
"Ayo bangun, Sayang!" cup cup cup
"Eummh!" Aditya tertawa tanpa suara lalu mencium lagi wajah polos istrinya.
Cantik sekali, aku sudah begitu terpesona saat pertama kali kita berjumpa, kaulah bidadari senja yang membuat hidupku berwarna.
Mengelus pipi mulus istrinya, kini beralih ke hidung, mata, dagu dan terakhir bibirnya, Aditya menciumnya lembut ******* lebih lama.
Siapa sih ini ganggu saja.
"Ayo bangun" mencium lagi, "ayo bangun" mencium lagi. "Baiklah sepertinya aku harus membuka bajuku lagi, nih!" Aditya pura pura mengatakan itu.
"Iya iya aku bangun!" Ziya menyingkap selimutnya. "Aaaa aku tidak memakai baju" hendak menutup kembali tubuhnya, tapi terlambat Aditya sudah terlebih dahulu menarik selimut itu.
"Baiklah, karna kau yang terlebih dahulu menggodaku, aku tidak keberatan jika seharian ini kita akan menghabiskan waktu kita di dalam kamar," ucap Aditya sambil menaik turunkan alisnya.
"No, no aku mau mandi" langsung ngacir ke kamar mandi tanpa sehelai benang pun melekat di tubuhnya.
"Kenapa wanita hamil semakin menggairahkan saja, ya! dia begitu seksi dengan ...ah Aditya sadarlah. Kau harus menjemput mamamu hari ini." Menggelengkan kepalanya berulang kali membuang pikiran mesum yang selalu menjeratnya saat bersama sang istri.
"Sayang, aku lupa membawa handuk" teriak Ziya dari kamar mandi.
"Apa dia sedang menggodaku saat ini" Aditya meletakkan dengan kasar jus yang baru saja di minumnya.
"Keluarlah," teriak Aditya membawa handuk yang di minta sang istri. Hanya saja dia menyembunyikan satu tangannya di di balik tubuh.
"Mana handuknya" Ziya mengulurkan tangan, hanya kepalanya saja yang nyembul. Aditya semakin melancarkan keusilannya.
"Cium dulu" bibir tipis Ziya yang basah terlihat lebih menggoda.
"Jangan macam-macam, Yang! kita harus menjemput mama."
"Aku cuma satu macam, kok" seringai di wajahnya itu, ah Ziya sudah hapal betul apa maknanya.
"Cepat berikan" mulai jengah dengan keusilan suaminya.
"Sini sun dulu!" cup satu kecupan mendarat di pipi Aditya.
"Sudah, mana handukku!" Aditya menyodorkan handuk yang di bawanya, tapi saat tangan Ziya hendak menggapainya, handuk itu di tarik kembali.
"Hai apa yang kau lakukan." Ziya sudah melayang, karna Aditya secepat kilat menarik tangan Ziya hingga keluar pintu, lalu menggendongnya ala bridal style.
"Aku akan memanjakanmu hari ini."
"Tapi aku malu," menutupi dadanya.
__ADS_1
"Singkirkan tanganmu itu, aku sudah lihat semuanya, sampai hapal malahan."
"Jangan macam-macam, Yang! kita harus menjemput mama." Ziya tidak ingin kena amukan mertua judesnya itu karna terlambat. Tadi saja dia sudah frustasi karena bangun kesiangan eh malah ada halangan baru dalam bentuk Aditya.
"Makannya nurut, biar cepat selesai, aku cuma mau latihan mengurus bayiku."
Enggan sekali rasanya melewatkan pemandangan indah di depan mataku ini. Ingin rasanya aku hanya berdua di sini menghabiskan waktu seharian bersamanya. Tapi mama ah, aku tidak ingin mama semakin membenci istriku karna keegoisanku. Batin Aditya.
"Modus," cibir Ziya.
"Wajib hukumnya modus sama istri sendiri" kilah Aditya.
"Kata siapa?"
"Kataku, lah!" kini Aditya mulai memilih milih pakaian untuk istrinya itu.
"Yang, sejak kapan ada pakaian wanita di sini?" menatap takjub banyaknya pakaian wanita berada di hadapannya. Walau modelnya hampir sama, tetapi ukurannya pas di tubuh Ziya.
"Aku bisa sendiri, Sayang!" bukan tidak senang dengan perlakuan suaminya, tapi bulu kuduknya meremang. Aditya tidak hanya memakaikan baju, tapi juga sentuhan plus plus yang membuat darah Ziys berdesir.
"Sayang, kondisikan tanganmu itu, aku mohon!" wajah Ziya memerah menahan rasa yang bergejolak.
"Badanmu membuatku kecanduan." Memeluk erat Ziya, dia berusaha menetralisir nafsu yang bergelora karna ulahnya sendiri.
"Sudah, ya! nanti kita telat lho." Ziya mengelus punggung suaminya.
"Tidak tidak Tidak, saatnya kita sarapan setelah itu pergi jemput mama, Oke!" Aditya mengangguk lemah.
Sabar
√√√√√√
Syita mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kafe. Dia tersenyum tipis saat seseorang melambaikan tangan ke arahnya. Tiga makhluk berjenis manusia ini telah menanti dirinya dari beberapa menit yang lalu.
"Hai, kembaran!" ucap Tisya menyambut kedatangan saudaranya.
"Maksudnya!" Syita memang menyadari jika dia dan Tisya bermuka sama dan memiliki umur yang sama. Tapi, dia belum tahu jika dia memiliki kembaran.
"Halo, tuan! apa kabar?" menyapa Rama dengan ramah.
"Hai Rafel, kau juga ada di sini!" Syita duduk diantara mereka bertiga. Janjian dadakan ini adalah ide dari Tisya agar dia bisa berbincang bincang dengan saudara kandungnya.
"Kalian kenapa mengajakku ketemu? apakah ada hal yang serius" langsung pada intinya saja, Syita menatap mereka satu persatu.
"Syita, aku ingin meminta maaf, karna kecerobohanku menyebabkan tante Maya mengalami kecelakaan," ucap Tisya dengan mata berkaca. Setelah mendonorkan darah untuk Maya, Rama menceritakan semua kebenarannya kepada Tisya.
__ADS_1
"Hai, kenapa malah minta maaf kepadaku" Syita merasa aneh dengan permintaan maaf Tisya. Dan merasa jika ada hal lain yang membuat mereka mengajak Syita bertemu.
"Tuan, sebaiknya anda sampaikan saja apa yang menjadi tujuan anda bertemu di sini. Syita cukup pintar untuk menilai ekspresi lawan bicaranya."
"Emang gua dukun!" kilah Syita.
"Bukan, tapi mak Lampir."
"Sialan luh, ngatain gua ya." sewot Syita tidak terima.
"Sudah sudah kalian ini apa apaan seh!" Tisya menengahi. Keduanya nampak diam tapi saling melotot.
"Sebenarnya, saya ingin berbicara empat mata dengan kamu, Syita!"
Rama memberikan kode kepada Syita untuk mengikuti dirinya. Rama membawa Syita ke dalam ruang kerjanya.
Rama menyampaikan apa yang selama ini menjadi rahasia antara dirinya dan Maya. Menceritakan dari awal pertemuan mereka yang awalnya hanya sebagai partner kencan. Namun semua berubah menjadi hubungan terlarang yang serius. Hingga Maya hamil anak kembar yaitu Syita dan Tisya.
"Jadi aku bukan anak papa Denny!" Syita melorotkan tubuhnya ke lantai. Mengusap kasar air matanya di pipi.
"Iya, akulah ayah kandung, kamu!" mencoba meraih anak yang selama ini sangat dia rindukan. Berpuluh-puluh tahun lamanya dia menantikan moment ini, mendekatkan kedua putrinya dan hidup bahagia bersama mereka.
"Jangan sentuh aku!"
Bagaikan tersambar petir di siang bolong. Bukan kata itu yang di harapkan Rama dari pertemuan ini. Dia membayangkan putrinya akan memeluk dirinya dengan sayang, tapi ini.
"Aku mohon, Nak! jangan katakan itu."
"Kau dan mama telah tega menyakiti papaku. Kalian...!" Syita tidak lagi melanjutkan kata katanya.
"Syita, apa yang terjadi!" ucap Rafel saat mendapati Syita yang keluar dari ruangan Rama dengan keadaan yang kacau.
"Syita!" berlalu pergi tanpa sepatah kata.
"Syita....!"
Tisya berdiri melihat kembarannya yang berlalu tanpa sepatah kata.
"Syita, kejar dia. Aku takut dia berbuat yang tidak tidak." Rafel nampak panik.
"Syitaaa..! chiiiit gubrak...
**Bersambung....
Jangan lupa dukungannya ya please please please
__ADS_1
Mampir juga ke karya aku Rasa Di Hati**