat genting seperti ini, kau tidak berguna Zal? Dimana otak cerdas kamu, menangani masalah seperti ini saja, kamu tidak becus! Aku memintamu membawa Ziya kembali kepadaku. Dan kau tak bisa lakukan itu. Arggghh!" Aditya membanting semua perabot dalam ruangan itu, hingga sekejap saja semua hancur tak tersisa.
"Maafkan aku tuan!" Rizal berkata lirih, dia terluka untuk saat ini, bukan karna ucapan Aditya, tetapi karna ketidak mampuannya.
"Tenanglah tuan, nona pasti baik baik saja. Sekarang tuan harus makan, agar ada tenaga untuk mencari nona Ziya."
Rizal menyodorkan makanan dalam nampan pada Aditya. Dua hari ini jadwal makan Aditya tidak teratur. Tubuhnya mulai sedikit lemas.
"Apakah Ziya sudah makan ya, Zal"
"Pasti sudah tuan." berharap tuannya memakan makanan itu.
"Kau mencoba menghiburku, Zal. Aku takut, penculik itu memperlakukan Ziya dengan buruk."
Aditya terus mengatakan itu jika disuruh makan.
"Kita berdo'a tuan, semoga nona muda dalam keadaan baik baik saja."
"Aku bukan anak kecil, Zal. Jangan membodohi aku dengan kata kata konyolmu itu." Aditya mulai geram. Rasa pusingnya bertambah karena celotehan Rizal.
Disaat seperti itu, tiba tiba ada notif di handphone milik Aditya. Ada privat number mengirim chat.
💌 Cepatlah datang ke gedung tua di desa D Ziya berada di sini sekarang. Notif itu juga menyertakan foto Ziya yang duduk di kursi dengan kaki dan tangan terikat. Serta mulutnya di lakban.
Aditya buru buru datang ke lokasi tersebut. Tanpa pikir panjang, dia mengemudikan mobilnya sendiri. Rizal turut serta di mobil itu, mencengkeram gagang pegamgan.
__ADS_1
"Hati hati tuan! aku tidak mau mati karna peristiwa ini." Aditya tak menggubris ocehan Rizal. Dia hanya bermaksud untuk segera mencapai gedung itu, untuk menyelamatkan Ziya.
"Apa kau bawa para pengawal Zal?"
"Ah iya, tuan, aku lupa akan aku hubungi mereka sekarang juga."
"Kau memang sudah tidak bisa diandalkan ya, Rizal! gitu saja harus diingatkan."
"Maafkan, aku tuan!" Mengakui kesalahannya dengan tulus saat ini.
Kini, sampailah mereka berdua di sebuah bangunan tua yang sudah lama tidak terpakai. Aditya langsung mengedarkan pandangannya.
"Jangan gegabah tuan, kita harus memastikan apakah tempat ini benar benar tempat penyekapan Ziya, atau hanya info hoaxs yang dikirimkan orang tidak bertanggung jawab.
"Apa maksudmu, kita harus menyelamatkan Ziya, kenapa malah kau tarik bajuku."
" Kita harus berhati hati, tuan. Kita berada di sarang musuh. Kita tidak tahu seluk beluk tempat ini."
"Tapi, aku ingin segera bertemu dengannya."
"Aku tahu, tuan. Tapi kita harus hati-hati dalam bertindak. Takutnya nanti kalau kita salah langkah, akan berimbas pada keselamatan nona Ziya."
Aditya mengusap wajahnya kasar. Semua yang dikatakan Rizal adalah kebenaran.
Saat mereka berdebat, ada dua pria berbadan besar, keluar dari dalam gedung itu dengan sedikit terburu buru.
"Siapa mereka Zal?" Bertanya siapakah orang yang menyuruh mereka menculik Ziya.
"Entahlah, tuan"
Menelisik wajah, kedua orang tersebut.
Dari arah belakang, mereka bisa melihat anak buah Denny datang bersama empat orang polisi.
"Apakah, kalian sudah siap!"
"Siap bos"
"Baiklah, semua berpencar, carilah dulu keberadaan nona Ziya, kalau sudah ketemu, segera laporkan pada kami." Rizal memerintah, dan di ikuti anggukan kepala oleh para bodyguard nya.
Setelah semua berpencar, Aditya mulai ikut mencari. Hingga mereka sampai kedalam sebuah ruangan yang di penuhi dengan kegelapan.
Aditya semakin mengendap mencari sosok yang dua hari sangat dirindukan itu.
***Bersambung....
Selamat membaca , semoga suka ya sama cerita aku. jangan lupa like, komen dan rate juga vote
__ADS_1
Terima kasih 😊***