
Nabila sudah berada di rumah Aditya untuk menghadiri makan malam keluarga. Nampak mereka semua asyik berbincang bincang.
William dan Sora malam ini baru bisa hadir. Dia memiliki pekerjaan yang tak bisa di tinggalkan. Sedangkan Rafa nampak berjalan santai di belakang mereka. Melihat Ziya dan Aditya turun dari tangga dengan batik couple yang terlihat cocok untuk mereka kenakan.
Malam ini hanya acara keluarga. Dekorasi sudah tidak ada didepan rumah. Jamuan makan malam sudah tersaji sesuai permintaan Aditya. Rizal selalu tau apa yang diinginkan bosnya.
"Ziya selamat ya, atas pernikahanmu, semoga jadi keluarga sakinah mawadah warohmah."
"Terima kasih." Ziya tersipu
"Kau terlihat cantik sekali, maaf ya, papi dan mami baru bisa kemari, ada urusan yang tidak bisa kami cancel." Sora memeluk erat Ziya.
"Tidak apa apa mami." Lagian juga memang acaranya dadakan. Ziya juga tidak menyangka hari ini akan menikah."
"Aditya selamat untuk mu William menyalami lalu memeluknya."
"Ziya, ini ada hadiah kecil dari kami untukmu." Sora memberikan sebuah kotak kepada Ziya.
"Terima kasih mami." Ziya menerimanya, lalu di berikan pada Cak Ali yang tak jauh dari sana untuk disimpan.
Kini giliran Rafa yang mendekat, Aditya nampak tidak suka, tetapi membiarkan Rafa memberi ucapan selamat padanya.
Yang membuat Aditya geram adalah sikap Ziya yang tidak menolak pelukan dari Rafa. Aditya belum mengetahui hubungan keduanya, jadi dia masih dipenuhi rasa cemburu.
"Selamat ya cantik, semoga langgeng pernikahannya."
Kurang ajar sekali dia memeluk istri orang dihadapan suaminya.
"Hai, dia istriku." Menarik Ziya di sampingnya.
"Iya aku tahu, tapi dia sudah bersamaku sebelum jadi istrimu." Rafa tidak mau kalah. Aditya menggertakkan giginya. Jika saja tidak ada banyak orang, mungkin dia tidak akan menahan diri untuk menghajar Rafa.
"Sayang, kamu kenapa?" Merasakan ada perubahan raut wajah Aditya.
"Tidak apa apa." Tapi matanya masih melihat Rafa tajam, tetapi Rafa tak peduli, dia malah berjalan santai lalu duduk di sofa bergabung dengan eyangnya.
Ziya dan Aditya juga menyusul kesana.
"Cieee pengantin baru datang nih." Winda
Ziya hanya tersenyum canggung, tak sangka dia punya status istri saat ini, banyak sekali orang orang yang menggodanya.
"Sini duduk di samping eyang." Meri menepuk sofa disebelahnya.
__ADS_1
"Sini saja sama oma dan opa saja." Dirga menarik tangan Ziya, meski tidak kuat tarikannya, tapi mampu membuat Ziya duduk diantara opa dan Oma nya. Meri pun cemberut.
"Eyang sama aku saja ya."Aditya memeluk eyangnya erat.
"Kau nakal sekali, kenapa tidak bilang kalau menikah dengan Ziya hemmm, aku pasti akan buatkan pesta yang meriah!" mencubit lengan Aditya
"Ah eyang, aku tidak ingin kehilangan dia, makannya aku mengikat dia agar tidak diambil orang."
Pandangannya tertuju pada Rafa. Rafa sebenarnya merasa bahwa Aditya memusuhinya, tapi dia tidak ambil pusing, toh dia tidak merasa melakukan kesalahan apapun.
"Bagaimana kalau kita adakan resepsi pernikahan yang meriah?" Dirga melihat ke arah Ziya.
"Aku setuju, biar semua orang tau bahwa Aditya sudah menikah!" Eni "Kita akan membuat pesta termewah yang tidak pernah dilupakan semua orang."
"Aku sudah mengusulkannya kemarin ma, pa, tapi Aditya tidak mau." Maya yang baru datang menimpali.
"Bukan tidak mau ma, tapi kalau untuk saat ini Aditya lagi sibuk ngurus proyek baru di luar kota."
"Kalau Ziya bagaimana menurutmu?"Eni meminta keputusan Ziya. Dengan senyuman yang mengembang. Semua orang melihat ke arah Ziya, sedangkan Maya memberi kode agar mau diadakan resepsi pernikahan.
"Akuuu..." Ziya melirik Aditya yang pasang wajah datar saja.
"Aku terserah sama Mas Aditya saja."
"Tidak tidak tidak, aku mau harus ada resepsi pernikahan." Maya menegaskan.
"Tapi opa...! keadaan perusahaan Aditya saat ini mengalami kesulitan, Aditya harus fokus menangani itu dulu.
"Tidak masalah, kau urus perusahaan, kami akan urus acara resepsi." Meri
"Oke, karna semua sudah diputuskan, mari kita mulai acara makan malamnya, silahkan. Aku akan memanggil yang lain." Maya pun berlenggang pergi.
Aditya masih duduk di sofa, Ziya yang hendak mengikuti yang lain akhirnya berputar lagi menghampiri majikan yang sekarang berstatus suaminya itu.
"Sayang, apakah ada yang kau pikirkan saat ini?" Terlihat dimatanya Aditya sedang melamun.
"Ah tidak, semua baik baik saja." Aditya mencoba tersenyum, tapi Ziya masih bisa melihat, raut wajah kecemasan Aditya.
"Jika kamu keberatan dengan keputusan eyang, aku akan bicara padanya lagi nanti."
"Tidak Ziya, bukan itu?" memeluk Ziya dengan erat, reflek Ziya pun mengelus punggung Aditya lembut.
"Sayang, apakah benar semua baik baik saja?" Ziya merenggangkan pelukannya dan menatap manik mata Aditya.
__ADS_1
"Semua baik baik saja sayang, tidak ada hubungannya dengan resepsi pernikahan."
Menangkup kedua pipi Ziya dan memberi ciuman disana. Walau hati Ziya masih belum menerima, entah mengapa tubuhnya membiarkan Aditya menyentuhnya. Bahkan dia juga ikut menikmati.
Belum juga Aditya selesai dari aksinya, Rizal, Diki, Doni, yang hendak ke meja makan, melewati mereka. Diki yang berada paling depan, menghentikan langkahnya, Rizal dan Doni yang memiliki rem cakram ikut berhenti secara otomatis.
"Ekhemm." Diki
"Uhuk uhuk uhuk." Doni
"Nyamuk gede banget ya." menepuk udara dengan kedua tangan beberapa kali.
Aditya mendengus, sedangkan Ziya memerah mukanya sebab malu.
"Kalian kurang kerjaan ya, mengganggu saja."
"Hai, kau yang tidak punya adat, kalau mau anu anu lihat lihat tempat dong." Diki menjawab. Ziya makin malu dibuatnya.
"Kamu saja yang sebagai tamu tidak punya sopan santun, datang kerumah orang nggak permisi."
"Eh lu ya." Telunjuk Doni terangkat. Tapi Aditya sudah menggandeng tangan Ziya dan pergi dari sana.
Semua sudah duduk rapi di meja makan. Denny berdiri dan menyambut para tamunya.
"Selamat malam semuanya, yang terhormat para orang tua kami, eyang Meri, opa Dirga dan oma Eni. Tak lupa saudara saudara jauh dan dekat saya, tante, paman, bude dan pakde dan semuanya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.
Sebelumnya, saya minta doa restu untuk kedua mempelai, anak kami, agar langgeng pernikahannya, sakinah mawadah warohmah, dan terlebih semoga saya juga bisa cepat diberi momongan, bukan begitu sang pengantin." Mengedipkan mata pada pasangan baru itu.
"Dan ketiga saya minta maaf karena acara yang dadakan, membuat ah yang benar seh memaksa kalian ya, untuk menghentikan aktivitas kalian, untuk datang kerumah kami. Kami sekeluarga, mengucapkan beribu ribu terima kasih atas waktu luangnya. hehe
Sebenarnya saya juga terkejut dengan pernikahan ini, tiada Angin tiada hujan, anak kami mengambil keputusan untuk menikahi seorang gadis. Kami pikir, dia hanya main main hahaha. Eh ternyata tidak, kamipun dibuat pusing olehnya. Tapi saya bangga dengan anak saya, karna dia telah berani mengambil keputusan yang tepat, untuk menghindari fitnah." Semuanya bertepuk tangan, Aditya memegang tangan Ziya dibawah meja. Senyum terukir dari keduanya.
Sepertinya sang pengantin sudah jenuh dengan acara ini, biasakan pengantin baru pengen nya cepat masuk kamar." Diikuti gelak tawa yang lain.
"Tadi malah sempat pemanasan paman."
Semua pun menoleh kearah Doni
"Uupsss...!
**Bersambung...
Selamat membaca, author minta tumbal ya..biar lancar update nya
__ADS_1
tumbalnya...berupa like, komen, vote, dan rate
Terima kasih love you all**