
"Jadi, kau adalah kak Devan." Terdengar suara dari arah belakang. Marina dan Devan pun menoleh. Padahal cerita Devan belum berakhir.
"Bintang kecil!"
"Ziya!" Marina lirih Devan dan Marina keduanya saling menatap." Bagaimana bisa, kau keluar!"
"Pintunya tidak, kau kunci!" Marina menyorot mata tajam kepada para pengawalnya. Tapi para pengawal hanya diam di tempat.
"Kalian mulai membangkang peritahku, sekarang hah! cepat tangkap dia dan kunci kembali."
Semua hanya bergeming di tempat, bahkan mereka menunduk di tempat. Marina menatap liar kearah anak buahnya, lalu beralih pada pria di depannya yang nampak tersenyum.
"Kalau marah, kau semakin cantik." menoel pipi Marina. Ziya yang berada di sana mencoba menebak, ada hubungan apakah di antara keduanya.
"Mas Devan, kau sudah lama tidak pernah pulang, lalu, kau ada di sini bersama Marina! Adakah sesuatu yang mau kau jelaskan padaku." Ziya membuka suara, sedangkan Marina masih sangat kesal dengan para anak buahnya yang pembangkang.
"Hai, kamu mau kemana!"
Gerak gerik Marina yang ingin menghajar anak buah pembangkang itu, di baca oleh Devan. Sesegera mungkin Devan menghalangi Marina dengan tubuhnya.
"Devan, apa ini semua ulah, kamu! kau telah menguasai mereka."
"Pintar! sebaiknya kita duduk dulu, dan bicara. Bintang kecilku kemarilah, kau pasti merindukan aku."
Merentangkan kedua tangannya. Ziya reflek mendekati Devan dan memeluknya.
Marina hanya diam di tempat menyaksikan adegan yang menurutnya lebay. "Sudah acara pelukannya kan. Cepat duduk sini." Dengan angkuh Marina duduk di sofa. Sebenarnya ada rasa tak suka saat Ziya memeluk Devan.
__ADS_1
Sedangkan Ziya begitu bahagia bisa di pertemukan lagi dengan Devan sang kakak yang lama meninggalkan rumah. Ziya berdecak kagum dengan perubahan kakak laki lakinya. Mereka berdua masih berada dalam dunia lepas kangen tak memperdulikan Marina yang mulai jengah dengan kelakuan mereka.
"Waoooow! ck ck ck sekarang kau begitu memukau." mengacungkan dua jempolnya. Devan adalah sosok pria menarik, wajahnya tidak begitu putih hingga terkesan manis postur tubuhnya yang tinggi dan kekar, siapa saja yang melihat pasti akan tergoda.
"Owh tentu, siapa dulu dong." memutar badan dan bergaya bak seorang model, hingga terakhir menaikkan kerah jaketnya.
"Hahahaha! masih suka narsis ih. Malu mas sama semut, dia aja ketawa lho." Marina mengulum senyum melihat interaksi keduanya. Entah mengapa, dia merasa suasana berubah hangat.
"Ayo sini duduk! hormati tuan rumah." Devan menarik tangan Ziya. Marina hanya menghembuskan nafasnya, merasa di kacangin.
"Oke! sekarang, mas harus cerita kepadaku, bagaimana mas bisa kenal Marina. Dan apa tadi, apakah benar mas menghamili Marina?"
"Satu satu dong nanyanya." Jawab Devan.
"Aku menghamilinya karna, dia menggodaku." Jawab Devan santai. Sedangkan mata Marina melotot mendengar jawaban Devan.
"Ziya, jangan dengerin, dia. Oke!" Marina malah memilih kata itu.
"Hai, benarkan, aku ngomongnya, kamu yang waktu itu merayu, aku untuk melakukannya." Devan ya nggak ada etika tuh mulut.
"Ya...setidaknya, kamu menolak kan bisa. Saat itu yang sadar kan, kamu! Aku yang lagi mabuk mana tahu omong apa." Pipi Marina sudah memerah sebab kesel dan juga malu mengingat kejadian malam itu. Terlebih kini membahasnya di hadapan Ziya.
"Yah lawong ada makanan empuk di depan mata ya tinggal lahap aja. Eh ternyata enak banget." Devan mengedip ngedipkan matanya ke arah Marina.
"Hemmh virus bangsa Eropa." Ziya berucap pendek menyindir kedua orang yang tanpa sengaja mengumbar aib mereka.
"Enak tahu!" Devan santai.
__ADS_1
Ziya mengernyit, menatap Devan lebih lama. Ternyata kakaknya lebih gak bener dari yang, dia duga.
"Jangan liatin sampek gitu juga kali Ya...! Gue gini cuma sama, dia aja kok."
"Sama aja mas, biar satu atau berapapun tetap namanya zina."
"Eh, kamu juga kenapa nikah nggak nunggu aku pulang." ganti Ziya yang kena pertanyaan sekarang.
"Mana sempat, semuanya serba dadakan." Ziya nyengir.
"Sampai segitunya, dia mencintaimu, Ziya. Dulu, dia menjalin hubungan denganku. Tapi tidak pernah memperlakukan aku seperti yang, dia lakukan untukmu." Ziya hanya tersenyum.
"Owh ya, seperti apa hubungan dirimu, dengan suamiku dulu." Ziya antusias ingin tahu. Padahal ya aslinya cemburu.
🍒🍒🍒
"Bagaimana perkembangan pencarian Ziya, kau temukan istriku?" Ketika dilihatnya Rizal masuk ke dalam ruangan. Kini mereka berada di rumah.
"Belum, tuan!"
"Kau bisa kerja nggak seh Zal." Cemooh Aditya. Yang frustasi karena istrinya belum juga ketemu. Perasaannya sangat khawatir saat ini. Tak berapa lama, handphone Rizal berdering.
"Ya,
..................
"Apa..! di mana mereka sekarang." Rizal nampak serius mendengar omongan orang yang di seberang.
__ADS_1
. Bersambung......