Gadis Pembayar Hutang

Gadis Pembayar Hutang
Season 2 Chapter 2 21+


__ADS_3

Seorang gadis cantik yang memiliki rambut blonde baru saja turun dari mobil mewahnya. kacamata besar yang menghiasi bagian wajahnya, dia buka ke atas dan di biarkan bertengger di atas kepala. Kini gadis itu telah berdiri tegak di depan sebuah gedung perhotelan bintang lima.


"Cari tahu, dimana kamar Brother." ucap gadis itu tanpa menoleh kepada dua bodyguard yang berada di belakang tubuhnya. Dengan sigap kedua pria berbadan kekar itupun menemui resepsionis. Sedangkan gadis berambut blonde itu mengikuti mereka sambil memainkan rambutnya yang panjang terurai.


Sepertinya bodyguard itu mengalami kesulitan dalam mengorek informasi, gadis itupun mendekat.


"Apa kau tahu siapa saya?"


"Putri dari Tuan Anderson!" bisik bodyguard ke telinga resepsionis. Secara otomatis resepsionis itupun memberitahu dimana orang yang dicari itu berada.


Tap ... Tap ... Tap


Suara high heels menggema seiring langkah jenjang sang pemiliknya, menyusuri koridor menuju kamar yang ditunjukkan oleh resepsionis.


"Ketuk pintunya!" titah gadis itu sambil memainkan kuku tangannya.


Selang berapa lama pintu belum juga terbuka.


Ternyata, di dalam sana ada dua sosok manusia berbeda genre yang sedang menyalurkan hasratnya penuh nafsu. Pantas saja tidak ada respon untuk membukakan pintu.


"Mike!" suara perempuan itu tersengal seirama hentakan dari pria bernama Mike.


Ya dialah Mike Anderson, kakak dari gadis yang mencarinya di luar.


"Ah ... !


"Mike!"


"Aku hamp_" Mike tidak membiarkan bibir itu berucap lagi. Mike yang terkenal Cassanova memang raja ranjang yang mampu membuat lawan mainnya tepar tanpa ampun. Permainannya tak jarang membuat para gadis bertekuk lutut di hadapan dirinya. Bahkan tak jarang pula para gadis melemparkan tubuh mereka secara cuma-cuma.


"Lihatlah, belum apa-apa kau sudah tidak berdaya!" ejek Mike. Mike mencabut paksa barang miliknya padahal gadis di bawahnya, hampir saja mencapai puncak.


"Aku mohon Tuan, tuntaskan lah!" pinta gadis itu memohon. Dan meraba-raba semua tubuh Mike. Tapi Mike sudah tidak nafsu lagi, sebab lawan main yang Mike anggap tidak seimbang.


"Tuan, Mike!"


"Kau payah!" Mike melempar sejumlah uang kepada gadis itu. Sedangkan Mike yang sudah tidak berminat lagi, memakai celananya kembali. Mike akan menghukum lawan main yang tidak sanggup membuatnya puas. Salah satunya adalah mengambil kenikmatan yang hampir saja meledak.


"Aku tidak ingin uang, aku ingin dipuaskan," rengek wanita itu lagi dengan mata sayu.


"Aku tidak mau wanita stupid," mendorong gadis itu hingga terpental.


Tentu saja ucapan Mike mampu membuat gadis yang bekerja sebagai pemuas nafsu itu hatinya terluka, Dia sudah berusaha sekuat tenaga, tapi tetap saja segala cara tidak mampu membuat Mike puas. Padahal dia sudah berusaha selama tiga jam melayani Mike. Hanya umpatan dan kekesalan dari Mike yang di dapat. Ternyata benar kabar yang beredar bahwa Mike sangat sulit di taklukan dalam urusan ranjang.


"Keluar kau!" tatapan elang Mike membuat gadis itu menyadari nyawanya dalam bahaya. Mike mampu melukai lawan mainnya juga jika menentang kehendaknya. Dengan terburu-buru gadis itu memakai pakaiannya dan segera keluar. Mungkin gadis itu harus menuntaskan hasratnya dengan yang lain.

__ADS_1


"Sepertinya kau tidak lebih agresif dariku. Bersiaplah kecewa, sebab Mike tidak puas hanya dengan seratus gaya!" ketus gadis itu lalu pergi. Zea menatap sinis gadis itu dan menggeleng.


Gadis yang berprofesi sebagai sister dari Mike hanya menggidikkan bahunya. Gadis itu masuk ke dalam kamar dan meninggalkan kedua bodyguard nya di luar.


"Zea, kau di sini?" tanya Mike, masih menggunakan celana boxer saja.


"Mike, Mom menyuruhku untuk menjemputmu pulang." Yang di panggil Zea itu duduk di atas meja, menumpuk kedua paha, mengambil wine milik kakaknya dan meminumnya langsung dari botol.


"Aku tidak mau!"


"Jangan keras kepala!" tegur Zea.


"Kau pasti tahu apa alasan Momy memintaku untuk pulang," Mike mengambil botol dari sang adik dan meminumnya.


Zea hanya diam memainkan kuku-kuku cantiknya.


"Tidak ada gadis yang mampu memuaskan ku di ranjang." keluh Mike.


"Cih, itu karna kau tidak mencintainya. Pulanglah! Mom tidak akan memaksa pertunangan mu." jawab Zea santai.


"Apa kau berusaha merayu aku agar mengikuti kemauan Dady dan Momy?" selidik Mike.


"Tentu!"


"Aku tidak menyukai gadis itu."


"Pulanglah! Akan aku pastikan gadis pilihan Dady dan Mom menangis di tempat pesta," Kemeja itu kini sudah melekat pada tubuh Mike.


"Apa yang kau rencanakan?"


"Hanya permainan anak kecil," ucap Zea begitu santai. Sambil memutar benda pipih di tangannya.


"Maksudmu!" Mike tahu benar, jika Zea bicara, pasti sudah membuat sebuah rencana.


"Gadis itu sudah hamil anak kekasihnya yang bernama Dellon. Aku sudah mempunyai bukti tentang itu, jadi santai sajalah. Orang tuanya hanya ingin sebuah kontrak kerja."


"Apa kau yakin, bisa membereskan semuanya sebelum acara!"


"Kau masih meragukan ku?" Zea memutar bola matanya malas.


"Ya, kau memang Princess ayah."


"Oke, pulang?" Zea mengangkat tangannya untuk tos. Di balas oleh Mike.


"Tunggu aku sebentar lagi." senyum ceria tidak bisa Zea sembunyikan lagi.

__ADS_1


"Lima menit," Zea berjalan anggun keluar kamar.


✓✓✓


Di Indonesia.


"Masuk!" seorang pemuda masuk dengan santai lalu duduk di sofa.


"Sampai kapan aku menunggu!" tanpa basa basi lagi langsung mencerca dengan pertanyaan.


"Kenapa kau selalu terburu-buru!" jawab Pria yang di tanya.


"Apa kau bilang!" pria muda itu bangkit dan mencengkeram jas lawan bicaranya.


"Katakan dimana anakku!"


"Tuan A_A_ditya ... !" yang disebut Aditya melempar badan orang itu ke kursi hingga terdorong sampai ke belakang.


"Katakan!" desak Aditya semakin menggila. Kali ini dia memporak-porandakan apa saja di atas meja. Bahkan mengambil pistol dan menodongkan senjata itu ke kepala pria paruh baya itu.


"Cak Ali, Cak Ali masih hidup dan tahu semuanya!" Aditya menendang kursi itu dan terpental ke dinding.


"Tuan!" Rizal tiba-tiba datang dengan membawa sebuah tablet.


"Katakan!"


"Tuan Denny sering berkunjung ke desa ini sebelum beliau meninggal Tuan!" ucap Rizal yang kini menunjukkan benda pipih yang dia pegang.


"Kita pergi ke sana!" titah Aditya kemudian. Dan berjalan terlebih dahulu. Rizal menatap nanar semua kekacauan yang dibuat oleh bosnya.


"Tuan!" ucap orang yang masih sibuk menata deru nafasnya itu.


"Obati lukamu dan juga hatimu. Jangan sekali-kali kamu ikut campur urusan sang Bos, atau kepalamu akan terpisah dari badan!" Seorang OB pria datang ke ruangan.


"Bersihkan kekacauan ini." ucap Rizal kemudian.


"Baik Tuan!" OB itu mulai memungut kertas-kertas yang berserakan.


"Rizal! Awasi terus si tua itu!"


"Baik Tuan!" Rizal menarik nafas pelan sebelum mengemudikan mobilnya.


Kau mudah sekali tersulut emosi Tuan, padahal dia hanya hama di ladang padi.


Dan di lantai setelah Aditya meninggalkan gedung, pria paruh baya itu menelpon seseorang.

__ADS_1


"Dia sudah tahu kemana Tuan Denny menyembunyikan Cak Ali."


Bersambung....


__ADS_2