
"Jadi ada orang ketiga diantara kita? dan mas membuat ini semua untuk menyambutnya begitu, tega sekali kamu, mas." Ziya mendorong suaminya sekuat tenaga. Tapi sayangnya tidak mampu menggeser tubuh Aditya sedikit pun.
"Dengerin dulu, sayang!" mencoba meraih Ziya, yang selalu menghindari sentuhannya.
"Kau pergi saja sama orang itu! jangan dekat dekat denganku." Mengambil makanan yang di bawa oleh pelayan. Lalu memasukkan makanan itu kemulutnya kasar dan mengunyahnya sambil berdiri. Rizal dan lainnya terkikik melihat tingkah Ziya.
"Sayang, dengerin dulu dong. Karna aku sayang kalian jadi aku buat acara pesta ini."
"Owh jadi sudah sejauh itu sampai sampai kau mau mempertemukan aku dengan wanita itu!"
"Tentu saja, segalanya akan aku lakukan untuknya." Aditya tersenyum bangga.
"Kau tidak punya perasaan, apa selama ini kamu tidak mencintaiku, mas. Apa kau hanya pura pura sampai kau tega melakukan ini! Bahkan aku juga berusaha melupakan cita citaku, agar aku bisa fokus menjalani rumah tangga kita karna aku sangat mencintaimu." Ziya menangis sesenggukan, dia tidak menyangka jika Aditya berkhianat kepadanya. Itulah yang dia cerna dari omongan Rizal.
Yang lain hanya cuek pura pura tidak tahu. Kapan lagi mereka bisa menyaksikan kejadian langka seperti itu. Winda dan Syita malah memesan beberapa makanan dan mulai mencicipinya. Sedangkan Rizal pura pura sibuk dengan handphonenya.
"Apa sudah di mulai acaranya!" Diki baru saja datang karna panggilan dari Rizal sore tadi. Sedikit bingung dengan kondisi pesta yang tidak ada bahagianya sama sekali.
"Bro selamat ya." merangkul Aditya erat. "Ternyata aku kalah banyak start darimu. Kau memang." Mengacungkan jempolnya ke arah Aditya. Dia tidak menyadari jika Ziya sudah sangat kusut.
"Ziya, kenapa kau malah cemberut begitu? apa kau menginginkan sesuatu dan Aditya tidak menuruti permintaan mu?" Ziya malah memasukkan potato lebih banyak kedalam mulutnya.
"Diki, silahkan bergabung dengan yang lain. Dan maaf atas ketidak nyamanan ini." Aditya merasa tidak enak hati melihat teman temannya yang sepertinya tidak menikmati pesta.
"Ziyaaaaa! selamat ya akhirnya kamu akan menjadi ibu." Datang Rafa yang langsung memeluk Ziya dan menghujaninya dengan ciuman di ujung rambutnya.
"Hai apa yang kau lakukan pada istriku." Aditya menarik kerah kemeja Rafa.
"Hai aku ini kakaknya, jadi sah sah saja dong mau nyium atau peluk." Kedua orang berdebat tapi Ziya berusaha mencerna ucapan Rafa.
"Menjadi ibu!" cengo Ziya.
"Iya, kau akan jadi ibu dari ponakan ku. Aku akan jadi om tertampan sejagat raya ini." Rafa menggeser kursinya dan duduk berjajar dengan Ziya.
__ADS_1
"Kau harus makan yang banyak." Menyuapi Ziya dengan makanan yang ada di hadapannya.
"Hei dia istriku." Aditya tidak terima Rafa mengambil alih tempat duduknya. Dan berusaha mendorong Rafa agar berdiri.
"Ziya, bangun sebentar, kamu!" Ucap Rafa. Ziya hanya menurut dan membiarkan Rafa ganti duduk di kursinya.
"Sini, aku akan menyuapi adik dan ponakan aku sekaligus." Rafa menarik tangan Ziya dan mendudukkan di atas pahanya. Ziya yang masih bingung dengan ucapan Rafa menatap Aditya dengan nanar.
"Hai, kau ngelunjak ya." Aditya bersungut-sungut, matanya melotot tajam, andai saja tidak terhalang Ziya, sudah pasti akan mencengkeram kerah Rafa. Akhirnya dia hanya bisa meninju udara.
"Hai adik ipar duduklah dengan tenang dan nikmati pestanya." Ucap Rafa santai. Dengan kesal Aditya mendudukkan bokongnya juga.
"Ini pestaku, kenapa dia yang menikmatinya." Gumam Aditya dengan kesal.
"Kakak, kenapa kakak bilang kau menyuapi aku dan ponakanku apa maksud kakak dengan kata keponakan." Ziya masih belum bisa mencerna ucapan Rafa. Rafa malah menyuapi lagi Ziya lalu mengambikan minuman.
"Kau ini sedang hamil apa diet? kenapa badanmu ringan sekali hah! apa suamimu itu tidak memberimu makan!" Rafa mencubit pipi Ziya lembut.
"Hai kau mengambil semua hak ku!" menepis tangan Rafa dari pipi Ziya. Setelah itu mendorong meja dan mengambil Ziya dari pangkuan Rafa. Ziya seperti boneka yang di perebutkan oleh dua orang. Sedangkan para teman lainnya tengah asyik dan bercanda dengan cara mereka sendiri.
"Kita nikmati saja permainannya, kapan lagi kita bisa mengerjai Aditya kalau bukan sekarang!" Winda ikut menimpali.
"Tapi siapa yang memberi tahu Rafa tadi!" Syita ikut buka suara. Rizal hanya mengedipkan mata sebelah. Syita pun kini mengerti semuanya.
"Kalian benar benar sadis ya." Winda terkekeh.
"Mau bagaimana lagi? Aditya songong banget ngatain gua tak laku." Winda bersecih.
"Itukan fakta, kok nggak terima seh." Syita mengambil kentang goreng dan menekannya santai, tidak nggeh kalau Winda sudah murka. Menarik piring di hadapannya. Kentang itupun menggantung karna saosnya hilang.
"Pesen sendiri sana!" Winda melengos dan memakan Kentang miliknya. Syita hanya mendengus lalu memanggil pelayan.
"Lihat tuh, Aditya sok romantis."
__ADS_1
Mereka semua menoleh menyaksikan Aditya yang berusaha memberi penjelasan kepada Ziya.
"Benar sayang kau sedang hamil." Frustasi juga karena Ziya sedari tadi tidak percaya.
"Apa itu benar? tapi aku tidak mengalami morning sickness atau tanda tanda kehamilan seperti ibu hamil lainnya." Ziya masih belum percaya. Posisinya masih sama duduk di atas pangkuan Aditya.
"Benar sayang, ketika kamu pingsan kemarin itu karna tekanan darah rendah. Kata dokter kamu sedang stres makannya aku buat pesta ini agar mood, kamu baikan eh malah ricuh." kekecewaan nampak jelas di wajah Aditya. Ziya pun menangkupkan kedua tangannya pada wajah Aditya.
"Maafkan aku yang telah mencurigaimu!"
Ziya merasa bersalah, karna telah merusak kejutan yang di persiapkan oleh suaminya.
"Bukan salahmu juga, lihatlah mereka yang tidak becus mempersiapkannya." Ziya menatap teman temannya yang pura pura tidak melihat ke arahnya.
"Berarti aku akan menjadi seorang ibu." Ziya mengelus perutnya, tanpa terasa air matanya menetes.
"Kenapa kamu malah bersedih hemm? apa kamu belum siap?" Aditya mengusap air mata istrinya. Ziya hanya menggeleng.
"Justru aku merasa sangat bahagia. Terima kasih ya." Ziya memeluk suaminya.
"Justru aku yang berterima kasih, kamu mau menjadi ibu untuk anak anakku." Aditya mengeratkan pelukannya mengusap punggung istrinya dengan sayang.
"Tapi sepertinya berat badan kamu naik ya!" Ziya melepas pelukannya dan memukul dada bidang suaminya.
"Kata siapa, mas Rafa tidak bilang seperti itu?" Ziya mengerucutkan bibirnya.
"Tadi aku mau bilang seperti itu?" menunjuk Aditya. "Tapi takut kena cakaran kamu." Ucap Rafa sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Kalian tega sekali!" Ziya merajuk.
Sedangkan dari arah belakang Aditya, datang sepasang suami istri.
"Jadi ini yang kamu lakukan untuk menjerat anak saya." Ziya begitu terkejut dengan suara yang sangat familiar di telinganya.
__ADS_1
Bersambung.....