
"Zea!" teriak Lisa saat mendapati Zea terkulai lemah di lantai. Lisa segera membantu Zea naik ke atas ranjang. "Kenapa kau bisa tidur di lantai sih Zea." Nafasnya tersengal sebab menolong Zea, sejenak Lisa terdiam agar kekuatannya penuh kembali.
"Ada apa Nona? Mengapa No ... Nona Zea!" Nany membulatkan matanya melihat Zea nampak pucat dan terbujur di ranjang.
"Cepat bantu aku, Bi! Gosok kakinya dengan ini!" menyerahkan botol minyak untuk menghangatkan telapak kaki Zea, sedangkan Lisa juga melakukan hal yang sama pada telapak tangan Zea.
"Bagaimana ini Nona? Apa perlu kita beritahu Tuan?" tanya Nany dengan paniknya.
"Apa Tuan Marcell sudah pulang?" heran Lisa. Sungguh luar biasa pemilik rumah itu, selalu datang dan pergi bagaikan kilat saja. Hari ini di rumah dan besok keluar Negeri lalu pindah Negara lagi. Otak Lisa yang hanya sejengkal itupun tidak bisa menjangkaunya.
"Cepatlah kau panggil Tuan kemari."
tap
tap
tap
"Zea!" Dua pria berbadan tegap telah berada di hadapan Lisa. Membuat Lisa beringsut dari tempat Zea berbaring.
"Bagiamana ini bisa terjadi?" Mon menatap tajam netra anaknya. Lisa menunduk takut, bahkan meneteskan air mata.
"Mon!" Seolah Mercell meminta agar Mon tidak terlalu keras terhadap anaknya. Biar bagaimanapun kerasnya kedua pria ini, tapi bagi Marcell, perempuan tetaplah makhluk yang lemah lembut.
"Katakanlah Lisa," Marcell melihat lirikan Lisa yang sendu. Terlihat jelas bahwa gadis itu sedang khawatir.
"Aku datang Nona Zea sudah tak sadarkan diri," Setelah mengatakan itu Lisa langsung keluar kamar sambil menangis.
"Kau terlalu keras Mon, dia bukan gadis Kanada. Gadis Indonesia identik dengan hati mereka yang lembut dan rapuh. Cepatlah kejar dia, sebelum dia benar-benar akan meninggalkan dirimu." ucap Marcell.
"Tidak Tuan, saya harus memastikan Nona Zea baik-baik saja."
"Terserah padamu, tapi jangan salahkan aku, bila sesuatu terjadi nanti." Marcell sungguh heran akan sikap Mon yang tidak pernah bersikap lembut terhadap perempuan. Mungkin juga itulah yang membuat pria itu melajang hingga tua. Bahkan jika bukan karna sebuah kesalahan, Mon mungkin tidak memiliki seorang putri seperti Lisa.
__ADS_1
Tak berapa lama, datanglah dokter keluarga Anderson. Dengan sigap, dokter itu mulai memeriksa Zea.
✓✓✓
Di sebuah ruang tamu, nampak duduk dua wanita yang tengah berbincang serius.
"Nabila, apa kau tidak kasihan pada adikmu itu, kau tidak boleh mengatakan kebenarannya kepada Aditya." Wanita itu nampak bersungut-sungut, bahkan tatapan matanya menunjukkan sebuah ancaman.
"Sebab karna kasihan, aku tidak mau Ziya larut dalam penyakitnya. Aku tahu Benar, kau pasti melakukan sesuatu kepadanya, makannya dia tidak mengenal orang-orang di masa lalunya." bentak Nabila.
"Kau benar, aku memang membuatnya melupakan masa lalunya, tapi itu semua demi kebaikan dirinya. Aku mencoba menyelamatkan Ziya dari mertuanya. Maya bisa melakukan apa saja untuk melampiaskan hasratnya, termasuk membunuh Ziya. Tapi tunggu, darimana kau tahu semua itu?"
"Tentu saja aku tahu, aku bukan orang bodoh yang hanya diam tanpa menelisik," sinis Nabila.
"Maafkan aku! Tapi aku juga tidak bisa berbuat banyak. Aku memang juga sedikit mengambil keuntungan dari adikmu itu. Mau bagaimana lagi, aku harus menyelamatkan perusahaan dan ..."
"Dan!"
"Maaf sekali lagi Nabila." Marina berdiri dari tempat duduknya. Dia memandang ke arah taman yang ditumbuhi oleh aneka warna bunga. Di tata indah sedemikian rupa, hingga tumbuh subur dan mempesona.
"Waktu itu, aku ingin menengok Ziya, tanpa sengaja melihat Maya dengan orang-orang nya untuk menculik Ziya. Lampu RS sudah dimatikan. Dan beberapa orang menyelinap masuk untuk membawa tubuh Ziya. Aku sebenarnya bingung, sebab Devan berada di Zona yang tidak bisa darurat."
"Lalu, aku menyuruh beberapa orang-orangku sendiri, untuk datang dan menyelamatkan Ziya. Beruntung mereka datang tepat waktu, sampai ditempat parkiran, kami bisa merebut tubuh Ziya, dan kami juga membawa Lisa, gadis saat itu menjaga Ziya. Rupanya gadis mungil itu berusaha menyelamatkan Ziya." Marina tersenyum sinis, masih betah dengan posisinya membelakangi Nabila.
"Lalu? bagaimana Ziya bisa sampai ke tangan Tuan Marcell?"
"Awalnya, aku kebingungan hendak membawa Ziya kemana, terlebih lagi, anak buah Maya masih terus mengejar. Aku lalu memutar otak, mencari celah untuk kabur dan menghindar. Dan satu-satunya tempat yang paling aman adalah markas baru Devan. Kalau saja markas yang lama saat itu tidak dihancurkan oleh suamimu itu," sinis Marina.
"Itu karena Agung sudah menghancurkan keluarga ku. Steven balas dendam atas namaku." ketus Nabila.
"ya, ya! Dan apakah kau tahu, Maya masih saja terus mencari. Dan untungnya, esok paginya, ada sebuah kecelakaan yang menewaskan satu orang wanita yang begitu mirip dengan Ziya. Akupun memutar otak hingga seolah-olah yang tertabrak itu adalah Ziya, aku meletakkan cincin Ziya di samping wanita itu. Sejak itulah Maya tidak lagi memburu menantunya."
"Lalu!"
__ADS_1
"Perawatan di markas baru masih terlalu minim. Tapi berkat keajaiban Ziya akhirnya sadarkan diri, tapi, Ziya mengalami amnesia. Menurut dokter yang menanganinya, itu juga efek dari stress yang berkepanjangan yang dialami oleh pasien. Selain itu, Ziya juga kadang menangis dan berteriak histeris tanpa sebab."
"Karna itu, kau melakukan tindakan untuk menghapus ingatan Ziya?" Marina membalikkan badannya dan mengangguk.
"Ya! Kami memasukkan beberapa ramuan dengan bertahap. Mungkin sebagian memorynya terhapus sempurna. Tapi sepertinya, ada bagian tertentu yang masih tertinggal. Tapi selama itu tidak mengganggu mentalnya, tidak masalah."
"Beberapa hari dirawat, seseorang mengabarkan bahwa Devan jatuh ke tangan pihak musuh yang tak lain adalah Tuan Marcell."
"Bagaimana bisa Tuan Marcell menyerang?"
"Agung pernah menipu dirinya, habis-habisan sehingga dia ingin balas dendam. Namun sayangnya Agung sudah meninggal terlebih dahulu." Nabila terkesiap, sebab karna dirinyalah, Agung meninggal saat itu.
"Tuan Marcell menyandra Devan dan menyiksanya habis-habisan. Tentu saja aku yang tidak tega. Dan tanpa sengaja aku menemukan sebuah map lama yang isinya adalah tentang perjanjian bayi tabung. Akal licik ku pun kembali bekerja. Aku memanfaatkan Ziya untuk kutukar dengan Devan dan sebuah surat perjanjian."
"Kau, memang wanita ular. Selalu menggunakan segala cara untuk keuntungan pribadimu."
"Yah, anggap saja nasib baik selalu berpihak kepadaku! Tapi aku tidak seegois itu, aku juga menyelamatkan nyawa adikmu itu." Marina kini duduk di hadapan Nabila.
"Aku memang jahat, tapi tujuanku sebenarnya baik, jika saja Ziya tidak bertemu dengan keluarga aslinya, maka dia akan tetap dalam tekanan. Itu akan membahayakan jiwanya."
"Terima kasih, karnamu adikku sekarang hidup normal. Tapi aku tidak bisa mengabaikan satu hal, Aditya harus tahu yang sebenarnya. Dia adalah pemilik Ziya yang sebenarnya."
"Tapi, apakah Tuan Marcell mengetahui jika Zea adalah istri Aditya?"
Marina tersenyum tipis. "Mungkin belum, atau juga sudah. Mereka berdua sama-sama kuat. Aditya selalu menutup hal apapun mengenai istrinya. Dan Tuan Marcell juga demikian."
"Jadi!"
"Jadi, sudah dipastikan, kalau Tuan Marcell tahu, sudah ada perang bukan? Dan tidak mungkin Zafran masih bersama dirimu!"
"Dan Devan? Apakah Tuan Marcell tidak menanyakan apapun?"
"Devan hanya bercerita tentang kehidupannya bersama ibu Mila."
__ADS_1
Bersambung...