
karya baru author telah terbit dengan judul Ngumbara Cinta.
Suara dentingan sendok seperti nyanyian pagi yang merdu ditelinga. Semua anggota keluarga Abhimanyu tengah sarapan pagi bersama.
"Jika tiap pagi kita sarapan bareng gini, sudah dipastikan Cyra bakal punya seragam baru." Celoteh gadis berseragam SMP dengan rambut diikat rendah. Kacamata menempel sempurna di hidung mancungnya. Mampu menutupi kecantikan gadis manja yang sangat disayangi keluarga.
"Nggak usah lebay. Tiap bulan juga beli seragam baru tuh." Yang ini adalah Candra kembarannya Cyra, meski masih belia, tampang maco dan cool membingkai wajah tampannya hingga banyak gadis seusia yang mengidolakannya.
"Kalau makan jangan dibiasakan sambil bicara." Ini adalah suara sang idola semua yang tidak lain adalah Andha. Anggap saja peran utama gitu. Andhra mengoles roti dengan selai kacang kemudian memakannya dengan tangan. Sambil sesekali matanya menatap ke arah layar ponsel.
Andhra sebenarnya juga suka dengan makan pagi bersama begini. Tapi dia cukup tidak tenang karena mamanya selalu menanyakan perihal jodoh. Biasalah jomblo, pasti terdengar pilu saat ditanya tentang pasangan.
"Makan yang benar Ndhra, jangan gila kerja begitu, nanti kamu sulit dapat jodoh." Kedua adiknya mengulum senyum kearah Andhra, seakan mengejek status Andhra sebagai jomblo akut. Andhra hanya menatap tajam keduanya yang disambut gelak tawa mereka. Bagaimana bisa, sejak remaja tidak pernah sekalipun Andhra jalan sama perempuan. Bahkan berita miring memfitnah Andhra sebagai kaum gay. Sungguh sadis bukan?
"Allah selalu menciptakan hambanya dengan berpasang-pasangan, Ma." Bela Cyra yang langsung ditanggapi acungan jempol Andhra. Cyra tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menyampaikan permintaannya lewat kode. Andhra mencondongkan tubuhnya ke samping, Cyra membisikkan sesuatu. Andhra nampak berpikir dan kemudian mengangguk setuju.
"Janji!" Betapa girangnya Cyra. Andhra yang super kaku ini tersenyum hangat. Menautkan kelingking miliknya dengan jari Cyra.
"Sudah sana pergi."
"Jangan lupa ya Bang!" Mengedipkan mata sebelah.
"Iya!"
Adik yang pintar dan licik.
"Tapi bukan berarti harus malas diri. Pasangan itu harus dicari." Kini Candra ikut bicara. Langsung dapat apresiasi dari Rena. Dua jempol terangkat sempurna.
"Hilang kemana Abang, apanya yang dicari?. Ingat kata pepatah jika jodoh takkan kemana. Betulkan Bang?"
"Hemmh!" Andhra menghabiskan roti yang tersisa di tangan. Kemudian mengambil lagi yang baru. Kali ini Andhra menambahkan potongan sosis dan telur juga saos.
"Kalian ini, masih kecil ikut campur saja urusan orang tua." Gerutu Rena sebab tidak punya kesempatan bicara.
"Baiklah, kalau begitu kita berangkat sekolah terlebih dahulu." Cyra berdiri dan diikuti oleh Candra.
"Kalian pergi bareng kan?" Tanya Rena.
"Tidak! Aku mau naik sepeda saja!" Tolak Cyra membuat wajah Candra berubah kecut.
"Why?" Kini Andhra angkat bicara.
"Bukankah kalian tahu alasannya apa?" Cyra malah memoyongkan bibirnya "Sudah ah, Cyra berangkat dulu" Salim pada Rena "Jangan paksa Cyra ikut mobil bersama Bang Candra. Nanti pacarnya marah!" Ketus Cyra.
Sebenarnya, alasannya adalah, Cyra tidak ingin teman-temannya tahu jika Cyra adalah orang kaya terlebih Candra yang memiliki banyak idola. Cyra tidak ingin jika ada yang berteman dengan dirinya hanya karena popularitas. Dia ingin memiliki teman yang mau menerima dirinya apa adanya.
"Kami berangkat Ma, Bang, eh papa baru datang." Cyra memeluk dan mencium pipi Rasya yang baru saja turun dari tangga. Cyra dan Candra berpamitan sebelum akhirnya pergi sekolah. "Berangkat ya pa!"
"Iya, hati-hati di jalan." Teriak Rasya sebab keduanya setengah berlari untuk mencapai pintu.
"Bareng yuk Cy!"
"Nggak! Aku lebih nyaman naik sepeda aja. Bisa sambil olahraga.
Candra menunggui saudara kembarnya yang asyik menuntun sepeda hingga keluar dari garasi.
"Sekali-kali Cy, bareng sama aku!"
"Nggak mau! Abang pergi duluan sana. Aku nggak mau dapat bullyan dari fansnya Abang." Cyra segera menggenjot sepedanya.
Masih di kediaman Abhimanyu, Andhra terlihat perdebatan kecil dengan Rena. Masih seputar pernikahan. Rena masih mendesak Andhra untuk mau melepas masa lajangnya.
"Ayolah Nak, mama tidak sabar untuk menimang cucu.Iyakan Pa?" Rasya memutar bola mata malas. Rasya sebenarnya tidak ingin mencampuri masalah sensitif seperti ini, terlebih mengangkut hati.
"Ma, berilah Andhra waktu untuk berpikir? Kita masih memiliki banyak kesempatan, iyakan, Nak," Andhra hanya mengangguk dengan perkataan Rasya.
*Untung ada, Papa! bisa berabe jika mama terus saja mendesak ku.*
Bahkan Andhra membangun rumahnya sendiri juga, karna tidak betah dengan desakan Rena. Dia selalu saja menyodorkan gadis pilihannya, walaupun tahu jika Andhra akan menolak. Masih kekeh rupanya.
"Andhra, bukankah hari ini kau ada janji dengan pihak Bank,?" Rasya mengedipkan sebelah matanya.
"Iya, mama, Andhra harus menemui mereka saat ini," ucap Andhra sedikit gugup. Beruntunglah Rasya membantu kali ini.
__ADS_1
"Yah, Papa. Kok diingetin seh. Mamakan pengen ngomong sama Andhra." Rena memoyongkan bibirnya ala Donal bebek.
"Minta di cium, ya! kok monyong gitu," Rasya menaik turunkan alisnya.
"Kamu ish, nggak malu apa sama anak?" Melirik Andhra yang nampak memilih fokus pada ponselnya.
~
~
Sampai di kantor
"Muka ditekuk gtu ada apa gerangan Bos?" Ozan sang sahabat dan juga asisten pribadi Andhra. Hanya hembusan nafas yang terdengar. "Pasti karena pernikahan!" Tebak Ozan, Andhra berhenti sejenak, lalu menoleh pada Ozan, seolah berkata bahwa 'tebakanmu benar)
"Siapa lagi yang dibawa mama Rena?"
Andhra hanya menggeleng lemah.
"Tidak ada."
"Lalu,apa yang membuatmu begini?"
"Entahlah, Si Kembar meminta di buatkan kisah hidupku saat pesta ulang tahunnya nanti.
"Itu seh, kecil." Ozan menjentikkan jari.
"Baiklah,kau urus saja semuanya. Tapi sebelum kau serahkan pada Cyra, kasihkan kepadaku dahulu."
"Baik Bos Tuan."
"Dimana Mella?" Andhra mengehentikan langkahnya tanpa menoleh pada Andhra
"Seperti yang Bos perintahkan. Mella mendapatkan ganjaran yang setimpal.
"Ini yang terakhir kali kita membuat gadis itu kesusahan."
"Apa Bos mendeklarasikan untuk berdamai dengannya?"
"Tidak ada salahnya bukan? Dia adikku. Bagaimana bisa aku berbuat demikian. Entahlah!" Andhra tergesa-gesa masuk ke dalam lift bahkan sebelum Ozan sampai, lift itu telah naik menuju lantai dimana ada ruang tempat Andhra bekerja.
Bab 19 Gadis unik
Malam harinya sepulang dari kantor.
Gerimis kecil menari dalam gelapnya malam. Genangan air berkilau diterpa cahaya lampu jalanan. Orang orang berlarian untuk berteduh. Seorang pria duduk dengan tenang di dalam mobil mewahnya. Sesekali melihat keluar, menyaksikan bagaimana hujan menyapa bumi. Andhra yang baru pulang dari kantor.
Tak sengaja dia memutar kepalanya kesamping, disaksikan olehnya seorang nenek tampak tertatih membawa bakul, ke teras toko untuk berteduh, tak berapa lama pemilik toko sepertinya marah marah, terlihat dari mimik muka dan urat leher yang mengeras. Mendorong nenek itu sampai terhuyung kebelakang. Entah mengapa tangannya mengepal melihat adegan nyata di depan mata.
Manusia sombong, tidakkah dia memiliki sedikit naluri.
Saat Andhra hendak turun datanglah lagi seorang gadis entah darimana, menangkap tubuh renta menuntun sang nenek menjauh dari toko itu.
"Berhentilah Zan!"
"Kenapa Ndhra?" Kini mereka menjelma jadi sahabat, bukan atasan dengan bawahan.
Ozan melihat dari spion, Andhra tidak hentinya melihat ke satu arah. Ozan pun turut memperhatikan.
*Sungguh mulia perangai gadis itu. Dia penolong yang murah hati.* Andhra bicara dalam hati. Di sana seorang gadis tengah menyodorkan uang untuk nenek tua.
Andhra membatalkan niatnya untuk turun, dia cukup senang melihat nenek itu ada yang menolong. Mobil berjalan lambat, rupanya lampu merah menyala. Ozan sampai jenuh karenanya. Andai saja dia punya baling-baling Doraemon.
Tak berapa lama pintu mobilnya diketuk dari luar.
"Permisi tuan!"
Gadis itu terus mengetuk pintu kaca mobil.
"Ada apa Ozan?"
"Entahlah bos, ada seorang gadis yang mengetuk kaca mobil, bolehkah saya buka bos." Andhra hanya mengangguk tanpa suara.
*Bukankah itu gadis yang tadi* batin Andra.
"Halo, terimalah ini, saya tidak mungkin menghabiskan nya jadi saya bagi dengan anda, ikannya masih bagus kok, terima kasih." Tersenyum lalu pergi setelah Ozan benar benar menerima plastik yang diberikannya.
__ADS_1
"Apa itu Zan."
"Dia bilang ikan bos." Meletakkan pemberian gadis itu di bawah, bau ikan asap tercium di indera penciuman keduanya. Ozan lalu melajukan mobilnya kembali.
"Aneh ya bos, biasanya orang berbagi makanan ringan, atau makanan cepat saji, tapi yang ini kok malah ikan."
Ozan berbicara mencairkan suasana yang hening.
"Gadis yang unik."
Bayangan gadis yang menuntun nenek terlintas di pikirannya."Andai semua orang bisa sebaik, dia." Gumamnya lagi.
"Apa bos?"
"Sudah ayo cepat pulang, aku mengantuk."
Ozan tersenyum tipis sebelum benar benar menjalankan mobilnya. Diliriknya tepi jalan dimana gadis itu hendak menaiki sebuah motor matic hitam. Ozan sempat menghafal nomer plat yang berada di motor itu.
"4172" Ucap Ozan dengan lantang. Dia menoleh ke spion, mungkin saja ada reaksi dari bosnya itu.
"Ozan, sudahkah kau tuliskan cerita yang diminta oleh si kembar?" Andhra menyandarkan kepalanya dan memejamkan mata. Heran dengan permintaan adiknya yang meminta cerita perjalanan hidupnya sebagai kado ulang tahun.
"Sudah, bos. Mungkin anda bisa membacanya sebelum diserahkan." Andhra tidak menjawab lagi. Diambilnya kotak yang di sodorkan oleh Ozan. Andhra membuka lembaran itu. Ya...cerita itu sesuai dengan umur si kembar Andhra juga menginjak empat belas tahun di kala itu.
'Kegalauan Ozan'. "Judul yang dramatis." Komentar Andhra.
Ozan memang sekonyol itu membuat judul atas namanya sendiri seperti pamer kepada si kembar bahwa dialah teman terbaik di dunia ini.
"Kenapa kau buat cerita kejadian itu juga?" Heran Andhra.
"Ibu Rena yang menyuruh, aku ikut saja. Dan tentang dirimu sebelumnya sudah si kembar dapatkan dari ki dalang (sebutan untuk Fariq)." Senang sekali bercerita, jika si kembar di ajak main ke desa.
Andhra ingat semua itu. Ingat saat pertemuannya dengan mama Rena. Hingga sampai pernikahan papa angkatnya yang juga menganggap dirinya adalah Abhi. Andhra tidak ingat kejadian setelah dirinya pingsan. Namun di buku itu diceritakan semua.
Andhra yang pingsan langsung di baringkan di teras masjid. Rasya yang marah karena dibohongi oleh Enda langsung menyuruh polisi untuk meringkusnya, atas kasus penipuan. Rasya merasa begitu shock dan juga kecewa. Dia shock karna menganggap Andhra adalah Abhi, juga kecewa karena telah menelantarkan istrinya yang hamil dan tertipu oleh kebohongan Enda.
Ozan di buat kebingungan oleh keadaan yang kacau. Pria yang dia ambil dompetnya bernama Bara. Mengintrogasi nya, menanyakan semua apa yang bocah ini lakukan hingga membuat keributan seperti ini. Ozan pun akhirnya menceritakan semuanya. Tentang Rena dan juga tentang semuanya.
"Apa ada yang keliru boss." Setelah beberapa menit lalu terdengar helaan nafas bossnya.
"Ozan, jangan ceritakan dendam yang aku miliki, Zan. Cukup aku saja yang merasakan sakit di dada ini." Memegang dadanya sambil bersandar di kursi.
Sudah begitu lama keadaan ini menimpa sang bos. Cukup memperihatinkan ternyata seorang yang sukses memiliki sakit yang tidak bisa terdeteksi oleh alat medis.
"Besok kita ke rumah prof...!"
"Tidak, Zan. Aku tidak ingin ke sana lagi. Aku akan berdoa saja di makam kakek Suluh." Ozan pun mengangguk, dia harus mengatur ulang segala aktivitas sang bos agar bisa pergi ke desa dengan tenang. Entah mengapa, segala pengobatan yang di lakukan untuk mengobati sakit dada Andhra hanya tempat itu yang menjadikannya tenang.
"Kamu beneran tidak apa apa, Ndhra?" Khawatir Ozan.
"Tidak, apakah aku terlalu pendendam dan berbuat zalim sehingga Dia menghukumku seperti ini, Zan!" Andhra masih setia menyandarkan kepalanya. Ozan sesekali melirik Andhra melalui kaca spion.
Kejadian saat dia membuat perhitungan dengan Hasma sehingga membuat Rangga masuk ke rumah sakit jiwa akibat pemilihan Gubernur yang gagal karena ulah Andhra. Andhra menyewa orang untuk menyabotase money politic untuk para pendukung Rangga. Alhasil mereka berbelok memilih calon legislatif lain. Selain itu, Andhra juga membongkar kasus penggelapan dana bansos yang melibatkan Rangga. Hal itulah yang membuat Rangga terlilit hutang karna pemilu juga untuk bayar denda kepada Negara dengan jumlah yang fantastis sedang usahanya mengalami defisit. Dan Hasma istri tersayangnya memilih kabur karna tidak tahan dengan hujatan orang orang yang kontra dengan Rangga.
"Lucu sekali bukan, karna uang apapun yang kita inginkan bisa terwujud. Apa yang tidak mungkin menjadi mungkin." Andhra memejamkan matanya tapi senyum di bibirnya itu, membuat Ozan sedikit khawatir. Dendam yang terpendam lama telah membuatnya menjadi manusia yang berbeda.
"Andhra apa kau benar baik baik saja? Kumohon Andhra lepaskan kenangan itu dan mulailah hidup baru." Andhra hanya mendesah saja. Memejamkan matanya.
Ozan menghawatirkan temannya yang mulai memegangi dada. Jika hal itu terjadi, sudah di pastikan Andhra tidak akan bisa tidur semalaman jika tidak minum obat penenang. Ozan semakin khawatir akan keadaan yang menimpa teman juga di anggap saudaranya itu. Telah berpuluh tahun lamanya kenangan itu selalu menghantui kehidupan Andhra.
Jalan semakin sepi saja mobil yang mereka tumpangi telah sampai di halaman rumah pribadi Andhra. Rumah itu memang tidak jauh dari rumah Ozan.
"Ozan aku akan pergi sendiri saja besok. Kau urus saja kantor aku akan kembali sore hari." Ozan bergeming di tempat.
"Tapi...!" Cemas Ozan karna keadaan Andhra akhir akhir ini yang kurang baik.
"Aku akan baik baik saja, Zan! Aku hanya merindukan, kakek." Lirih Andhra. Ozan menepuk bahu temannya.
"Aku pulang dulu ya." Diangguki oleh Andhra.
"Salam untuk keluargamu."
"Iya, selamat malam bos."
"Malam."
__ADS_1
To be continued